PRIORITAS, 31/8/26 (Jakarta): Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) bersiap memperkuat kontribusi sektor ekonomi kreatif (ekraf) ke dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).
Kemenekraf akan memfokuskan program kerjanya pada hilirisasi, peningkatan produktivitas, hingga upaya penurunan kemiskinan demi mendorong transformasi ekonomi nasional.
Hal itu diungkapkan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (31/8/26).
Ia menegaskan, mulai 2027 ekonomi kreatif tidak boleh lagi berjalan sebagai program sektoral biasa, melainkan harus menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.
"Pada tahun 2027 kami akan lebih memfokuskan program dan kegiatan pada agenda yang memiliki keterkaitan langsung dengan PKPN," ujar Teuku Riefky.
Tiga strategi utama
Lebih lanjut Teuku Riefky mengatakan, Kemenekraf telah merumuskan tiga program fokus utama untuk membangun ekosistem ekraf yang kuat dari tingkat akar rumput.
Pertama, aktivasi desa kreatif, di mana Kemenekrafr mendorong pengembangan potensi dan aktivitas ekonomi kreatif di wilayah pedesaan dan kelurahan.
Kedua, aktivasi kreatif hub, yaitu membangun serta mengoptimalkan ruang kreatif daerah sebagai pusat inovasi dan kolaborasi talenta lokal.
Ketiga, kreatif by Indonesia berupa penguatan produk kreatif-derivatif agar mampu menciptakan nilai tambah serta menembus akses pasar yang lebih luas.
Langkah-langkah tersebut, kata Menekraf, diharapkan dapat menyentuh langsung ekonomi kerakyatan, menciptakan lapangan kerja baru di daerah, serta berkontribusi langsung pada penurunan angka kemiskinan.
Lonjakan target kinerja 2027
Teuku Riefky memaparkan, target indikator makro sektor ekonomi kreatif pada tahun 2027 mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Terkait hal itu, pemerintah membidik angka-angka besar, yaitu Nilai Investasi Ekraf, di mana target melesat hingga Rp205 triliun – Rp211 triliun. Selanjutnya Nilai Ekspor, dibidik mencapai 37,42 miliar dolar AS – 38,72 milar dolar AS, Penyerapan Tenaga Kerja yang diharapkan mampu menampung 28,5 juta – 29,55 juta orang, serta Pertumbuhan PDB Ekraf, ditargetkan tumbuh di angka 7,1 persen – 7,24 persen.
"Oleh karena itu, pencapaian target ini perlu didukung oleh program, anggaran, serta intervensi yang lebih terarah," tambahnya.
Ajukan anggaran Rp1,73 triliun
Untuk memuluskan pencapaian target raksasa tersebut, Kemenekraf mengusulkan kebutuhan anggaran tahun 2027 sebesar Rp1,73 triliun.
Dana tersebut rencananya akan dialokasikan untuk program flagship, perluasan akses pembiayaan berbasis Kekayaan Intelektual (KI), digitalisasi talenta, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera.
Kendati demikian, ujarnya, tantangan besar menanti. Saat ini berdasarkan pagu indikatif yang ada, Kemenekraf baru mendapatkan alokasi sebesar Rp428,6 miliar—atau hanya sekitar 25 persen dari total kebutuhan anggaran yang diusulkan. (P-Ant/ht)








