Lompat ke konten
Senin, 19 Oktober 2026
Breaking
HEADLINE NEWSNASIONALHUMANIORAKESRATOKOHVIRAL

Dua tahun Prabowo-Gibran: Kemiskinan turun

Berkurang 920 ribu orang dibanding Maret 2025

Selvijn MJR3 menit baca
Bagikan
Dua tahun Prabowo-Gibran: Kemiskinan turun
Presiden Prabowo Subianto (kiri) disaksikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) saat menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/26) lalu. (Antara/Asprilla Dwi Adha)

PRIORITAS, 19/10/27 (Jakarta): Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebagaimana diungkap Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, tingkat kemiskinan di Indonesia turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026, dengan jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 22,93 juta orang dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Kurnia Ramadhana, Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom mengatakan, angka tersebut berkurang 920 ribu orang dibandingkan Maret 2025, berdasarkan data BPS.

"Pemerintah terus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan melalui perlindungan sosial, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat," ujar Kurnia dalam keterangan di Jakarta, Minggu (18/10/26).

Kemiskinan ekstrem juga menunjukkan tren penurunan

Di samping penurunan tingkat kemiskinan, kemiskinan ekstrem juga menunjukkan tren penurunan. Dalam periode 2021-2025, tingkat kemiskinan turun dari 10,14 persen menjadi 8,47 persen, sedangkan kemiskinan ekstrem berkurang dari 2,14 persen menjadi 0,85 persen.

Di periode yang sama, tingkat ketimpangan yang diukur melalui rasio Gini membaik dari 0,384 menjadi 0,375.

Perlindungan sosial berbasis data terpadu

Selanjutnya pemerintah juga mengembangkan perlindungan sosial berbasis data terpadu untuk meningkatkan ketepatan sasaran bantuan sekaligus memperkuat upaya keluarga agar dapat keluar dari kemiskinan.

Selain itu, pemerintah menjalankan kebijakan untuk menjaga daya beli pekerja melalui Bantuan Subsidi Upah (BSU).

Di tahun 2025, program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 17 juta pekerja yang memenuhi persyaratan, dengan bantuan Rp300.000 per bulan selama dua bulan atau Rp600.000 yang dibayarkan sekaligus kepada setiap penerima.

Memperluas kesempatan kerja melalui Program Magang Nasional

Selanjutnya pemerintah juga memperluas kesempatan kerja melalui Program Magang Nasional bagi lulusan perguruan tinggi. Program tersebut menargetkan 100.000 peserta pada 2025 dan meningkatkan kuota menjadi 150.000 peserta pada 2026.

Sebagaimana evaluasi program magang pada 2025 menunjukkan sekitar 30 persen peserta ditawari untuk melanjutkan bekerja dan diangkat menjadi karyawan tetap di perusahaan tempat mereka menjalani magang.

Adapun program tersebut diharapkan membantu meningkatkan kompetensi lulusan perguruan tinggi, memperkuat kesiapan memasuki dunia industri, dan memperluas peluang memperoleh pekerjaan yang lebih stabil.

Indeks Modal Manusia

Kemudian untuk mengukur kesejahteraan masyarakat, pemerintah juga menggunakan Indeks Modal Manusia sebagai salah satu indikator pembangunan pada 2025, dengan target sebesar 0,56.

Adapun ndikator ini digunakan untuk mengukur kemampuan dan kualitas daya saing sumber daya manusia Indonesia.

Beragam kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan kemiskinan, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Seperti Antara Sulut melansir, capaian tersebut menjadi salah satu perkembangan dalam upaya pengentasan kemiskinan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang sudah mencapai dua tahun pada 20 Oktober 2026. (P-*/sel)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami