
Dua pelaku penembakan massal di Pantai Bondi, Australia, adalah ayah dan anak bernama Sajid Akram dan Naveed Akram. (9news)PRIORITAS, 15/12/25 (Sydney): Ayah dan anak, Sajid Akram (50 tahun) dan putranya, Naveed Akram (24 tahun), adalah pelaku penembakan massal pada sebuah acara perayaan Yahudi, Hanukkah, di Pantai Bondi, Sydney di New South Wales, Australia, pada Minggu malam.

Pihak kepolisian setempat seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Senin (15/12/25), mengatakan Naveed mengalami luka kritis dan berada di bawah pengawasan polisi di rumah sakit. Sedangkan ayahnya, Sajid Akram, tewas ditembak polisi di tempat kejadian.
Dalam penggeledahan di rumah tersangka, Sajid ternyata memiliki enam senjata api secara legal dan tergabung dalam klub menembak rekreasi. Dia dan putranya tinggal di pinggiran kota Sydney.
Direktur Jenderal Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO), Mike Burgess, mengatakan salah satu tersangka penyerang sudah diketahui sebelum penembakan tersebut. “Tetapi bukan dalam perspektif ancaman langsung”, katanya.

Menteri Dalam Negeri, Tony Burke, kemudian mengkonfirmasi Naveed Akram sudah menarik perhatian ASIO pada Oktober 2019, karena keterlibatannya dalam organisasi teroris, lapor 9 News.
Burke juga mengkonfirmasi ayah Navved, Sajid Akram adalah imigran asal India, tiba di Australia dengan visa pelajar pada tahun 1998, yang kemudian diubah menjadi visa pasangan pada tahun 2001.Sejak itu ia memiliki visa penduduk tetap.
Sedangkan Naveed Akram tercatat sebagai warga negara Australia, karena lahir di negara itu pada tahun 2001.
Terlibat ISIS
Polisi juga menggerebek sebuah alamat di Campsie, tempat para terduga pelaku penembakan diyakini menginap sesaat sebelum penembakan terjadi.
Polisi juga menggerebek sebuah rumah tinggal di Bonnyrigg, melakukan dua penangkapan dan menyita enam senjata api dari properti tersebut.
Organisasi Intelijen Keamanan Australia dilaporkan meyakini kedua tersangka tersebut telah menyatakan kesetiaan kepada kelompok teror untuk Negara Islam (ISIS).
ABC News Australia melaporkan dinas intelijen negara tersebut, telah menyelidiki Naveed Akram beberapa tahun lalu, karena hubungannya dengan sel ISIS di Sydney.
Kantor berita tersebut melaporkan para penyelidik kini meyakini kedua pria tersebut telah menyatakan kesetiaan kepada kelompok teroris tersebut.
Polisi juga telah menemukan bendera ISIS di dalam mobil mereka bersama dengan alat peledak rakitan.
Pada hari penembakan, ayah dan anak itu berbohong kepada anggota keluarga dengan mengatakan mereka akan pergi memancing.

Seorang pelaku tertangkap kamera menembak warga di pantai Bondi, Sidney, Australia. (sidneymorningherald)
Ibu Naveed Akram, Verena, mengatakan kepada Sydney Morning Herald, ia sulit percaya putranya terlibat dalam serangan teroris paling mematikan di Australia dalam beberapa dekade terakhir.
“Dia tidak punya senjata api. Dia bahkan tidak pernah keluar rumah. Dia tidak bergaul dengan teman-temannya. Dia tidak minum alkohol, tidak merokok, dan tidak pergi ke tempat-tempat yang buruk,” katanya.
Tetapi ternyata ayahnya, Sajid Akram, memiliki izin senjata api dan memiliki senjata api secara legal.
Komisaris polisi New South Wales, Mal Lanyon, dalam konferensi pers pada hari Senin mengungkapkan Sajid memiliki enam senjata api, termasuk senapan panjang yang digunakan untuk berburu, yang ditemukan di lokasi serangan dan di sebuah rumah yang digeledah sebagai bagian dari penyelidikan.
Motif masih diselidiki
Australia memperketat akses terhadap senjata api setelah penembakan massal tahun 1996 di Tasmania, yang menewaskan 35 orang, tetapi tidak melarang kepemilikan senjata api pribadi secara menyeluruh.
Lanyon mengatakan tidak ada indikasi salah satu dari pria yang terlibat dalam penembakan itu merencanakan serangan tersebut.
Dia juga mengatakan tidak dapat berkomentar tentang kemungkinan motif serangan tersebut.
“Kami masih dalam tahap awal penyelidikan. Saya ingin memberi kesempatan kepada para penyelidik kami untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh tanpa spekulasi”, jelasnya.
Perdana menteri New South Wales, Chris Minns, menolak menyebut serangan itu sebagai kegagalan intelijen.
“Bukan hal yang tepat untuk dilakukan dalam waktu 24 jam setelah serangan mengerikan dan penuh kekerasan ini untuk menyatakan adanya kegagalan tanpa bantuan investigasi independen,” katanya.
Mantan sekretaris Kementerian Dalam Negeri, Mike Pezzullo, mengatakan kepada 9News tidak setiap sel dicegat Organisasi Intelijen Keamanan Australia.
“Mereka melakukan pekerjaan yang luar biasa – ASIO, AFP, dan rekan-rekan mereka di kementerian negara,” kata Pezzullo.
“Mereka tidak bisa berada di mana-mana. Dan sejujurnya, jika mereka ada di mana-mana, kita akan menjadi negara polisi”, lanjutnya.(P-Jeffry W)

