Lebih lima ribu orang masih hilang akibat banjir dahsyat Nepal

Jeffry Wuisan
Sabtu, 26 September 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 26/9/26 (Kathmandu): Sebanyak 5.285 orang masih dinyatakan hilang,  sebulan setelah banjir dahsyat akibat longsornya gletser pegunungan Himalaya ke  sungai Bhotekoshi, Nepal.


Pada hari-hari setelah bencana, keluarga dan kerabat dari mereka yang hilang menempelkan foto dan pengumuman di dinding Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan di Maharajgunj dan Pusat Trauma Nasional.

Para keluarga berharap pemasangan foto itu akan membantu upaya pencarian dan identifikasi.

Meski begitu, hingga kini orang-orang yang hilang itu belum ditemukan.


Foto-foto mereka masih ada di sana. Terkena terik matahari dan hujan, beberapa di antaranya mulai terkelupas dari dinding, memudar, dan robek.

Setelah berbagai upaya dilakukan untuk melacak orang yang mereka cintai belum membuahkan hasil, beberapa keluarga terpaksa melakukan upacara pemakaman menggunakan jasad simbolis yang terbuat dari rumput kusha.

Menurut Badan Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal, jenazah 1.453 orang yang terjebak banjir telah ditemukan. Tetapi beberapa di antaranya masih belum diidentifikasi.

Sejauh ini, sampel DNA telah dikumpulkan dari 2.060 orang untuk membantu mengidentifikasi orang hilang.

Peringatan bagi dunia

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyoroti banjir di negaranya, kerentanan iklim dan risiko Himalaya saat ia berpidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Ia juga meminta dukungan internasional yang lebih besar untuk ketahanan dan rekonstruksi negaranya yang dilanda bencana banjir dahsyat 27 Agustus 2026 lalu.

Dalam pidatonya di PBB pada 24 September, Shah memaparkan banjir Bhotekoshi di Nepal yang dahsyat baru-baru ini, sebagai dampak serius dari krisis iklim dan peringatan bagi dunia.

Ia menarik perhatian komunitas internasional karena korban jiwa yang besar dan harta benda yang disebabkan bencana tersebut, serta dampaknya terhadap infrastruktur fisik termasuk mata pencaharian rakyatnya.

Ia mengatakan Nepal berada di garis depan krisis iklim. Meskipun menyumbang kurang dari 0,1 persen emisi gas rumah kaca global, negaranya menderita dampak yang tidak proporsional dan parah akibat perubahan iklim.

Perubahan iklim, katanya, bukan hanya masalah kemanusiaan bagi Nepal tetapi juga keadaan darurat pembangunan.

Shah juga menyoroti dampak perubahan iklim terhadap ekologi Himalaya, dengan mengatakan mencairnya gletser dan lapisan es abadi meningkatkan risiko longsoran es-batu, banjir, dan tanah longsor.

“Perubahan iklim tidak seharusnya dijadikan subjek konflik geopolitik”, tegas Shah, seperti rilis The Kathmandu Post.

Ia menekankan solusi harus dicari berdasarkan tanggung jawab bersama dan solidaritas.

Shah mengatakan negara-negara yang secara historis menyebabkan krisis iklim dan memiliki sumber daya serta kemampuan, harus memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk mengatasinya.(P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan