
Pariwisata 2026 Indonesia tumbuh melesat dengan kunjungan wisma mencapai 1,09 Juta orang.(Ilustrasi/AI)PRIORITAS, 11/5/26 (Jakarta): Kinerja sektor pariwisata Indonesia pada awal 2026 menunjukkan tren yang sangat positif. Pertumbuhannya menunjukkan tren luar biasa. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), meningkatnya aktivitas perjalanan wisatawan nusantara, hingga ekspansi sektor usaha pendukung pariwisata menjadi sinyal kuat bahwa industri ini kembali menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional.

Data terbaru menunjukkan, sektor pariwisata ikut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Kontribusi industri pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional diperkirakan berada pada kisaran 4,01 hingga 5 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2026 mencapai sekitar 1,09 juta kunjungan. Angka tersebut meningkat sekitar 10,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan jumlah wisman dinilai menjadi indikator kuat pulihnya kepercayaan dunia internasional terhadap destinasi wisata Indonesia. Berbagai destinasi unggulan seperti Bali, Labuan Bajo, Danau Toba, hingga Raja Ampat terus menjadi magnet utama wisatawan asing.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan apresiasi atas capaian positif tersebut. Menurutnya, pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata Indonesia mampu bertahan dan terus berkembang di tengah tantangan global, termasuk dinamika geopolitik internasional.
“Kemenpar akan terus mendorong pengembangan produk wisata dan paket perjalanan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial budaya, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Widiyanti seperti dilansir dari Kompas.
Tidak hanya jumlah kunjungan yang meningkat, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara juga mengalami kenaikan. Rata-rata belanja per kedatangan atau Average Spending Per Arrival (ASPA) tercatat mencapai 1.345,61 dollar AS atau sekitar Rp 22,87 juta.
Nilai tersebut meningkat sekitar 5,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan belanja wisatawan menjadi sinyal bahwa kualitas destinasi, layanan wisata, serta pengalaman perjalanan di Indonesia semakin kompetitif di mata wisatawan global.
Pemerintah menilai peningkatan pengeluaran wisatawan asing memberikan dampak langsung terhadap perputaran ekonomi daerah, terutama pada sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan ekonomi kreatif.
Kinerja positif pariwisata juga tercermin pada pertumbuhan sejumlah lapangan usaha yang berkaitan langsung dengan industri wisata.
Sektor akomodasi serta makan dan minum tercatat tumbuh 13,14 persen dengan nilai ekonomi mencapai Rp 172,7 triliun. Sementara sektor transportasi dan pergudangan menyumbang sekitar Rp 378,3 triliun dengan pertumbuhan mencapai 8,04 persen.
Selain itu, jasa lainnya tumbuh 9,91 persen dengan kontribusi sekitar Rp 136,4 triliun, sedangkan jasa perusahaan tumbuh 4,91 persen dengan nilai mencapai Rp 122 triliun.
Menurut Widiyanti, capaian tersebut menunjukkan bahwa industri pariwisata memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian nasional. Aktivitas wisata tidak hanya menghidupkan destinasi, tetapi juga mendorong pertumbuhan usaha kecil, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan pendapatan masyarakat.
Di sisi lain, aktivitas wisatawan nusantara (wisnus) juga mengalami peningkatan signifikan. Pada Maret 2026, perjalanan wisatawan domestik mencapai sekitar 126,34 juta perjalanan atau meningkat 42,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Momentum libur Nyepi dan Idul Fitri disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendongkrak mobilitas masyarakat di dalam negeri. Tingginya perjalanan domestik memberikan dampak besar bagi okupansi hotel, transportasi publik, destinasi wisata daerah, hingga pelaku UMKM lokal.
Peningkatan perjalanan wisatawan nusantara juga menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap wisata domestik semakin tinggi, terutama untuk destinasi berbasis alam, budaya, dan pengalaman lokal.
Meski perjalanan warga Indonesia ke luar negeri juga meningkat, neraca pariwisata Indonesia masih mencatatkan surplus positif.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, tercatat surplus sekitar 0,94 juta kunjungan. Kondisi tersebut menandakan bahwa jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia masih lebih besar dibandingkan warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
Surplus ini dinilai penting karena berkontribusi terhadap masuknya devisa negara dan memperkuat stabilitas sektor jasa nasional. Pemerintah optimistis tren positif ini dapat terus berlanjut sepanjang 2026 seiring membaiknya konektivitas penerbangan, promosi destinasi, dan pengembangan event internasional di berbagai daerah.
Pemerintah menargetkan sektor pariwisata menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026. Selain mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, pemerintah juga fokus pada kualitas wisata berkelanjutan, pemerataan destinasi, dan penguatan ekonomi masyarakat lokal.
Berbagai strategi terus disiapkan, mulai dari pengembangan destinasi prioritas, digitalisasi layanan wisata, peningkatan kualitas SDM pariwisata, hingga promosi terpadu di pasar internasional.
Dengan capaian positif pada Triwulan I 2026, sektor pariwisata dinilai berada di jalur yang tepat untuk kembali menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.(P-sm)

