
Seorang anggota kepolisian mengecek pajak kendaraan bermotor via alat pembayaran digital QRIS Tap dalam acara peluncuran program Mall siap QRIS Tap dan Samsat siap QRIS Tap di Palu, Sulteng, Selasa (11/8/26). (‘Courtesy’ Antara/Moh Ridwan)PRIORITAS, 14/8/26 (Palu): Transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Sulawesi Tengah melonjak hingga 47,53 juta transaksi. Angka itu tercatat sampai Juni 2026 dan menunjukkan pertumbuhan sangat tinggi. Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan tersebut. Transaksi QRIS tumbuh 236 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna menyampaikan capaian tersebut di Palu. Ia menyebut transaksi triwulan II 2026 bahkan melampaui capaian sepanjang 2025. Pada 2025, masyarakat Sulawesi Tengah mencatat 37,80 juta transaksi QRIS secara kumulatif. Sementara itu, hingga Juni 2026, angkanya sudah mencapai 47,53 juta transaksi.
“Jumlah transaksi pada triwulan II ini juga lebih besar dibandingkan total transaksi pada 2025,” kata Muhammad Irfan Sukarna. Capaian itu menunjukkan semakin kuatnya minat masyarakat terhadap sistem pembayaran digital. Selain itu, pertumbuhan tersebut memperlihatkan perluasan penggunaan QRIS dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Melansir Antara News, pertumbuhan transaksi berjalan seiring dengan peningkatan jumlah pengguna QRIS di Sulawesi Tengah. Hingga Juni 2026, pengguna QRIS mencapai 409,32 ribu orang. Jumlah tersebut tumbuh 17,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Karena itu, peningkatan pengguna ikut menopang lonjakan transaksi QRIS di daerah tersebut.

BI menilai perkembangan itu mencerminkan semakin luasnya penerimaan masyarakat terhadap pembayaran digital. Masyarakat kini semakin terbiasa menggunakan transaksi nontunai dalam berbagai aktivitas. Selain pengguna, jumlah pedagang yang menerima QRIS juga terus bertambah. BI mencatat jumlah merchant QRIS di Sulawesi Tengah mencapai sekitar 346 ribu merchant. Pertumbuhan merchant tersebut memperluas pilihan pembayaran digital bagi masyarakat. Pada saat yang sama, kondisi itu membuka akses lebih besar bagi pelaku usaha terhadap ekosistem ekonomi digital.
Sektor usaha mikro menjadi kelompok terbesar dalam ekosistem merchant QRIS di Sulawesi Tengah. Porsi usaha mikro mencapai 80,09 persen dari seluruh merchant yang terdaftar. Dominasi tersebut menunjukkan peran penting UMKM dalam memperluas penggunaan pembayaran digital. Selain itu, QRIS membantu pelaku usaha menerima pembayaran tanpa mengandalkan transaksi tunai.
Bank Indonesia menyebut pertumbuhan penggunaan QRIS turut memperkuat ekosistem ekonomi digital. Pemanfaatannya juga semakin menjangkau berbagai kegiatan ekonomi masyarakat. Kondisi itu memberikan peluang bagi pelaku usaha mikro untuk mengikuti perubahan pola transaksi. Dengan QRIS, mereka dapat menyediakan pilihan pembayaran yang lebih praktis bagi konsumen.
Lonjakan jumlah merchant turut mengangkat posisi Sulawesi Tengah dalam kawasan Sulampua. BI mencatat Sulteng memiliki jumlah merchant QRIS terbanyak ketiga. Posisi tersebut berada setelah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Capaian itu memperlihatkan perkembangan ekosistem pembayaran digital yang semakin luas.
Selain itu, pertumbuhan merchant menunjukkan semakin banyak pelaku usaha menerima transaksi berbasis QRIS. Perkembangan tersebut juga memperkuat konektivitas pembayaran digital antarpelaku ekonomi. BI terus mendorong perluasan akseptasi pembayaran digital melalui berbagai program. Langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan sistem pembayaran nasional.
Tak berhenti pada transaksi belanja, BI Sulawesi Tengah juga menghadirkan inovasi QRIS Tap. Program tersebut menyasar pusat perbelanjaan dan layanan pembayaran pajak kendaraan. BI menjalankan program Mall Siap QRIS Tap dan Samsat Siap QRIS Tap. Program tersebut bertujuan memudahkan masyarakat melakukan transaksi tanpa menggunakan uang tunai.
Muhammad Irfan Sukarna mengatakan program itu lahir untuk mempercepat transaksi di mal. Selain itu, masyarakat dapat membayar pajak kendaraan secara nontunai. BI menjalankan program tersebut bersama pemerintah daerah setempat. Kolaborasi itu bertujuan mempercepat digitalisasi layanan publik di Sulawesi Tengah.
Program QRIS Tap memanfaatkan teknologi Near Field Communication (NFC). Teknologi tersebut memungkinkan transaksi berlangsung lebih mudah dan cepat. BI mengembangkan QRIS sebagai standar pembayaran berbasis kode QR di Indonesia. Sistem tersebut memungkinkan satu kode pembayaran melayani berbagai aplikasi pembayaran.
Selain praktis, BI juga menempatkan keamanan dan keandalan sebagai bagian penting QRIS. Karena itu, QRIS terus berkembang sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital nasional.
Di Sulawesi Tengah, perkembangan transaksi menunjukkan masyarakat semakin menerima metode pembayaran tersebut. Pertumbuhan pengguna dan merchant turut memperkuat perubahan menuju transaksi nontunai.
Capaian 47,53 juta transaksi hingga Juni 2026 menjadi sinyal kuat pertumbuhan pembayaran digital. Bahkan, angka tersebut sudah melampaui total transaksi sepanjang 2025. Pertumbuhan pengguna juga memperlihatkan basis masyarakat pengguna QRIS terus bertambah. Sementara itu, dominasi UMKM memperlihatkan pelaku usaha kecil menjadi penggerak utama ekosistem tersebut.
BI bersama pemerintah daerah terus memperluas penggunaan pembayaran digital. Mereka juga mendorong penerapan teknologi tersebut pada layanan publik. Dengan perkembangan itu, QRIS tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran. Sistem tersebut juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital Sulawesi Tengah. (P-*Ant/sm)

