Duta Besar RI untuk Prancis, Monako, dan Andorra sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Mohamad Oemar.(Antara)PRIORITAS, 4/10/26 (Jakarta): Acara yang menampilkan kolintang tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan perdamaian.
Hal tersebut disampaikann Duta Besar RI untuk Prancis, Monako, dan Andorra sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Mohamad Oemar.
Sebelumnya kolintang dari Minahasa berpadu dengan balafon Afrika Barat dalam acara “Celebrating Kolintang” di Markas Besar UNESCO, Paris, pada Kamis (1/10/26).
Adapun kegiatan KBRI Paris/Delegasi Tetap RI untuk UNESCO tersebut mengusung pesan budaya sebagai ruang dialog dan kerja sama antarbangsa, demikian siaran pers KBRI Paris yang diterima di Jakarta, Sabtu.
“Di tengah dunia yang sering menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan, kebudayaan menawarkan kemungkinan lain, perbedaan membuka ruang dialog, dialog membangun kepercayaan, dan kepercayaan membantu kita membangun perdamaian,” jelasnya.
Menurut Dubes pengakuan dan apresiasi yang semakin luas terhadap suatu warisan budaya tidak menghapus identitas dan kepemilikannya, tetapi justru semakin memperkuat penghormatan terhadap warisan budaya tersebut.
Untuk perjalanan kolintang di UNESCO memiliki dimensi internasional yang kuat. Kolintang masuk dalam perluasan nominasi balafon yang diajukan Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire pada 2024, sehingga ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda bersama tradisi balafon.
Adapun kolintang dan balafon dari komunitas berbeda dipertemukan dalam semangat shared cultural heritage serta kerja sama lintas negara.
Sementara itu Assistant Director-General for Culture UNESCO Nayef Al-Fayez menekankan pentingnya warisan budaya dan peran komunitas dalam menjaganya bagi generasi mendatang.
“Semangat UNESCO bukan tentang siapa memiliki apa. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana komunitas tetap menjadi pusat, bagaimana pengetahuan diwariskan kepada generasi berikutnya, dan bagaimana sebuah warisan tetap hidup,” ungkapnya.
Kemudian pada kesempatan itu, Grup PINKAN Kolintang Indonesia membawakan sejumlah lagu nusantara, sementara seniman balafon menampilkan musik tradisional mereka. Keduanya kemudian berkolaborasi membawakan “La Vie en Rose” sebagai simbol perjumpaan budaya Asia-Afrika.
Untuk kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, sekaligus memperkenalkan kekayaan ekspresi budaya Indonesia kepada komunitas internasional di UNESCO, demikian isi siaran pers tersebut.(P-*/am)