Lompat ke konten
Selasa, 13 Oktober 2026
Breaking
INTERNASIONALKelautan & PerikananBencanaLingkungan

Sejumlah 21 Kapal Indonesia, Filipina, dan Jepang Terlibat Latihan MARPOLEX Bitung 2026

Semuel Muhaling5 menit baca
Bagikan
Latihan MARPOLEX Bitung
Regional Marine Pollution Exercise (MARPOLEX) 2026 melibatkan 21 kapal Indonesia, Filipina, dan Jepang dalam latihan bersama penangggulangan pencemaran laut di Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Minggu (11/10/2026). ('Courtesy' Antara/HO-Kemenhub)

PRIORITAS, 12/10/2026 (Bitung): Sebanyak 21 kapal dari Indonesia, Filipina, dan Jepang terlibat dalam latihan MARPOLEX Bitung 2026. Latihan ini menguji penanganan tumpahan minyak, kebakaran kapal, dan operasi SAR. Kegiatan bersama bertajuk Regional Marine Pollution Exercise (MARPOLEX) 2026 ini berlangsung di perairan Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Sabtu (10/10/2026).  

Latihan MARPOLEX Bitung 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tersebut menjadi sarana untuk memperkuat kerja sama internasional dalam menjaga keselamatan pelayaran dan melindungi lingkungan laut.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Triono, mengatakan seluruh rangkaian latihan berhasil dilaksanakan sesuai skenario yang telah direncanakan.

Menurut dia, cuaca cerah dan kondisi perairan yang relatif tenang turut mendukung kelancaran kegiatan. Keikutsertaan puluhan kapal dari tiga negara juga menjadi kesempatan untuk menguji efektivitas koordinasi dalam menghadapi insiden yang berpotensi mengancam keselamatan pelayaran dan ekosistem laut.

“Cuaca cerah dan kondisi perairan yang tenang sangat mendukung pelaksanaan latihan hari ini. Dengan kondisi tersebut, seluruh rangkaian latihan dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan skenario yang telah direncanakan,” ujar Triono.

Tiga Skenario Darurat Diuji di Selat Lembeh

MARPOLEX 2026 mencakup tiga skenario utama, yakni penanggulangan tumpahan minyak (Oil Spill Response Operation), pemadaman kebakaran kapal (Fire Fighting), serta pencarian dan pertolongan (Search and Rescue atau SAR).

"Latihan ini mencakup tiga skenario, yakni penanggulangan tumpahan minyak (Oil Spill Response Operation), pemadaman kebakaran kapal (Fire Fighting), serta pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR)," ujarnya.

Dijelaskan, dalam skenario penanggulangan tumpahan minyak, operasi dilakukan melalui beberapa lapisan penanganan. MB Rancung IV dan MB Transko Sepat 16 mendukung penanganan awal untuk membatasi penyebaran minyak di permukaan laut.

Selanjutnya, KN Gandiwa P-118 menjadi unsur utama pada lapisan kedua dengan dukungan KT Anoman V dalam pengoperasian peralatan penanggulangan tumpahan minyak.

Pada lapisan ketiga, kapal BRP Gabriela Silang dan BRP Tubbataha dari Philippine Coast Guard turut menggelar oil boom, yakni peralatan penghalang untuk membatasi penyebaran minyak di perairan.

Simulasi ini menguji kemampuan personel dalam mengendalikan pencemaran sekaligus memastikan koordinasi antarkapal berjalan efektif ketika menghadapi insiden yang membutuhkan penanganan cepat.

Kerahkan Kapal Jepang dan Filipina  

Dalam skenario pemadaman kebakaran kapal, Fireboat Wisnu 3 mengawali operasi dengan menyemprotkan air ke kapal yang disimulasikan mengalami kebakaran. Operasi tersebut kemudian mendapat dukungan dari SHIKISHIMA PLH-31 milik Japan Coast Guard, KN Chundamani P-116, KN P-380, KT Bunaken, serta BRP Gabriela Silang.

Sementara itu, skenario SAR menguji kemampuan personel dalam mencari dan menyelamatkan awak kapal yang disimulasikan jatuh ke laut. Unsur RBB 01 dari Basarnas Manado turut mendukung operasi pencarian dan pertolongan tersebut.

Kapal SHIKISHIMA dari Jepang serta BRP Gabriela Silang dan BRP Tubbataha dari Filipina juga berpartisipasi dalam skenario SAR. Keterlibatan unsur dari tiga negara ini memperkuat kemampuan koordinasi dalam penanganan keadaan darurat maritim.

Selain kapal yang terlibat langsung dalam simulasi, sejumlah unsur turut bertugas mengawasi dan mengamankan area latihan. Kapal-kapal tersebut antara lain KN 50059, KN P-500118, KN P-50118, KP Hiu 2805, dan KP Hiu Macan Tutul 01.

Dukungan operasional juga diberikan oleh Sea Rider Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Bitung serta RIB Navigasi untuk membantu kelancaran kegiatan dan respons terhadap keadaan darurat.

KN Sarotama P-112 Jadi Pusat Komando

Selama latihan berlangsung, KN Sarotama P-112 dari Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PPLP) Tanjung Uban bertugas sebagai command vessel atau kapal komando.

Kapal tersebut berfungsi memantau situasi dan mengoordinasikan jalannya latihan agar setiap unsur dapat menjalankan tugas sesuai skenario.

Triono mengatakan kondisi alam yang mendukung membantu seluruh rangkaian simulasi berjalan dengan baik. Ia berharap latihan tersebut memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesiapsiagaan negara-negara peserta.

Keberhasilan pelaksanaan MARPOLEX 2026 juga menjadi momentum untuk mengevaluasi efektivitas koordinasi, kesiapan personel, serta penggunaan peralatan dalam menghadapi insiden pencemaran laut.

Filipina Siap Jadi Tuan Rumah MARPOLEX Berikutnya

Kepala Delegasi Jepang, Capt. Kyoko Ono, menilai MARPOLEX menjadi wadah penting untuk meningkatkan kesiapan bersama dalam menghadapi pencemaran laut.

Menurut Kyoko, koordinasi yang efektif tidak cukup dibangun melalui komunikasi, tetapi perlu diperkuat melalui latihan bersama agar setiap negara memahami peran dan tanggung jawab masing-masing ketika menghadapi insiden nyata.

Apresiasi juga disampaikan oleh perwakilan Philippine Coast Guard, RADM Meniado. Ia menekankan bahwa pencemaran laut merupakan ancaman lintas batas yang membutuhkan kerja sama internasional.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Filipina menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah Regional MARPOLEX berikutnya pada 2028. Pergantian tuan rumah ini diharapkan menjaga kesinambungan kerja sama dan peningkatan kemampuan penanganan pencemaran laut di kawasan.

Latihan Ditutup dengan Pelayaran Formasi Kapal

Pelaksanaan MARPOLEX 2026 turut disaksikan para kepala delegasi atau Head of Delegation (HOD) dari Indonesia, Filipina, dan Jepang, serta pengamat dari Australia dan Amerika Serikat.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan sailing pass, yakni pelayaran formasi kapal-kapal peserta. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penutup latihan maritim internasional yang melibatkan berbagai unsur penjagaan laut dan pantai.

Melalui latihan bersama ini, Indonesia, Filipina, dan Jepang diharapkan semakin memperkuat sinergi dalam menangani pencemaran laut, kebakaran kapal, serta operasi pencarian dan pertolongan.

Kerja sama tersebut penting untuk meningkatkan keselamatan pelayaran sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut dari ancaman pencemaran yang dapat menimbulkan dampak luas terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat pesisir. (P-*/sm)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami