Perkumpulan ‘Tombulu’ asal Minahasa Sulut di Jakarta terpecah dan memantik polemik

Herling Tumbel
Senin, 18 Mei 2026
MEGAPOLITAN 0 387
6 menit membaca

PRIORITAS, 18/5/26 (Jakarta): Perkumpulan komunitas “Tombulu” di Jakarta terpecah. Selain Pinaesaan ne Tombulu (PneT) pimpinan Ketua Umum (Ketum) Edwin J.O. Poluan, MBA, kini hadir organisasi baru yaitu Kerukunan Keluarga Tombulu (K2T) dengan Ketum Laksma TNI Steven Toar Sambouw.


Kehadiran dua perkumpulan etnis asal Minahasa, Sulawesi Utara, itu memantik polemik. Sekretaris Umum PneT, Deitje Mawuntu, S.Pd, mengatakan, permasalahan muncul berawal dari adanya edaran pihak K2T tentang hasil pertemuan antara Ketum PneT dan Ketum K2T pada Selasa (12/5/26) yang juga dihadirinya.

Kepada Beritaprioritas.com Minggu (17/5/26) malam, Deitje mengirimkan transkrip edaran yang dimaksud.

“Setelah resmi dikukuhkan menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Kerukunan Kawanua Tombulu periode 2026-2031 pada hari Minggu 10 Mei 2026 lalu, Laksamana Pertama Steven Toar Sambouw (Ketum K2T, red.) langsung melakukan langkah cepat dengan melakukan kunjungan kerja pertamanya dengan menemui salah satu tokoh Tombulu Bp. Edwin Poluan yang juga merupakan salah satu Pendiri dari Perkumpulan Tombulu di Jakarta ini,” begitu awal unggahan tersebut.


Diketahui, Edwin Poluan yang dimaksud adalah Ketua Umum PneT periode 2026-2031 yang ditetapkan dalam Musyawarah Besar Luar Biasa (Munaslub) 8 Mei 2026 lalu. Edwin Poluan juga adalah pendiri dan Ketum pertama PneT sejak terbentuk pada 2015.

Dijelaskan dalam edaran, pertemuan itu diadakan pada Selasa (12/5/26) malam di salah satu restoran di bilangan Jakarta Utara.

Pertemuan menghasilkan beberapa point penting, di antaranya Edwin Poluan mendukung Laksma Steven T Sambouw sebagai KETUM K2 Tombulu, Edwin Poluan siap mengawal Visi Misi dari Ketum K2T, dan Edwin Poluan juga memiiki visi misi yang sama untuk Bersama-sama melestarikan dan menjaga budaya Tombulu agar bisa diwariskan kepada anak cucu sebagai generasi penerus budaya Tombulu.

Disebutkan juga, dalam kesempatan itu juga Edwin Poluan menitipkan pesan agar K2T yang menjadi “Walewangko” (rumah besar) bagi seluruh warga Tombulu di tanah rantau, bisa selalu bersinergi dengan perkumpulan-perkumpulan yang ada di bawah naungan KKK (Kerukunan Keluarga Kawanua).

Dibantah PneT

Menurut Deitje, pihak PneT tidak mempersoalkan terbentuknya organisasi baru seperti K2T. Namun pengurus PneT membantah isi edaran K2T karena tidak sesuai fakta.

Menyikapi adanya edaran tersebut, pengurus PneT lalu membuat pernyataan atau pemberitahuan yang dalam Bahasa Minahasa disebut “Palakat”.

“Mencermati perkembangan terkini,  bahwasanya ada organisasi  yang baru dibentuk  Mei 2026 yang dinamakan K2T. Kenyataan bahwa terbentuknya organisasi yang juga membawa nama Tombulu  ini, dipelopori oleh beberapa anggota dan bahkan pengurus Pinaesaan ne Tombulu sendiri,” bunyi pernyataan tersebut.

“Melihat kenyataan ini, PneT bersikap demokratis, bahwa membentuk organisasi adalah hak setiap warga. Sehingga tidak mungkin untuk keberatan dengan wadah yang baru ini. Namun patut disayangkan, warga Tombulu yang sejak 11 tahun yang lalu menyatu dalam wadah PneT akhirnya harus terpecah-pecah,” lanjut pernyataan itu.

Pada bagian lain “Palakat” diungkapkan hasil pertemuan antara Ketum dan Sekjen PneT dengan Ketua K2T versi PneT.

Disebutkan, hasil pembicaraan dan penjajakan dalam pertemuan menyimpulkan beberapa hal. Pertama, PneT dan K2T memiliki misi yang sama agar warga Tombulu tetap menjadi satu. Kedua, PneT menawarkan agar K2T bergabung dan  sama-sama menjalankan PneT. Bahkan Ketum  PneT bersedia diganti asalkan warga Tombulu tetap satu.

Ketiga, K2T merespon bahwa agak sulit untuk menggunakan nama PneT, dan mengajak PneT untuk bergabung. Keempat, hasil pembicaraan agar dibawa dalam rapat internal PneT dan K2T. Hasilnya akan dikomunikasikan kemudian.

