
Atlet panahan Indonesia Nurisa Dian Ashrifa berfoto dengan medali emas Asian Games 2026 di Okazaki Chuo Sogo, Aichi, Jepang, Kamis (1/10/26). (ANTARA/HO-Perpani)Atlet
PRIORITAS, 1/10/26 (Nagoya): Tampil lepas, tanpa beban dan ekspektasi tinggi, atlet panahan Indonesia, Nurisa Dian Ashrifah, justru mencetak kejutan besar pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. 
Ini menjadi sejarah baru karena sejak panahan dipertandingkan di Asian Games pada tahun 1978, Indonesia belum pernah meraih medali emas sama sekali di cabang olahraga (cabor) ini.
Pemanah muda berusia 20 tahun tersebut sukses mengamankan medali emas nomor compound individual putri seusai menumbangkan wakil Filipina, Amaya Amparo Cojuangco, dengan skor 139-137 di Okazaki Chuo Sogo Park Multipurpose Square, Kamis (1/10/26).
“Dari awal saya tidak berekspektasi. Yang penting enak nembaknya,” tegas Hani. Prinsipnya tampil tanpa beban dan lepas kunci utama pemanah yang akrab disapa Hani ini.

Sejak awal kompetisi, atlet asal Semarang tersebut hanya berfokus menjaga kenyamanan bidikan tanpa memikirkan target podium.
Perjalanan Hani meraih podium tertinggi diwarnai perjuangan ekstra. Memulai langkah dari babak kualifikasi, ia sempat tertahan di peringkat kedelapan dengan koleksi 701 poin. Namun, ketenangan mental membuatnya perlahan bangkit.
Ujian berat berlanjut di babak gugur. Hani harus berhadapan dengan jagoan India, Chikitha Taniparthi, yang sebelumnya sudah mengantongi dua emas di nomor beregu putri dan mixed team.
Berbekal topi penghalau silau matahari pagi, Hani melesakkan anak panah dengan presisi hingga melenggang ke semifinal.
Di semifinal, tantangan kian berat saat ia menantang pemanah tangguh Korea Selatan, Oh Yoohyun, yang dikenal konsisten mencetak perfect score. Situasi kian pelik ketika embusan angin kencang mendadak menerpa area pertandingan.
“Dia (Oh Yoohyun) kemarin mainnya bagus, perfect score terus. Jadi saya tidak berekspektasi. Ya sudah, nembak saja,” tutur Hani.
Hani mengakui kondisi cuaca sempat menguji mentalitasnya di lapangan. “Dari tadi belum ada angin, bahkan dari kemarin belum ada angin. Baru hari ini panas, matahari datang, kemudian angin. Saya sempat agak panik, lawan juga panik. Alhamdulillah saya bisa menang, selisihnya empat poin,” tambah Hani seusai menyudahi perlawanan Yoohyun dengan skor 147-143.
Masuk ke partai puncak, hembusan angin kian kencang. Duel sengit melawan Amaya Amparo Cojuangco berjalan ketat hingga set keempat. Kedisiplinan Hani memanfaatkan momentum angin menjadi pembeda hingga ia mengunci kemenangan 139-137.
“Benar-benar enggak kebayang sampai final. Yang penting dari awal saya nembak bagus saja. Iya, ini semesta sepertinya mendukung. Pas saya nembak anginnya enggak terlalu kencang, tetapi pas Filipina nembak, lumayan kencang,” ungkapnya.
Keberhasilan ini terasa monumental lantaran Asian Games 2026 merupakan panggung debut Hani di pesta olahraga bergengsi se-Asia tersebut. Ia menumbangkan deretan pemanah elite dunia untuk mengibarkan bendera Merah Putih.
“Ini plot twist banget dalam hidup saya. Saya lawan India dan Korea yang sudah menguasai panahan dan atlet top. Ternyata saya bisa,” kata Hani.
Di balik kejayaan tersebut, Hani mendedikasikan medali emas ini untuk sang ibu, Nurlisa. Ia bertekad membagikan kebahagiaan tersebut lewat niat suci memberangkatkan ibundanya ke Tanah Suci apabila mendapatkan bonus prestasi.
Seusai mengukir kejutan manis di Okazaki, Hani langsung membidik sasaran berikutnya yang lebih tinggi, yakni panggung Olimpiade Los Angeles 2028 seperti dikutip Beritasatu.com. “Goal saya memang main di Olimpiade,” tegasnya.(P-*/wr)

