
Kampus Universitas Begeri Manado di Tondano, Minahasa.(Courtesy: Unima)

PRIORITAS, 29/4/26 (Tondano): Ini bukan kabar biasa. Ini sejarah! Untuk pertama kali sejak berdiri, Universitas Negeri Manado (Unima) resmi membuka fakultas kedokteran (Faked). Yang mengejutkan, mahasiswa angkatan perdana sudah mulai diterima sebanyak 50 orang!
Unima dipastikan menerima mahasiswa baru Program Studi Kedokteran tahun ajaran 2026/2027. Hal ini menyusul rampungnya persiapan pembukaan Fakultas Kedokteran di kampus yang berlokasi di Tondano tersebut.
Rektor Unima, Prof. Dr. Joseph Philip Kambey, menyatakan bahwa untuk angkatan pertama, pihaknya menyediakan kuota sebanyak 50 mahasiswa baru. Penerimaan ini direncanakan akan melalui jalur skema seleksi mandiri.

“Pada 20 Mei mendatang, kami akan melakukan launching pembukaan Fakultas Kedokteran. Kami juga mendapat dukungan penuh dari kementerian terkait untuk pembangunan fasilitas pendukung,” ujar Joseph usai menguji mahasiswa S3 di kampus Unima, Senin (27/4/2026).
Persiapan operasional fakultas baru ini didukung oleh sinergi beberapa kementerian. Di antaranya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kementerian Diktisaintek), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta Kementerian Kesehatan.
Saat ini, gedung Faked bantuan pemerintah pusat telah berdiri. Selain itu, Unima tengah memproses pembangunan laboratorium serta rumah sakit pendidikan yang diharapkan mulai dikerjakan tahun ini
Sebelumnya, staf ahli Menteri Diktisaintek telah melakukan visitasi langsung ke kampus Unima untuk memantau kesiapan sarana, prasarana, serta ketersediaan tenaga pendidik guna memastikan standar kualitas pendidikan kedokteran terpenuhi.
Kehadiran Faked di Unima diharapkan menjadi solusi atas tantangan pemenuhan dan pemerataan tenaga medis di Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah yang masih kekurangan dokter.
Dengan fasilitas yang memadai dan kurikulum yang sesuai standar nasional, Unima berkomitmen mencetak lulusan dokter yang kompeten untuk mengabdi di berbagai penjuru tanah air.
Ada warga yang menilai langkah berani ini. Bukan hanya karena ini “yang pertama”, tapi karena taruhannya juga besar: kualitas, kesiapan fasilitas, hingga masa depan layanan kesehatan di Indonesia Timur.
Kunjungan Wakil Menteri Kesehatan RI ke kampus Unima pada 10/4/26 mengirim sinyal tegas: proyek ini serius. Pemerintah pusat bahkan disebut memberi perhatian khusus karena kebutuhan dokter di wilayah timur masih sangat mendesak.(P-sem)