Deitje menerangkan, pengurus PneT Terpilih dengan calon pengurus serta  SC/OC/Pimpinan Sidang Mubeslub lalu mengadakan rapat untuk membahas hasil pertemuan dengan K2T.

Rapat memutuskan, pertama PneT sebagai organisasi pelopor yang menyatukan warga Tombulu se Jabodetabek sejak 2015 agar tetap berjalan sesuai mandat Mubeslub dan tidak bergabung dengan organisasi baru.

Kedua, PneT tetap membuka kesempatan K2T untuk bergabung. Ketiga, PneT tidak akan menyampaikan keberatan kepada siapapun atas berdirinya K2T.

Deitje menambahkan, hasil rapat PneT telah dikomunikasikan dengan K2T melalui pertemuan terbatas Ketum PneT & Ketum K2T pada 15 Mei 2026, dengan hasil sebagai berikut.

Baik PneT maupun K2T, akhirnya harus mengambil jalan masing-masing dan  saling menghormati. Walau demikian, K2T mengajak PneT untuk bersinergi dalam berbagai kegiatan. Ketum PneT tidak menerima ajakan menjadi pengurus K2T.

“Palakat” tersebut dikeluarkan atas nama Ketum PneT, Edwin O.J. Poluan, MBA, dan Sekjen, Deitje W. Mawuntu, S.Pd.

Pada akhir keterangannya melalui Whats App, Deitje menuliskan pesan kepada warga PneT se Jabodetabek dan sekitarnya.

“Dengan hasil-hasil  pertemuan di atas maka kita semua sebagai warga PneT agar fokus saja pada bagaimana memajukan  kembali PneT dengan program-program nyata,” katanya.

“Walau sedih melihat warga Tombulu tidak lagi menyatu dalam satu wadah, namun PneT harus tetap semangat menjalankan roda organisasi yang kita cintai ini. Perlu digaris bawahi juga, bahwa anggota Pinaesaan ne Tombulu adalah wanua-wanua/perkumpulan-perkumulan kampung yang ada di Jabodetabek. Dengan demikian anggota warga Tombulu yang ada di ‘wanua-wanua’ (kampung) tersebut secara otomatis adalah bagian dari anggota PneT,” tulisnya.

Deitje Mawuntu mengingatkan bahwa perkumpulan “Pinaeasaan ne Tombulu” sudah memiliki Akta Notaris dan telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM melalui Ditjen AHU sejak 2016, serta sudah memiliki Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Respons Ketum K2T

Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tombulu (K2T), Laksma TNI Steven Toar Sambouw, yang dihubungi Beritaprioritas.com melalui pesan Whats App Senin (18/5/26) siang menyampaikan respons bahwa K2T sama sekali tidak menginginkan perpecahan.

“Kami tetap mengedepankan persatuan. Tidak ada masalah warga Tombulu di Jabodetabek punya beberapa perkumpulan, yang penting tetap menjaga persatuan. Kita berkarya masing-masing melalui organisasi yang kita bentuk, dan secara bersama-sama bersinergi melakukan kegiatan yang bermanfaat buat anggota,” katanya melalui sambungan telepon.

Jenderal Angkatan Laut yang kini aktif di Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI itu juga mempertanyakan edaran yang dibagikan pihak PneT. “Itu dari mana? Saya tidak pernah mengeluarkan edaran itu,” ucapnya. Namun ia mengatakan tidak mau berpolemik tentang hal itu. “Kita dama-damai saja,” sambungnya.

Ia menambahkan, pihaknya tetap melakukan komunikasi dengan pengurus PneT untuk membangun kolaborasi. “Tadi malam (Minggu/17/26) saya ketemu lagi dengan Pak Edwin Poluan di Rawasari. Kami berkomunikasi dengan baik. Tidak ada masalah,” katanya.

Terkait adanya kabar bahwa pihak K2T “mencatut” nama-nama pengurus PneT dan dimasukkan ke dalam kepengurusan K2T, menurutnya itu tidak benar. “Kepengurusan K2T itu baru ada saya sebagai Ketua Umum. Pengurus lainnya belum ada, masih disusun, dan tentu saja nama-nama yang masuk harus dikonfirmasi dulu tentang kesediaannya,” lanjutnya.

Ia berharap hubungan baik di antara warga Tombulu se Jabodetabek, termasuk para tokoh, terus terjalin dalam sebuah semangat kebersamaan. “Kita kan membentuk perkumpulan, bukan klub sepakbola yang akan beranding. Jadi, tidak ada persaingan,” katanya lagi.

“Saya menaruh hormat kepada PenT selaku organisasi warga Tombulu yang sudah lebih dulu ada, juga kepada Bapak Edwin Poluan karena memang seharusnya seperti itu. Mari sama-sama kita saling mendukung untuk melakukan sesuatu yag bermanfaat untuk warga kita,” ujar Laksma TNI Steven Toar Sambouw. (P-ht)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan