
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang. (Courtesy: Kompas.com)PRIORITAS, 27/4/26 (Cianjur, Jabar): Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan, kabar meninggalnya balita bernama M. Abdul Bais di Cianjur, Jawa Barat, bukan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berita tersebut dianggap tidak benar alias hoaks.

“Tidak benar meninggalnya bayi usia dua tahun di Cianjur karena program MBG,” kata Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/4/26).
Terkait kasus di Cianjur itu, Nanik menjelaskan, MBG diberikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukasirna 02 Leles kepada penerima manfaat pada 14 April 2026 dan langsung dikonsumsi pada hari yang sama. Menu yang disajikan meliputi mi kecap, telur dadar, susu, dan buah.
Diterangkan, dalam penelusuran diketahui, pada malam hari serta keesokan paginya, orang tua anak memberikan tambahan makanan berupa apel dan susu formula yang dibeli secara mandiri, di luar program MBG.

“Gejala baru muncul dua hari kemudian, tepatnya pada 16 April 2026, saat anak mulai mengalami muntah-muntah,” ujar Nanik, sebagaimana dilansir dari Antara.
Disebutkannya, dari total 2.174 penerima manfaat yang menerima MBG dari SPPG Sukasirna 02 Leles pada 14 April 2026, tidak ada satu pun yang mengalami gangguan pencernaan.
“Hal ini menjadi indikator bahwa makanan yang disalurkan dalam kondisi aman dan layak konsumsi,” jelasnya.
Nanik menambahkan, almarhum M. Abdul Bais terakhir mengonsumsi MBG pada Selasa (14/4/26). Pada Rabu keesokan harinya anak tersebut tidak mengonsumsi MBG karena menolak makan. Gejala kemudian muncul pada Kamis (16/4/26), sekitar pukul 06.00 WIB, berupa muntah dan diare.
Namun, sebagai tanda simpati, Nanik Sudaryati Deyang mengungkapkan, BGN menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya balita tersebut.
“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ananda M Abdul Bais. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” katanya.
Kematian murni karena sakit
Secara terpisah, ayah almarhum, Sahjanudin (41 tahun), dalam keterangannya memastikan kematian anaknya tidak berkaitan dengan program MBG.
“Saya orang tua dari Abdul Bais menyatakan kematian anak saya ini murni karena sakit. Enggak ada hubungannya dengan dapur MBG SPPG Sukasirna 02 Leles,” ucapnya.
Kendati demikian, kata Nanik, BGN menegaskan akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi secara ketat terhadap pelaksanaan program MBG guna memastikan keamanan serta kualitas makanan bagi seluruh penerima manfaat.
Diduga keracunan MBG
Sebelumnya diberitakan, seorang balita berinisial MAB (2), warga Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, meninggal dunia setelah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Korban sempat menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Dilansir dari Cianjurtimes.com, korban awalnya mendapat penanganan di Puskesmas Leles pada Selasa (14/4/26) setelah mengalami gejala mual, lemas, dan diare. Namun, kondisinya terus memburuk sehingga tenaga medis merujuknya ke RSUD Pagelaran pada Rabu (22/4/26) sore sekitar pukul 16.30 WIB.
Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), tim medis langsung memberikan penanganan intensif karena kondisi pasien tidak stabil.
Direktur RSUD Pagelaran, dr. Irfan Nur Fauzi, menyebut korban datang dengan kondisi lemah disertai pembengkakan pada tangan dan kaki.
“Pasien langsung kami tangani karena kondisinya tidak stabil, lemas, pusing, serta mengalami pembengkakan pada ekstremitas,” ujar Irfan, Sabtu (25/4/26).
Meski telah mendapatkan penanganan maksimal, kondisi korban tidak menunjukkan perbaikan. Setelah menjalani perawatan selama hampir 12 jam, tim medis menyatakan korban meninggal dunia.
Irfan menjelaskan, hasil diagnosis menunjukkan korban mengalami syok septik, kondisi serius akibat infeksi berat yang menyebabkan gangguan pada organ tubuh. “Diagnosisnya syok septik. Sejak awal pasien juga memiliki riwayat diare,” jelasnya.
Menunggu hasil lab
Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Cianjur, Made Setiawan mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan pasien tersebut meninggal akibat keracunan yang disebabkan mengonsumsi MBG atau tidak.
“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium, guna memastikan apakah pemicu keracunan dari makanan atau faktor lain,” kata Made Setiawan, Sabtu (25/4/26).
“Kami segera umumkan setelah hasilnya keluar sekitar satu pekan ke depan,” tambah Made Setiawan. (P-*/ht)

