PRIORITAS, 17/10/2026 (Jakarta): Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi riset dengan Tiongkok untuk mengoptimalkan pemanfaatan data penginderaan jauh satelit. BRIN-Tiongkok memperkuat kerja sama ini untuk mendukung pemetaan wilayah, pengelolaan sumber daya alam, pemantauan lingkungan, hingga mitigasi bencana di Indonesia.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan teknologi penginderaan jauh yang mampu mengamati kondisi daratan dan lautan secara terintegrasi. Pemanfaatan data satelit dinilai penting untuk menyediakan informasi yang lebih akurat bagi penelitian, perencanaan pembangunan, serta pengambilan keputusan.
Penguatan kerja sama tersebut dibahas dalam forum Indonesia–China Workshop on Satellite Remote Sensing Applications yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo, BRIN, Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (14/10).
Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, M. Rokhis Khomarudin, menegaskan bahwa kolaborasi kedua negara diperlukan untuk mengembangkan teknologi sekaligus memperluas pemanfaatan data penginderaan jauh sesuai kebutuhan Indonesia.
Menurut dia, keterhubungan antara wilayah daratan dan lautan Indonesia membutuhkan dukungan data serta metode observasi yang mampu mencakup kedua lingkungan tersebut.
BRIN Dorong Riset Bersama dan Pertukaran peneliti
Rokhis menjelaskan, delegasi Indonesia dan Tiongkok telah membahas rencana aksi melalui Indonesia–China Satellite Remote Sensing Application Center. Lokakarya tersebut juga menjadi ruang untuk memperluas keterlibatan peneliti, mahasiswa, praktisi, dan mitra dari berbagai institusi.
Ia mendorong peserta untuk aktif menguji gagasan, bertukar pengetahuan, serta mengidentifikasi peluang penelitian bersama. Bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan meliputi validasi data, penelitian kolaboratif, pertukaran mahasiswa, hingga publikasi ilmiah bersama.
BRIN juga menekankan pentingnya membangun kemitraan yang setara dan memberikan manfaat bagi kedua negara. Dengan pendekatan tersebut, kerja sama diharapkan tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi menghasilkan metode dan teknologi yang dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata.
Tiga prioritas kerja sama Indonesia–Tiongkok
Wakil Direktur Land Satellite Remote Sensing Application Center (LASAC), Yao Yijing, menyampaikan bahwa kerja sama penginderaan jauh satelit telah menjadi bagian dari hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok.
Kolaborasi itu berkembang melalui pertukaran teknis, penandatanganan perjanjian, serta peluncuran Indonesia Remote Sensing Cloud Node pada 2025. Teknologi penginderaan jauh berpotensi dimanfaatkan untuk survei dan pemetaan dasar, pengelolaan sumber daya alam, penanganan bencana, serta konservasi ekologi.
Yao menjelaskan, terdapat tiga prioritas utama untuk memperkuat kerja sama kedua negara.
Pertama, memperkuat mekanisme berbagi data agar citra penginderaan jauh beresolusi tinggi dari berbagai sensor dapat dimanfaatkan lebih luas, baik untuk penelitian ilmiah maupun penerapan di lapangan.
Kedua, memperluas penerapan teknologi penginderaan jauh sesuai kebutuhan Indonesia, terutama dalam konservasi ekologi, perencanaan kota, dan pengembangan sistem peringatan dini bencana. Solusi yang dikembangkan diharapkan mampu menjawab kebutuhan pengguna dan mendukung pengambilan keputusan secara lebih tepat.
Ketiga, memperluas pertukaran tenaga ahli teknis muda melalui eksperimen dan pelatihan bersama. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kolaborasi kedua negara.
Data satelit diharapkan dukung pembangunan
Yao berharap para peneliti dan teknisi dari Indonesia dan Tiongkok terus memperkuat pertukaran pengetahuan serta meningkatkan kemampuan teknis. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi penginderaan jauh satelit dapat semakin optimal dalam mendukung kepentingan kedua negara.
Penguatan kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas penelitian bersama, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mendorong penggunaan teknologi berbasis data dalam berbagai sektor pembangunan.
Bagi Indonesia, optimalisasi data satelit berpotensi memperkuat pengawasan lingkungan, mendukung perencanaan wilayah, meningkatkan kesiapsiagaan bencana, dan membantu pengelolaan sumber daya alam secara lebih efektif. (P-*r/sm)








