Lompat ke konten
Minggu, 18 Oktober 2026
Breaking
INTERNASIONAL

Kota Paris hancur dibakar pendemo

Jeffry Wuisan5 menit baca
Bagikan
Kota Paris hancur dibakar pendemo
Gedung balai kota bersejarah di Limoges, Prancis, terbakar hebat diduga sengaja dilakukan para pengunjukrasa. (the independent)

PRIORITAS, 18/10/26 (Paris): Ibukota Prancis, Paris, hancur  akibat dibakar para pendemo sejak Sabtu hingga Minggu ini.

Kantor berita Prancis, France 24, menyebut Prancis seperti habis berperang karena ribuan sarana bisnis dan dagang hancur dibakar massa.

Prancis terguncang setelah protes kekerasan di seluruh negeri.

"Ibu kota mengalami tingkat kekerasan yang belum pernah kita lihat sebelumnya," kata wakil walikota Paris, Lamia El Aaraje.

Protes nasional itu telah merusak sekitar 1.500 bisnis dan menyebabkan kerugian yang diperkirakan mencapai ratusan juta euro.

Mobil-mobil sengaja dibakar, etalase toko-toko hancur berantakan.

Puing-puing yang terbakar memenuhi sejumlah jalan di Paris.

Tuding imigran

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan Prancis sedang terbakar.

Trump menyebut peristiwa tragis itu terjadi akibat masuknya imigran atau imigrasi orang-orang dari dunia yang sama sekali berbeda.

 "Orang-orang dengan kebencian di hati mereka, telah menghancurkan negara yang dulunya hebat itu. Tutup perbatasan Anda dan kendalikan keadaan, sebelum terlambat!", kata Presiden Trump di Truth Social.

Wakil Presiden AS, JD Vance,  juga ikut berkomentar di X dan menyebut kerusuhan itu terjadi karena Prancis telah "mengimpor negara-negara dunia ketiga".

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu dijadwalkan memimpin rapat krisis para menteri pada pukul 08:00 GMT hari Senin, menurut kantornya.

Mereka akan membahas asuransi dan bantuan untuk toko-toko yang terbakar serta penuntutan terhadap pelaku kekerasan.

Unjukrasa terbesar

Lebih dari setengah juta orang ikut unjukrasa nasional terbesar menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar, di Paris, Prancis.

Namun diduga ada kelompok radikal tertentu yang menyusup sehingga protes berubah jadi brutal  dengan aksi penjarahan terhadap pusat bisnis dan perdagangan. 

Toko-toko dijarah dan dibakar. Bahkan balai kota Limoges, yang bersejarah ikut dibakar.

Ratusan toko dijarah di Paris dan kota-kota lain, termasuk Marseille , Bordeaux , Nice, dan Strasbourg, selama protes itu.

"Rasanya seperti kita baru saja berperang," kata Mehmet Ozeden, seorang warga berusia 78 tahun di pusat kota Paris, di tengah barikade jalan yang terbakar akibat protes.

Gejolak tersebut meningkatkan tekanan bagi Presiden Emmanuel Macron , yang menjalani bulan-bulan terakhir kekuasaannya sebelum pemilihan untuk menggantikannya dalam waktu enam bulan.

Peristiwa ini terjadi setelah berminggu-minggu protes mahasiswa yang juga berubah menjadi kekerasan di beberapa kesempatan.


2000 orang ditangkap

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prancis, Laurent Nuñez mengatakan lebih 2000 orang ditangkap terkait protes dan penjarahan.

"Penyelidikan sedang berlangsung untuk mengidentifikasi pelaku tindakan ini agar mereka dapat dibawa ke pengadilan", kata Mendagri.

Satu orang meninggal dunia selama pawai utama di Paris, tetapi para pejabat mengatakan itu terkait masalah kesehatan dan bukan akibat kekerasan dalam protes tersebut.

Seorang warga Paris, Anita Gras, mengatakan ia melihat sekelompok pemuda menjarah toko sepatu olahraga.

"Mereka tetap di sana sampai jam 1:00 pagi, kami takut mereka akan melempari kami dengan barang-barang," katanya.

"Ini mengerikan, menakutkan – sekelompok anak muda datang ke sini kemarin (Sabtu), menjarah, menghancurkan segalanya, tanpa hukuman sama sekali," kata warga lain, Cecile Rogue, 57 tahun, sambil mengamati tumpukan sepeda yang hangus.

Kekacauan mengerikan

Kota Limoges kehilangan balai kotanya yang dibangun pada abad ke-19 akibat kebakaran yang dipicu demonstran.
 
Prefek setempat, Maurice Barate, mengatakan kepada saluran berita LCI,  kebakaran itu sengaja dilakukan sekelompok orang yang brutal. Kebakaran itu baru berhasil dipadamkan pada Minggu pagi.

Wali kota Lyon, Gregory Doucet, mengatakan kekacauan yang melanda kota selama beberapa jam itu sangat mengerikan.

Kantor informasi wisata di pusat kota Lyon dibakar selama protes yang diwarnai berbagai bentrokan dan penjarahan.

Saling tuding

Saling tuding politik pun terjadi. Pemerintah dan pemimpin sayap kanan Marine Le Pen,  menyalahkan kelompok-kelompok ultra-kiri, sementara pemimpin sayap kiri Jean-Luc Mélenchon menuduh pihak berwenang memicu ketegangan.

Wakil wali kota Paris dari Partai Sosialis, El Aaraje, menuduh partai Le Pen bertindak seperti orang yang suka membakar, menggunakan protes tersebut untuk memajukan ambisi kepresidenannya.

Para turis yang sedang menikmati kota Paris terkejut . Mereka terlihat berlarian sambil membawa koper di sepanjang jalan yang dipenuhi gas air mata dan demonstran pada hari Sabtu.

Seorang turis Denmark, Soren Petersen, mengatakan sangat "sedih" melihat kerusakan pada bangunan-bangunan di Paris. "Ini bukan protes, ini jauh melampaui protes biasa," katanya kepada AFP.

Seorang turis Amerika, Jill Burns, mengatakan "kami takut".

Sekitar 500 polisi, petugas pemadam kebakaran, dan paramedis terluka dalam protes tersebut, kata menteri dalam negeri.

Kekerasan itu terjadi di sela-sela protes nasional yang menurut kementerian dalam negeri dihadiri 550.000 orang. Serikat pekerja CGT mengatakan 800.000 orang ikut berpartisipasi.

Seorang remaja berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa di kota Saint-Étienne, Italia selatan.

Dilakukan geng

Analis Mujtaba Rahman dari lembaga think tank Eurasia Group mengatakan di X sebagian besar demonstrasi pada hari Sabtu berlangsung damai.

Ia mengatakan kekerasan berasal dari kelompok ekstrem kiri dengan penjarahan dilakukan geng-geng oportunis dari pinggiran kota miskin.

"Semua ini kabar baik untuk Marine Le Pen," katanya.

Gerakan Rompi Kuning Prancis, yang menggelar protes jalanan delapan tahun lalu terhadap pemerintahan Macron terkait rencana kenaikan pajak bahan bakar, menyerukan demonstrasi "kuning dan pemuda" pada hari Sabtu.

Keluhan utama adalah biaya hidup, yang meningkat sebagian akibat perang di Timur Tengah, yang telah menyebabkan inflasi melonjak di Eropa dan tempat lain. (P-*/jw)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami