Oleh: Agustinus "Jojo" Rahardjo (Dosen Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Universitas Atma Jaya Jakarta)
PRIORITAS, 22/8/26 (Jakarta): Ada sesuatu yang patut diapresiasi dari langkah Bareskrim Polri bersama Polda Kepulauan Riau membongkar dugaan jaringan narkoba di Batam.
Puluhan orang diamankan. Sejumlah tempat hiburan malam disegel. Jaringan kemudian dikembangkan. Basri Lewaimang yang sebelumnya masuk daftar pencarian orang bahkan berhasil ditangkap di Johor Bahru, Malaysia. Sementara Yuwanky ditetapkan sebagai buron alias masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Penyidik pun mulai menelusuri aset-aset yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut.
Ini bukan perkara kecil.
Sebab, jika benar dugaan penyidik bahwa peredaran narkoba telah menjadi bagian dari bisnis tempat hiburan malam, maka yang sedang dihadapi bukan sekadar bandar, pengedar, atau pengguna.
Yang sedang dihadapi adalah sebuah ekosistem kejahatan. Dan ekosistem tidak bisa diberantas dengan sekadar menyegel pintu sebuah klub.
Batam bukan sekadar kota hiburan
Batam mempunyai posisi geografis yang sangat strategis. Dekat dengan Singapura dan Malaysia, menjadi pintu perdagangan internasional, sekaligus menjadi salah satu wajah Indonesia yang paling terbuka terhadap lalu lintas orang dan barang dari luar negeri.
Posisi strategis itu adalah berkah. Tetapi pada saat yang sama, ia juga dapat menjadi celah bagi kejahatan lintas negara.
Karena itu, persoalan narkoba di Batam tidak boleh diperlakukan sebagai operasi rutin: datang, gerebek, tangkap, segel, konferensi pers, lalu selesai.
Tidak boleh.
Kalau jaringan yang dibongkar memang besar, maka pertanyaan berikutnya harus jauh lebih besar pula. Dari mana barang itu masuk? Siapa pemasoknya? Siapa distributornya? Siapa yang menjadi penghubung? Siapa yang menikmati keuntungan? Bagaimana uang hasil kejahatan dicuci? Siapa saja yang selama ini mengetahui tetapi memilih diam?
Dan yang paling penting: apakah jaringan itu berhenti pada orang-orang yang sudah ditangkap? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus dijawab.
Jangan sampai hanya “tebang pilih”
Di sinilah kewaspadaan publik menjadi penting.
Jangan sampai operasi pemberantasan narkoba justru menimbulkan persepsi bahwa aparat hanya membersihkan satu kelompok, satu manajemen, atau satu kawasan, sementara tempat-tempat lain yang juga berpotensi menjadi lokasi peredaran narkoba berjalan seperti biasa.
Kita tidak mengatakan tempat lain pasti terlibat. Sama sekali tidak. Justru karena itu, aparat harus bekerja berdasarkan bukti dan hukum.
Tetapi prinsipnya sederhana: Kalau narkoba adalah musuh, maka musuhnya harus diburu berdasarkan bukti—bukan berdasarkan siapa pemilik tempatnya, siapa pengusahanya, atau siapa kelompoknya.
Kalau ada tempat hiburan malam lain yang menjadi bagian dari jaringan narkoba, bongkar. Kalau tidak ada bukti, jangan disentuh. Itulah negara hukum.
Pemberantasan narkoba tidak boleh berubah menjadi perang terhadap kelompok usaha tertentu. Tetapi juga jangan sampai hukum hanya tajam kepada mereka yang kebetulan sedang berada dalam bidikan.
Jangan berhenti pada bandar
Ada pelajaran penting dari kasus Batam ini.
Jika narkoba bisa beredar dalam jumlah besar di tempat hiburan malam, maka tidak cukup hanya menangkap orang yang kedapatan membawa atau menjual narkoba. Aparat harus membongkar rantai komandonya. Sebab bandar besar tidak bekerja sendirian.
Ada pemasok. Ada kurir. Ada pengedar. Ada orang yang mengatur distribusi. Ada orang yang menyediakan tempat. Ada orang yang mengamankan operasi. Ada sistem pembayaran. Dan pada akhirnya, ada uang dalam jumlah besar yang harus berpindah tangan.
Karena itu, penyidikan perkara narkoba harus berjalan beriringan dengan penelusuran tindak pidana pencucian uang. Jangan hanya menghitung berapa gram sabu atau berapa butir ekstasi yang disita. Hitung pula berapa banyak uang yang dihasilkan. Telusuri rekeningnya. Telusuri asetnya. Telusuri propertinya. Telusuri kendaraan dan bisnisnya. Telusuri siapa yang menerima manfaat akhirnya.
Sebab narkoba bukan hanya kejahatan terhadap kesehatan dan generasi muda. Narkoba adalah bisnis. Dan bisnis narkoba harus dihantam pada sumber uangnya.
Menariknya, layar kaca sedang bercerita tentang hal yang hampir sama
Pada saat publik Batam menyaksikan pembongkaran jaringan narkoba di tempat hiburan malam, ada kebetulan yang menarik.
Di platform vidio.com sedang tayang Jakarta Undercover: Members Only, episode barunya hadir setiap hari Jumat. Series ini merupakan sebuah ’crime drama’ yang membawa penonton masuk ke dunia gelap di balik kemewahan hotel dan klub eksklusif. Tokoh utamanya, Sita, seorang jurnalis yang menyusup ke Golden Sunrise untuk mencari kebenaran. Ia mencari penyebab mengapa kakaknya, Tania, bisa meninggal dunia setelah bekerja di klub yang serba tertutup itu.
