PDI-P di bawah Gerindra, Hasto: Kalau survei tidak bawa perubahan konkret kehidupan rakyat marhaen, makna politiknya apa?

Jeffrey Rawis
Selasa, 11 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 11/8/26 (Jakarta): Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang begitu tangguh di awal era reformasi dan pada 2 periode kepemimpinan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), ditandai dengan 3 kali menang Pemilu Legislatif (Pileg) dan 2 kali Pemilu Presiden (Pilpres), belakangan menurun elektabilitasnya. Sebab, dalam survei terbaru oleh Indonesia Political Opinion (IPO), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) meraih 17,5 persen dan berada di urutan teratas, sementara PDI-P di bawahnya atau pada posisi kedua, dengan elektabilitas sebesar 12,8 persen. Kemudian Partai Golkar di posisi ketiga, dengan dukungan sebesar 10,4 persen.


Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto mengatakan, PDI-P mementingkan kinerja untuk masyarakat bukan terikat pada hasil survei. Sebab, menurutnya langkah konkret bagi warga merupakan yang utama. “Apapun surveinya, kalau kita tidak bisa membawa perubahan konkret pada kehidupan rakyat marhaen, lalu apa makna politik?” kata Hasto, di Museum HOS Tjokroaminoto, Surabaya, Senin (10/8/26) kemarin.

Karena itu, Hasto meminta kader PDI-P yang menjadi kepala daerah agar bekerja lebih keras. Terutama, dalam membuat kebijakan yang berlandaskan kepentingan masyarakat. “Kami mendorong para kepala daerah PDI-P dengan adanya tren kenaikan elektoral dari PDI-P semua untuk bekerja lebih keras, dengan kebijakan yang bisa dirasakan oleh rakyat,” tegasnya.

Tunjukkan kebijakan berpihak masyarakat kecil


Kemudian Hasto mencontohkan, Surabaya yang menunjukkan kebijakan dengan berpihak ke masyarakat kecil. Salah satunya, bantuan sosial yang bisa diolah menjadi penghasilan. “Mulai dari kebijakan tata ruang, lapangan pekerjaan, bantuan sosial buat orang miskin. Tapi bantuan sosial itu yang memberdayakan, meningkatkan kemampuan produksi rakyat,” jelasnya.

“Kami juga mendorong para anggota legislatif dari PDI Perjuangan menghadapi tantangan fiskal yang sulit untuk lebih mendorong program-program padat karya,” lanjutnya, dikutip media.

Seperti diberitakan sebelumnya, survei IPO mencatat elektabilitas Partai Gerindra tertinggi jika pemilihan legislatif (Pileg) digelar saat ini, yakni sebesar 17,5 persen. “Gerindra masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat, meskipun jika dibandingkan dengan periode survei sebelumnya terjadi penurunan, tetapi itu tetap menempatkan Gerindra sebagai Parpol dengan elektabilitas tertinggi saat ini,” kata Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah dalam keterangannya, Minggu (9/8/26) lalu.

Lalu di bawah Partai Gerindra ada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan elektabilitas sebesar 12,8 persen. Kemudian Partai Golkar di posisi ketiga, dengan dukungan sebesar 10,4 persen. Sesudahnya, Partai Demokrat di posisi keempat dengan 8,1 persen.

Namun, ada sekitar 24,6 persen responden masih menyatakan belum menentukan pilihan atau merahasiakan pilihannya.

Hasil survei ini, menurut Dedi, sebagaimana Kompas.com melansir, menunjukkan adanya pergeseran preferensi pemilih dalam beberapa tahun terakhir.

“Tentu dimaklumi sebagai Parpol penguasa, Gerindra cenderung mampu mengambil alih porsi pemilih yang sebelumnya dikuasai PDI-P. Jika kebijakan Presiden ke depan kian diterima publik, bukan tidak mungkin elektabilitas Gerindra semakin kuat di posisi puncak,” ujar Dedi Kurnia Syah. (P-*/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan