PRIORITAS, 25/5/26 (Manado): Realisasi investasi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada triwulan I tahun 2026 mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran berbagai pihak karena investasi dinilai menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah di tengah keterbatasan fiskal pemerintah.
Pemerintah daerah pun diminta untuk mulai mengurangi kegiatan yang dianggap tidak prioritas dan lebih fokus membuka peluang investasi baru guna menjaga laju pertumbuhan ekonomi Sulut.
Realisasi investasi baru capai 18% dari target
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan Dedicated Team Meeting (DTM) Regional Investor Relations Unit (RIRU) Sulut 2026, realisasi penanaman modal di Sulut pada triwulan I 2026 tercatat sebesar Rp2,13 triliun. Angka tersebut baru mencapai sekitar 18 persen dari target investasi Sulut tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp12,13 triliun.
Capaian tersebut menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sudah mencapai sekitar 33 persen dari target tahunan investasi.
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi dengan nilai sekitar Rp1,53 triliun atau 72 persen dari total investasi. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp593 miliar atau sekitar 28 persen.
Pemerintah diminta kurangi belanja tidak produktif
Di tengah keterbatasan ruang fiskal daerah, hal tersebut menjadi alternatif utama untuk menjaga pembangunan tetap berjalan. Bank Indonesia Sulut bahkan menyoroti tingginya ketergantungan APBD terhadap dana transfer pusat yang mencapai lebih dari 84 persen.
Karena itu, pemerintah daerah didorong untuk melakukan refocusing atau penyesuaian prioritas anggaran, termasuk mengurangi kegiatan yang tidak berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.
Upaya menarik investor dinilai harus menjadi prioritas baru pemerintah daerah, terutama melalui percepatan pelayanan perizinan, penyelesaian hambatan regulasi, hingga penyiapan proyek yang siap ditawarkan kepada investor nasional maupun internasional.
Manado dan Minut jadi penyumbang investasi terbesar
Dari sisi wilayah, Kota Manado menjadi daerah penyumbang penanaman modal terbesar di Sulut pada awal 2026 dengan nilai sekitar Rp989 miliar atau 46 persen dari total investasi daerah. Disusul Kabupaten Minahasa Utara sebesar Rp779 miliar atau sekitar 36 persen.
Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antarwilayah di Sulut yang dinilai perlu segera dievaluasi oleh masing-masing kepala daerah.
Pemerintah Provinsi Sulut juga mulai mendorong hilirisasi sektor unggulan seperti perikanan, pertanian kelapa, hingga pariwisata padat karya untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
BI Sulut dorong proyek “clean and clear”
Bank Indonesia bersama RIRU Sulut kini fokus menyiapkan proyek penanaman modal berstatus “clean and clear” agar lebih mudah menarik investor.
Selain itu, sejumlah proyek strategis seperti pengembangan kawasan industri perikanan, proyek energi berbasis Refuse Derived Fuel (RDF), hingga pengembangan transportasi massal di Manado mulai dipromosikan ke investor global.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan kualitas pelayanan penanaman modal melalui optimalisasi Mal Pelayanan Publik (MPP) serta integrasi sistem OSS-RBA untuk mempercepat perizinan dan meminimalkan praktik pungutan liar. (P-sm)