Tentu saja, Batam adalah dunia nyata, sementara Jakarta Undercover adalah karya fiksi. Tetapi keduanya memberikan satu pertanyaan yang sama:
Apa sebenarnya yang terjadi di balik gemerlap dunia malam? Lampu klub boleh menyala terang. Musik boleh berdentum sampai pagi. Orang-orang boleh datang dengan pakaian mahal dan mobil mewah.
Tetapi di balik gemerlap itu, negara tetap harus memastikan tidak ada bisnis narkoba, perdagangan manusia, prostitusi ilegal, perjudian, pencucian uang, ataupun kejahatan terorganisasi yang bersembunyi di balik bisnis hiburan.
Jangan sampai dunia nyata lebih gelap daripada cerita di layar kaca.
Polisi jangan berhenti pada konferensi pers
Polisi layak mendapat apresiasi ketika berhasil menangkap jaringan besar. Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Polri, Irjen Nunung Syaifuddin datang langsung ke kota berjuluk ’Singapore van Riouwarchipel’ ini.
Agendanya menghadiri pemusnahan barang bukti narkoba, memimpin jumpa pers penyegelan klub malam, hingga mengingatkan pengusaha tempat hiburan dan gelanggang permainan (gelper) agar tidak menjalankan aktivitas yang melanggar hukum. Jenderal Nunung tampil dalam konferensi pers berdampingan dengan Kabid Humas Polda Kepri Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona Pricilla Ohei.
Tetapi apresiasi publik tidak boleh membuat aparat berhenti bekerja. Justru setelah konferensi pers selesai, pekerjaan sesungguhnya dimulai. Sebab publik ingin tahu: Siapa aktor intelektualnya? Siapa pemasoknya? Siapa yang membiayai? Ke mana uangnya mengalir? Siapa saja yang selama ini menikmati keuntungan?
Dan satu pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah jaringan ini hanya ada di Planet Batam, atau sesungguhnya terhubung dengan jaringan lain di Batam, Indonesia, bahkan lintas negara?
Penangkapan Basri di Malaysia menunjukkan satu hal: persoalan ini memiliki dimensi lintas batas. Penangkapan tersebut dilakukan melalui kerja sama Dittipidnarkoba Bareskrim, Divhubinter Polri, dan Interpol. Maka penanganannya juga harus lintas batas.
Jangan hangat-hangat tahi ayam
Kita sudah terlalu sering melihat operasi besar. Hari pertama: heboh. Hari kedua: konferensi pers. Hari ketiga: pemberitaan memenuhi media. Seminggu kemudian: publik lupa.
Beberapa bulan kemudian: tempat lain kembali beroperasi dan persoalan yang sama muncul lagi. Mungkin juga itu tempat lama tapi namanya diganti.
Jangan sampai kasus Batam bernasib seperti itu.
Pemberantasan narkoba harus menjadi pekerjaan berkelanjutan, bukan operasi musiman. Hari ini Planet. Besok siapa? Lusa siapa? Kalau ada bukti, bongkar. Kalau tidak ada bukti, jangan ganggu. Tetapi jangan pernah berhenti hanya karena satu jaringan sudah ditangkap. Karena jika satu jaringan tumbang tetapi jaringan lain tetap hidup, yang terjadi bukan pemberantasan. Itu hanya pergantian pemain.
Pak Polisi, masyarakat menunggu keberanian berikutnya
Masyarakat Batam tentu ingin kotanya aman. Para pelaku usaha hiburan yang bekerja secara legal juga tentu tidak ingin bisnis mereka dicurigai hanya karena ada segelintir pelaku usaha yang diduga bermain dengan narkoba.
Karena itu, pemberantasan yang tegas sekaligus adil justru akan melindungi semua pihak. Lindungi masyarakat. Lindungi generasi muda. Lindungi pengusaha yang taat hukum. Dan hancurkan bisnis narkoba.
Tetapi jangan tebang satu pohon lalu mengklaim hutannya sudah bersih. Kalau memang ada hutan kejahatan, bongkar sampai ke akar-akarnya. Jangan pilih-pilih. Jangan pandang bulu. Jangan berhenti pada orang yang paling mudah ditangkap.
Jangan pula menjadikan satu kasus sebagai alasan untuk menciptakan kesan seolah-olah seluruh persoalan sudah selesai.
Pak Polisi dan seluruh aparat penegak hukum: masyarakat memberi dukungan. Tetapi dukungan itu datang bersama harapan dan pengawasan. Bongkar sampai ke bandar. Ke pemasok. Ke jaringan. Ke uangnya. Ke asetnya. Ke orang-orang yang melindunginya. Dan kalau memang ada jaringan lain di Batam, di kota lain, atau bahkan di balik bisnis yang selama ini tampak legal dan gemerlap: bongkar juga.
Perang melawan narkoba tidak boleh menjadi perang melawan satu kelompok. Perang melawan narkoba harus menjadi perang melawan seluruh jaringan kejahatan—siapa pun orangnya, apa pun nama tempatnya, dan sebesar apa pun uang di belakangnya.
Jangan suam-suam kuku atau hangat-hangat tahi ayam.
Tegas. Konsisten. Merata. Sampai tuntas. (P)








