PRIORITAS, 17/10/2026 (Jakarta): Pemerintah meningkatkan ambisi pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Indonesia. Target kapasitas nuklir pada tahap pertama yang sebelumnya direncanakan sebesar 500 megawatt (MW) kini didorong menjadi minimal 1.500 MW.
Rencana tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan listrik nasional dan upaya pemerintah memperluas pemanfaatan energi rendah emisi. Sejumlah negara juga telah menawarkan kerja sama teknologi nuklir kepada Indonesia, yakni Rusia, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Kanada.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, tawaran dari kelima negara tersebut menjadi bagian dari pembahasan pemerintah dalam menyiapkan pengembangan energi nuklir untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Rusia menawarkan teknologi nuklir di Indonesia. Jerman juga menawarkan hal yang sama. Jepang juga menawarkan yang sama. Korea, Kanada juga melakukan penawaran yang sama,” kata Bahlil dalam Simposium Ketahanan Energi di Aula Chapel Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Banten, Kamis (15/10/2026), melansir Waspada.id.
Target Kapasitas PLTN Dinaikkan Tiga Kali Lipat
Bahlil mengatakan, tawaran teknologi dari Rusia turut dibahas ketika dirinya mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pemerintah kini mendorong agar pengembangan PLTN masuk dalam perencanaan ketenagalistrikan nasional. Salah satu langkah yang ditempuh ialah meningkatkan target kapasitas nuklir tahap pertama dari 500 MW menjadi minimal 1.500 MW.
Bahlil meminta jajaran terkait memasukkan target tersebut ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Ia bahkan menegaskan tidak akan menandatangani dokumen tersebut apabila target kapasitas PLTN belum dicantumkan.
“Dalam rumusan RUPTL tadinya baru 500 megawatt yang kita mau bikin nuklir. Tapi dengan dorongan PIKI untuk harus nuklir, salah satu energi yang bersih, murah, maka Pak Dirjen, ini perintah Menko dan Menteri ESDM, masukkan minimal 1.500 megawatt tahap pertama untuk nuklir di tahun 2026 ini,” ujar Bahlil.
Peningkatan target tersebut membuka peluang bagi nuklir untuk berperan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan listrik, terutama seiring pertumbuhan industri dan aktivitas ekonomi. Namun, realisasi proyek tetap memerlukan kajian teknologi, pembiayaan, keselamatan, dan kesiapan regulasi.
Lokasi PLTN Pertama Paling Lambat 2027
Selain meningkatkan target kapasitas, pemerintah juga mematangkan penentuan lokasi pembangunan PLTN pertama di Indonesia.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, mengatakan pemerintah menargetkan penetapan lokasi atau tapak PLTN dapat dilakukan pada 2026 atau paling lambat 2027.
“Pemerintah sudah mengejar PLTN. Insya Allah di tahun 2026 atau 2027 paling lambat, pemerintah sudah menetapkan tapaknya,” kata Elen, sebagaimana dikutip Antara pada Rabu (30/9/2026).
Menurut Elen, penentuan lokasi akan disesuaikan dengan teknologi yang nantinya dipilih pemerintah. Karena itu, keputusan mengenai teknologi dan mitra kerja sama internasional menjadi bagian penting dalam persiapan proyek.
Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Rusia, sebelumnya juga telah menunjukkan minat untuk bekerja sama dalam pengembangan PLTN di Indonesia. Berbagai tawaran tersebut memberi pemerintah ruang untuk membandingkan kesiapan teknologi, kebutuhan investasi, dan pengalaman pengoperasian sebelum mengambil keputusan.
Kebutuhan Listrik Mencapai 600 TWh
Pengembangan energi nuklir turut didorong oleh proyeksi peningkatan konsumsi listrik nasional. Pada 2030, kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan mencapai 600 terawatt hour (TWh), sementara konsumsi listrik per kapita diproyeksikan mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh).
Peningkatan kebutuhan tersebut diperkirakan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, percepatan industrialisasi, dan bertambahnya aktivitas berbagai sektor usaha. Pemerintah perlu memastikan pasokan listrik tetap andal dan kompetitif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun industri. (P-*/sm)
PLTN menjadi salah satu pilihan dalam diversifikasi sumber energi karena mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar dengan emisi karbon operasional relatif rendah. Meski demikian, pemanfaatannya harus disertai pengelolaan keselamatan yang ketat, penanganan limbah radioaktif, kesiapan sumber daya manusia, dan kepastian pendanaan.
Dengan target kapasitas tahap pertama minimal 1.500 MW serta tawaran teknologi dari berbagai negara, pengembangan PLTN kini menjadi bagian penting dalam pembahasan strategi energi jangka panjang Indonesia.
Keputusan mengenai teknologi, lokasi, pembiayaan, dan mitra pembangunan akan menentukan tahapan realisasi proyek tersebut. Pemerintah juga perlu memastikan seluruh persyaratan keselamatan dan regulasi dipenuhi sebelum pembangunan dilaksanakan. (P-*/sm)








