Lompat ke konten
Rabu, 14 Oktober 2026
Breaking
EKBISEkonomiPertanian

Panen raya durian di Lebak Banten geliatkan ekonomi, perputaran uang tembus ratusan juta rupiah per hari

Harley DT3 menit baca
Bagikan
Panen durian Lebak
Kabupaten Lebak, Banten, sedang panen durian. Dua anak menggendong buah durian usai dipanen di kawasan hutan adat suku Baduy Luar. (Courtesy: Antara)

PRIORITAS, 23/8/26 (Lebak, Banten): Musim panen raya durian di Kabupaten Lebak, Banten, membawa berkah melimpah bagi perekonomian daerah, dengan perputaran uang mencapai ratusan juta rupiah setiap hari.

Aktivitas musiman tersebut terbukti ampuh menggerakkan roda ekonomi masyarakat dengan menciptakan mata rantai pendapatan yang luas, mulai dari petani, buruh pemetik, jasa angkut, pengepul, pelaku transportasi, hingga pedagang eceran.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, di Lebak, Sabtu (22/8/26), seperti dilansir dari Antara Minggu (23/8/26).

Ia menjelaskan, hasil panen tahun ini sangat melimpah seiring dengan masuknya masa panen di berbagai sentra produksi. "Panen durian menjadi andalan ekonomi masyarakat. Saat ini petani memasok durian ke Rangkasbitung hingga luar daerah dalam jumlah ribuan butir, dan perputaran uang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah per hari," ujar Rahmat.

Potensi ekonomi yang besar ini didukung basis produksi wilayah Lebak yang kokoh. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, realisasi produksi durian di daerah tersebut pada tahun 2025 sukses menembus angka 12.234 ton.

Dikatakan, musim panen tahun ini diprediksi akan berlangsung selama tiga bulan, terhitung sejak Agustus hingga Oktober. Adapun sebaran sentra produksinya mencakup wilayah Leuwidamar, Cirinten, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik, Cijaku, Cigemblong, Cibeber, Cilograng, Bayah, Panggarangan, Cihara, Cikulur, hingga Cimarga.

Lapangan kerja baru dan omzet menggiurkan
Para penggemar durian menyerbu Lebak, Banten, untuk mendapatkan durian terbaik. Tahun 2026 ini masa panen di Lebah berlangsung Agustus-Oktober. Seorang penggemar durian menyukai varian durian Baduy yang menjadi salah satu primadona di Lebak. (Courtesy: Ist. via iNews.id)

Geliat ekonomi itu terlihat di pusat Kabupaten Lebak, khususnya di wilayah Rangkasbitung. Pedagang durian eceran kini menjamur di sepanjang ruas jalan utama, pasar, dan pusat-pusat keramaian.

Sebagian pedagang bahkan aktif menjemput bola menggunakan kendaraan roda empat maupun berkeliling langsung ke area pemukiman warga. Di tingkat eceran, buah durian dibanderol bervariasi antara Rp50.000 hingga Rp200.000 per butir, tergantung pada ukuran dan kualitas buah.

Ade (50 tahun), salah seorang pedagang durian di Gang Kibun, Rangkasbitung, mengaku kebanjiran berkah. Dalam sepekan terakhir, ia mampu menjual hingga 1.000 butir durian per hari dengan harga rata-rata Rp50.000 per butir.

Dari penjualan tersebut, Ade mengantongi pendapatan kotor hingga Rp50 juta dalam sehari. "Kami kewalahan melayani permintaan durian, terutama durian Badui. Pembeli datang bersama rombongan maupun keluarga. Aktivitas penjualan ini juga membuat kami bisa mempekerjakan delapan orang," kata Ade.

Menurut Ade, durian dari wilayah adat Badui menjadi primadona karena karakteristik daging buahnya yang tebal, aromanya yang kuat, serta cita rasanya yang manis legit.

Daya tarik ini membuat pembeli tidak hanya datang dari lokal Lebak, melainkan berbondong-bondong dari wilayah Jabodetabek seperti Depok, Bogor, Tangerang, dan Jakarta.

Dampak masif di tingkat pengepul

Dampak instan dari panen raya ini juga dirasakan oleh para pengepul buah. Acong (50), seorang pengepul di Rangkasbitung, menyebutkan bahwa pada puncak panen seperti saat ini, dirinya mampu menampung sekitar 5.000 butir durian setiap hari dari berbagai kecamatan sentra produksi.

Durian-durian tersebut kemudian didistribusikan kembali kepada para pedagang eceran di Rangkasbitung, Jakarta, serta beberapa daerah di Jawa Barat. Di tingkat pengepul, durian dilepas dengan harga rata-rata Rp20.000 per butir.

"Kalau mencapai 5.000 butir dengan harga rata-rata Rp20.000, omzetnya bisa sekitar Rp100 juta per hari. Jadi panen ini bukan hanya memberikan penghasilan kepada petani, tetapi juga menghidupkan kegiatan pengepul, angkutan, buruh angkut hingga pedagang," tutur Acong.

Diketahui, masa panen masih menyisakan waktu hingga Oktober mendatang, dan aktivitas ekonomi berbasis komoditas lokal ini diharapkan terus menjaga stabilitas daya beli dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Lebak. (P-Ant/hdt)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami