Mantan Perdana Menteri Nepal (kiri) dan para Generasi Z saat melakukan unjukrasa di ibukota Kathmandu tahun lalu.(ndtv)PRIORITAS, 28/3/26 (Kathmandu): Mantan Perdana Menteri Nepal, KP Sharma Oli bersama bekas Menteri Dalam Negeri, Ramesh Lekhak, ditangkap.
Mereka menghadapi tuduhan atas dugaan keterlibatan dalam penindasan brutal terhadap protes Generasi-Z (Gen-Z), yang menewaskan lebih 70 orang tahun lalu.
Penangkapan mereka berdua dilakukan aparat hukum hanya sehari setelah Balendra Shah yang mendapat dukungan Gen-Z dilantik sebagai Perdana Menteri Nepal yang baru.
Polisi Nepal menangkap Oli di kediamannya di Gundu, Bhaktapur.
“Mereka ditangkap pagi ini, dan prosesnya akan berjalan sesuai hukum,” kata juru bicara kepolisian Lembah Kathmandu, Om Adhikari, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Sabtu (28/3/26).
“Janji adalah janji dan tidak ada seorang pun yang kebal hukum”, kata Menteri Dalam Negeri yang baru dilantik, Sudan Gurung, hanya beberapa menit setelah penangkapan Oli.
“Kami telah mengendalikan mantan Perdana Menteri KP Sharma Oli dan mantan Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak. Ini bukan balas dendam terhadap siapa pun. Ini hanyalah awal dari keadilan. Saya percaya bahwa sekarang negara akan mengambil arah baru,” tulisnya dalam sebuah unggahan di X, lapor media NDTV.
Namun, Sharma Oli mengatakan penangkapannya dilakukan secara sewenang-wenang. “Saya akan memperjuangkan hak saya melalui jalur hukum,” katanya kepada media.
Unjukrasa anti korupsi
Nepal mendapat perhatian dunia setelah diguncang aksi unjukrasa hebat yang dimotori anak-anak berusia muda (generasi-Z) pada tanggal 8 dan 9 September tahun lalu.
Semula Gen-Z hanya memprotes pemblokiran media sosial, tetapi kemudian memicu kemarahan yang telah lama terpendam atas kesulitan ekonomi.
Mereka akhirnya memprotes pemerintahan Sharma Oli yang korupsi dan anak-anak para pejabat sering mengumbar kekayaan, sementara rakyat semakin miskin dan menderita.
Kerusuhan menyebar ke seluruh negeri pada hari berikutnya ketika gedung parlemen dan kantor pemerintah dibakar, yang mengakibatkan runtuhnya pemerintahan KP Oli.
Aksi unjukrasa itu justru mendapat tindakan represif aparat keamanan yang diduga kuat atas perintah Perdana Menteri saat itu, Sharma Oli. Lebih dari 70 orang, termasuk setidaknya 19 anak muda, tewas ditembak aparat.
Laporan komisi penyelidik menyatakan tidak terbukti adanya perintah untuk menembak, tetapi tidak ada upaya yang dilakukan untuk menghentikan atau mengendalikan penembakan.
Karena kelalaian pemerintah, anak-anak di bawah umur pun kehilangan nyawa.
Komisi penyelidikan juga merekomendasikan tindakan terhadap banyak pejabat tinggi lainnya, termasuk Inspektur Jenderal Kepolisian Nepal saat itu, Chandra Kuber Khapung.
Ancaman 10 tahun penjara
Dalam masa transisi, Ketua Mahkamah Agung perempuan pertama Nepal, Sushila Karki, memimpin pemerintahan sementara Nepal sebelum penyanyi Balen Shah terpilih.
Ia kembali dari masa pensiun untuk mengambil alih kepemimpinan sementara, dan masa jabatannya secara luas dipandang sebagai fase stabilisasi dalam perjalanan demokrasi Nepal yang rapuh.
Tak lama setelah rapper yang beralih menjadi politisi, Balendra Shah, memenangkan pemilihan parlemen Nepal, sebuah panel dibentuk untuk menyelidiki kekerasan selama protes anti-korupsi.
Rapat Kabinet pertama pemerintahan yang baru dibentuk di Nepal, yang dipimpin Balendra Shah pada hari Jumat, telah memutuskan untuk segera menerapkan laporan investigasi komisi tingkat tinggi tersebut.
Panel merekomendasikan ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun bagi mereka yang bertanggung jawab, termasuk Oli dan Lekhak, atas kelalaian selama pemberontakan, meskipun mereka menduduki posisi tinggi.(P-Jeffry W)