PRIORITAS, 9/10/26 (Jakarta): Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menggelar agenda temu media memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta. Pasalnya, beban gangguan mental serta kesehatan jiwa makin membayangi anak muda dan kelompok rentan.
Acara bertajuk Sehat Jiwaku, Unik Caraku ini berlangsung di Kantor Kemenkes Jakarta Selatan pada Jumat (9/10/2026).
Pemerintah menyoroti pentingnya peran sistem pendukung keluarga guna merangkul para penyandang neurodivergent. Otoritas kesehatan juga meminta publik menghentikan penggunaan label merendahkan kepada penderita gangguan kejiwaan.
Beban Depresi Anak Muda Tinggi dan Layanan Pencegahan Bunuh Diri Termuda Usia 8 Tahun
Selanjutnya, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, dr. Endang Sumiwi membeberkan bahwa beban depresi terbesar menimpa anak muda usia di atas 15 tahun dan ibu hamil. Kemenkes kini menyiapkan layanan Healing 119 sebagai sarana pencegahan bunuh diri.
Saat ini sebanyak 64 persen atau 6.500 Puskesmas sudah mampu menangani pelayanan kesehatan jiwa.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, dr. Imran Pambudi mengungkapkan pemanggil suicidal call prevention paling muda baru berusia 8 tahun. Pihaknya menegaskan orang tua dilarang keras denial dan harus segera membawa anak ke ahli profesional.
Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak bergantung pada kecerdasan buatan untuk mendiagnosis gangguan mental. "Jangan terlalu percaya AI apalagi soal kesehatan jiwa, harus langsung ke profesional," tegas Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Jumat (9/10/2026).
Pakar Tegaskan Mitos Pernikahan dan Hak Disabilitas Tanpa Stigma
Di sisi lain, Ketua Divisi Psikiatri Komunitas FKUI/RSCM, Dr. dr. Hervita Diatri, Sp.KJ, Subsp.Kom.(K) mematahkan anggapan keliru di masyarakat. Pihaknya menegaskan bahwa penyakit kejiwaan tidak menular dan anggapan dinikahkan agar sembuh hanyalah mitos belaka.
Ia juga menyoroti kemunculan fobia modern seperti netless phobia dan monophobia akibat ketergantungan gadget.
Selanjutnya, Konsultan Neurologi Anak FK Unpad/RSHS, Dr. dr. Purboyo Solek, Sp.A (K) memaparkan gangguan disleksia yang membuat otak sulit memproses informasi. Aktivitas fisik serta paparan sinar matahari terbukti mampu meningkatkan kesehatan jiwa anak secara signifikan.
Oleh sebab itu, reformasi layanan kesehatan jiwa dan pemenuhan hak disabilitas menjadi fokus utama pemerintah. Dukungan keluarga serta lingkungan inklusif menjadi kunci pemulihan para penderita gangguan jiwa. (P-Gio R)








