
Kegiatan seremoni revitalisasi Masjid Cut Meutia di Jalan Taman Cut Mutiah, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/26). (Courtesy: Pemkot Jakpus).PRIORITAS, 1/10/26 (Jakarta): Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memulai tahap revitalisasi Masjid Cut Meutia di Jalan Taman Cut Mutiah, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.

Langkah strategis ini bertujuan merawat serta melindungi bangunan bersejarah peninggalan masa kolonial.
“Bangunan ini adalah satu-satunya masjid di Jakarta yang awalnya bukan masjid, melainkan bangunan tua bersejarah zaman kolonial. Karena itu, penanganannya memerlukan pendekatan khusus agar tidak merusak struktur asli,” ujar Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim di Jakarta, Kamis (1/10/26).
Ali menerangkan bahwa bangunan tersebut dulunya berdiri sebagai gedung bergaya kolonial yang pernah berfungsi sebagai kantor pos sebelum beralih status menjadi masjid pada 1986.

Oleh sebab itu, pengerjaan fisik di lapangan membutuhkan keahlian kontraktor spesialis cagar budaya. Terlebih lagi, kondisi kemiringan bangunan tertentu sudah ada sejak masa lampau dan wajib dipertahankan keasliannya.
Dalam pelaksanaannya, Ali menekankan pentingnya pemenuhan empat aspek utama operasional, yakni tepat waktu, tepat mutu, tepat anggaran, dan tepat manfaat. Menariknya, proyek berskala besar ini berjalan tanpa membebani keuangan daerah.
Pemerintah menerapkan prinsip pelestarian cagar budaya melalui skema pembiayaan kreatif di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Sebagai gantinya, pendanaan bersumber dari dukungan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Ini tidak pakai APBD. Pak Gubernur mendorong adanya creative financing. Kami berterima kasih kepada rekan-rekan dari perusahaan yang mendukung kegiatan ini sebagai amal ibadah,” tutur Ali menjelaskan sumber anggaran.
Di samping perbaikan fisik, Ali mengharapkan proses peremajaan ini mampu memperkuat fungsi utama Masjid Cut Meutia sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang publik yang ramah bagi masyarakat luas.
Melalui langkah pelestarian ini, warisan sejarah Jakarta tetap terjaga dengan baik bagi generasi mendatang.
“Pemerintah bertanggung jawab melanjutkan estafet sejarah ini kepada generasi penerus. Jangan sampai bangunan ini rusak di zaman kita,” pungkas Ali menegaskan komitmen pemerintah. (P-Ant/Khalied M)

