PRIORITAS, 17/10/26 (Jakarta): Kementerian Perhubungan terus bersiaga menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan yang mulai mengancam kelancaran transportasi udara di wilayah timur Indonesia.
Sebanyak 16 bandar udara di Papua kini berada dalam pantauan ketat akibat sebaran kabut asap yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengatakan hal itu saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (17/10/26).
Dilansir dari Antara, Lukman menegaskan bahwa pihaknya melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I hingga Wilayah X terus menjalin koordinasi intensif.
Langkah ini melibatkan penyelenggara bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, BMKG, serta instansi terkait guna mengutamakan keselamatan dan keamanan sebagai prioritas utama.
Kabut asap sudah berdampak di bandara
Berdasarkan laporan terbaru dari Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X, sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan telah berdampak pada operasional belasan bandara di berbagai provinsi di Papua.
Di Provinsi Papua, dampak asap terpantau di Bandar Udara Sentani. Sementara di Provinsi Papua Tengah, wilayah yang terdampak meliputi Bandar Udara Mozes Kilangin di Timika, Bandar Udara Ilaga, dan Bandar Udara Ilu.
Kondisi serupa juga terjadi di Provinsi Papua Pegunungan yang berpusat di Bandar Udara Wamena, Bandar Udara Oksibil, dan Bandar Udara Dekai.
Wilayah Papua Selatan mencatatkan jumlah bandara terdampak paling banyak, mulai dari Bandar Udara Mopah di Merauke, Tanah Merah, Kepi, Ewer, Bade, Senggo, Manggelum, Yaniruma, hingga Bandar Udara Mindiptanah.
Keberadaan kabut asap ini secara langsung menurunkan jarak pandang di sekitar area landasan pacu. Penurunan visibilitas tersebut memicu risiko keterlambatan, penundaan, bahkan pembatalan jadwal penerbangan demi menghindari kecelakaan.
Β Gangguan penerbangan cukup signifikan
Secara nasional, gangguan penerbangan akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang tahun ini cukup signifikan. Data hingga pertengahan Oktober 2026 menunjukkan ada 2.021 penerbangan berjadwal dalam negeri yang terdampak sejak bulan Agustus lalu.
Dari total tersebut, ratusan penerbangan mengalami keterlambatan, seribuan jadwal terpaksa dibatalkan atau ditunda, dan belasan lainnya harus dialihkan atau kembali ke bandara asal.
Dampak kabut asap ini bahkan sempat memengaruhi penerbangan internasional, termasuk pembatalan sejumlah rute Singapura menuju Pontianak akibat pekatnya asap di Bandar Udara Supadio.
Selain faktor asap, tantangan penerbangan sipil belakangan ini juga ditambah oleh sebaran abu vulkanik dari Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono serta faktor cuaca buruk.
Diketahui, pemerintah sendiri terus mengupayakan penanggulangan dari udara melalui operasi bom air atau water bombing. Ribuan misi penerbangan telah dikerahkan dengan melibatkan puluhan pesawat udara di berbagai titik rawan kebakaran. (P-Ant/ht)








