
Kepala BPS Provinsi Gorontalo Agus Sudibyo (kanan) menyampaikan rilis perkembangan inflasi daerah, di aula kantor BPS Provinsi Gorontalo, Kamis (01/10/2026). (‘Courtesy’ Antara/Zulkifli Polimengo)PRIORITAS, 2/10/26 (Gorontalo): Lonjakan harga cabai rawit ikut mengerek inflasi Provinsi Gorontalo sepanjang September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) mencapai 1,91 persen dibandingkan Agustus 2026.

Kepala BPS Provinsi Gorontalo Agus Sudibyo mengatakan kenaikan tersebut menunjukkan adanya peningkatan harga barang dan jasa konsumsi masyarakat selama September. Cabai rawit menjadi salah satu komoditas pangan yang memberikan tekanan cukup besar terhadap pergerakan harga di daerah.
“Kenaikan inflasi sebesar 1,91 persen pada September 2026 ini, menunjukkan terjadinya peningkatan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat Gorontalo jika dibandingkan dengan Agustus lalu,” kata Agus, mengutip Antara.
Kenaikan harga cabai rawit sebelumnya memang telah terlihat di sejumlah pasar di Gorontalo. Pada September, harga komoditas tersebut bahkan sempat mencapai Rp160 ribu per kilogram di Kota Gorontalo, naik dari sekitar Rp70 ribu per kilogram. Kondisi tersebut terjadi di tengah terbatasnya pasokan lokal akibat musim kemarau.

Di Kabupaten Gorontalo Utara, tekanan harga bahkan lebih tinggi. Harga cabai rawit bersih tanpa tangkai sempat mencapai Rp200 ribu per kilogram, sedangkan cabai yang masih bertangkai berada di kisaran Rp160 ribu per kilogram. Pedagang menyebut pasokan lokal berkurang karena petani mengalami gagal produksi akibat musim kemarau.
Kondisi pasokan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat harga cabai rawit bergerak tinggi. Sebelumnya, pemerintah daerah juga menyebut produksi cabai menurun karena cuaca panas, sementara kebutuhan masyarakat terhadap komoditas tersebut tetap tinggi.
Selain cabai rawit, komoditas lain yang ikut memberikan andil terhadap inflasi Gorontalo pada September adalah daging ayam ras.
Menurut Agus, kenaikan harga daging ayam berkaitan dengan meningkatnya biaya pada rantai pasok pakan ternak. Salah satu faktor yang memengaruhi biaya tersebut adalah kenaikan harga jagung yang menjadi bahan penting dalam pakan ternak.
Dengan demikian, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari satu komoditas pangan. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat secara bersamaan turut mendorong inflasi bulanan Gorontalo pada September 2026.
BPS mencatat inflasi September yang mencapai 1,91 persen tersebut turut meningkatkan akumulasi inflasi sepanjang tahun atau year to date (y-to-d) menjadi 4,44 persen.
Angka tersebut menjadi perhatian karena berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen sebagaimana keterangan BPS. Kondisi ini membuat upaya menjaga kestabilan harga pangan menjadi semakin penting bagi pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Tekanan harga pangan juga sebelumnya telah menjadi perhatian dalam perkembangan perekonomian Gorontalo. Bank Indonesia mencatat cabai rawit sebagai salah satu komoditas strategis yang berkontribusi terhadap tekanan inflasi, antara lain karena berkurangnya pasokan lokal dan terbatasnya pasokan dari luar daerah.
BPS mengingatkan bahwa perkembangan inflasi perlu mendapat perhatian karena memiliki keterkaitan dengan kondisi kemiskinan masyarakat.
Agus menjelaskan bahwa dalam metodologi BPS, garis kemiskinan dihitung dengan mempertimbangkan perkembangan harga kebutuhan masyarakat. Ketika harga terus meningkat, garis kemiskinan juga dapat mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan apabila kenaikan harga kebutuhan pokok tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan masyarakat.
Karena itu, pengendalian harga pangan, terutama komoditas yang mengalami lonjakan seperti cabai rawit, menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan tekanan inflasi di Gorontalo. (P-*/Ant/sm)

