PRIORITAS, 15/10/26 (Minahasa): Dua puluh lima tahun setelah meninggalkan kampung halaman, para penyintas konflik Maluku Utara asal Lata Lata, Kabupaten Halmahera Selatan, masih berjuang mempertahankan kehidupan yang telah mereka bangun di Desa Kolongan, Kecamatan Kombi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Salah satu penyintas, Merlina Gama, mengisahkan perjalanan panjangnya meninggalkan kampung halaman pada 2001 demi menyelamatkan diri dari konflik horizontal yang melanda wilayah asalnya. Bersama warga lainnya, ia harus menghadapi ketidakpastian sebelum akhirnya menemukan tempat untuk memulai kehidupan baru.
Perjalanan Merlina tidak berlangsung mudah. Setelah meninggalkan Lata Lata, ia sempat berpindah-pindah tempat, termasuk ke Jailolo dan Kota Ternate, sebelum mendapatkan bantuan dari seorang warga negara Australia yang akrab disapanya sebagai Pak Jeff.
Dari pengungsian menuju permukiman Kanaan
Pak Jeff kemudian membantu Merlina bersama rombongan yang terdiri atas sekitar 20 kepala keluarga untuk menuju Manado. Mereka selanjutnya ditempatkan di Desa Kolongan, Kecamatan Kombi, yang kemudian menjadi tempat tinggal baru bagi para penyintas tersebut.
Ketika pertama kali tiba, lokasi itu masih berupa kawasan hutan yang harus dibersihkan sebelum dapat dijadikan permukiman. Dengan bantuan Pak Jeff dan timnya, rumah-rumah semi permanen mulai dibangun sebagai tempat berlindung bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik.
Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi permukiman yang dikenal dengan nama Kanaan. Bagi para penyintas, tempat itu bukan sekadar lokasi untuk menetap, melainkan ruang untuk menata kembali kehidupan setelah mengalami masa sulit di daerah asal.
Melalui yayasan yang dibentuk untuk membantu mereka, para penyintas memperoleh dukungan berupa tempat tinggal, sarana air bersih, listrik, lahan pertanian, hingga beasiswa pendidikan bagi anak-anak. Bantuan tersebut menjadi salah satu penopang bagi keluarga-keluarga yang harus membangun kehidupan dari awal.
Bantuan kemanusiaan yang menopang kehidupan
Merlina mengakui, keberadaan Yayasan Pelayanan Kasih Bapa (YPKB) dan Yayasan Berkati Indonesia (YBI) memiliki arti penting bagi keberlangsungan hidup para penyintas selama puluhan tahun terakhir.
Bantuan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan dasar, tetapi juga membuka kesempatan bagi keluarga untuk mengembangkan sumber penghidupan dan memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak mereka.
Setelah meninggalkan kampung halaman dengan bekal seadanya, para penyintas perlahan membangun kehidupan di lingkungan yang sebelumnya asing. Perjalanan panjang itu menjadi bukti bahwa dukungan kemanusiaan dapat membantu masyarakat yang terdampak konflik untuk kembali menjalani kehidupan secara lebih layak.
Namun, menurut Merlina, perjalanan selama 25 tahun tersebut kini diwarnai persoalan baru yang memunculkan kesedihan di antara sesama penyintas.
Berharap perselisihan tidak menghapus perjuangan bersama
Merlina menyayangkan munculnya konflik di antara warga setelah mereka bersama-sama melewati masa pengungsian dan membangun kehidupan di Kanaan. Ia berharap pengalaman pahit yang pernah dialami di Maluku Utara menjadi pelajaran agar hubungan antarsesama tetap terjaga.
Menurut dia, para penyintas semestinya mensyukuri kesempatan untuk bertahan hidup dan memperoleh tempat tinggal serta dukungan bagi masa depan keluarga mereka. Bantuan yang diterima selama ini, kata dia, tidak terlepas dari peran Pak Jeff dan yayasan yang membantu mereka.
“Harusnya kita bersyukur bisa bertahan dan hidup layak sampai hari ini. Itu semua berkat bantuan dari Pak Jeff dan yayasan yang dia dirikan. Kalau tidak ada Pak Jeff, entah bagaimana nasib kami saat itu,” demikian inti pernyataan Merlina saat diwawancarai di Mapolres Minahasa, Rabu (14/10/2026).
Kisah para penyintas ini memperlihatkan bahwa pemulihan setelah konflik tidak berhenti ketika seseorang berhasil meninggalkan daerah berbahaya. Upaya membangun kehidupan yang aman, menjaga hubungan sosial, serta menyelesaikan perselisihan secara baik tetap menjadi bagian penting dari perjalanan panjang mereka.
Bagi Merlina dan warga lainnya, Kanaan telah menjadi rumah selama seperempat abad. Harapannya, tempat yang dahulu memberi mereka kesempatan untuk memulai kembali kehidupan itu tetap menjadi ruang yang aman dan membawa masa depan lebih baik bagi generasi berikutnya. (P-*/jt.pr/sm)








