
Penjualan bensin eceran di Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Sabtu (26/9/26). (‘Courtesy’ Antara/Susanti Sako)PRIORITAS, 26/9/26 (Gorontalo Utara): Harga Pertalite yang dijual secara eceran di sejumlah wilayah Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, mengalami kenaikan cukup tinggi. Di Kecamatan Anggrek, harga bensin eceran mencapai Rp25.000 untuk botol berisi 1,5 liter atau setara sekitar Rp16.650 per liter.

Kenaikan harga tersebut dikeluhkan warga karena sebagian masyarakat masih bergantung pada penjual BBM eceran, terutama mereka yang tinggal atau bekerja cukup jauh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Seorang warga Gorontalo Utara, Muhammad, mengatakan harga Pertalite eceran di Kecamatan Anggrek sebelumnya berada di kisaran Rp18.000 untuk botol berukuran 1,5 liter. Kini harga tersebut meningkat menjadi Rp25.000 per botol.
Sementara untuk kemasan satu liter, harga yang sebelumnya sekitar Rp12.000 naik menjadi Rp15.000 per botol. Kenaikan itu dinilai cukup membebani masyarakat yang membutuhkan BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Kenaikan harga BBM eceran juga dirasakan oleh pengemudi becak motor atau bentor di Kecamatan Tomilito. Salah seorang pengemudi, Untun Lanio, menyebut harga di tingkat pengecer bervariasi, mulai Rp18.000 hingga Rp22.000 untuk setiap botol berisi 1,5 liter.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional pengemudi bentor. Namun, hingga kini tarif sewa bentor masih dipertahankan karena kenaikan tarif juga harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat sebagai pengguna jasa.
Untun mengatakan pengemudi bentor berada dalam posisi sulit karena kenaikan biaya bahan bakar belum secara otomatis dapat dibebankan kepada penumpang. Tarif perjalanan umumnya masih berdasarkan kesepakatan antara pengemudi dan penumpang.
Ia berharap harga BBM eceran kembali normal sehingga tidak semakin menambah beban masyarakat. Keberadaan penjual BBM eceran, kata dia, cukup membantu masyarakat di wilayah yang lokasinya jauh dari SPBU.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Gorontalo Utara Mohammad Fader Zubedi mengatakan pemerintah melakukan pengawasan terhadap distribusi BBM bersubsidi melalui satuan tugas yang telah dibentuk.
Pengawasan dilakukan di seluruh SPBU untuk memastikan penyaluran BBM bersubsidi berjalan sesuai ketentuan dan tidak disalahgunakan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan tangki modifikasi untuk membeli BBM bersubsidi dalam jumlah yang tidak sesuai peruntukan.
Fader menjelaskan pembelian BBM menggunakan wadah seperti galon masih dapat dilakukan untuk kebutuhan tertentu, termasuk bagi nelayan dan petani, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku. Namun, penggunaan tangki modifikasi untuk mendapatkan BBM bersubsidi dinilai merupakan pelanggaran.
Khusus petani dan nelayan, pembelian BBM bersubsidi juga harus disertai surat rekomendasi dari instansi terkait. Mekanisme tersebut diterapkan untuk memastikan BBM bersubsidi diterima oleh kelompok masyarakat yang memang berhak.
Melansir Antara News, kenaikan harga di tingkat pengecer perlu dibedakan dengan harga resmi Pertalite di SPBU. Pertamina Patra Niaga sebelumnya menegaskan bahwa penjualan BBM secara eceran maupun melalui Pertamini tidak termasuk dalam jaringan distribusi resmi Pertamina.
Karena itu, harga yang ditetapkan pedagang eceran tidak menjadi acuan harga resmi Pertamina. Masyarakat yang membutuhkan Pertalite disarankan melakukan pengisian langsung di SPBU resmi untuk memperoleh BBM dengan harga sesuai ketentuan.
Pertamina juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying. Masyarakat diminta membeli BBM sesuai kebutuhan sekaligus memastikan pengisian dilakukan melalui saluran resmi.
Di sisi lain, Pertamina menyatakan terus memantau stok dan realisasi penyaluran BBM untuk menjaga kelancaran distribusi. Masyarakat yang menemukan kendala pelayanan maupun dugaan pelanggaran dalam penyaluran BBM dapat menyampaikan laporan melalui Pertamina Contact Center 135. (P-*/Ant/sm)

