
Kampus University of New South Wales di Sydney. Australia kini prioritaskan mahasiswa asing asal Asia Tenggara.PRIORITAS, 7/8/25 (Canberra): Pemerintah Federal Australia menaikkan batas jumlah mahasiswa asing menjadi 295.000 pada tahun 2026 dengan memprioritaskan dari kawasan Asia Tenggara.

Jumlah kuota mahasiswa internasional itu, meningkat 9% dari batas 270.000 yang ditetapkan pada tahun 2025 ini.
“Ini tentang memastikan pendidikan internasional tumbuh dengan cara yang mendukung mahasiswa, universitas, dan kepentingan nasional,” kata Menteri Pendidikan Australia, Jason Clare, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Beritaprioritas.com dari Education Post, hari Kamis (7/8/25).
Batas yang direvisi mencakup tambahan 25.000 tempat siswa dan diharapkan memberi manfaat bagi pelamar dari negara-negara Asia Tenggara, yang menjadi prioritas pemerintah dalam kerangka penerimaan yang diperbarui.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menstabilkan tingkat migrasi sekaligus mendukung pertumbuhan sektor pendidikan internasional.
Harga perumahan naik
Pemerintah Federal pertama kali memberlakukan batasan jumlah mahasiswa internasional tahun lalu, sebagai respons terhadap rekor tingkat migrasi yang menyebabkan kenaikan tajam harga perumahan di Australia.
Meskipun adanya pembatasan, Australia masih memberikan hampir 600.000 visa pelajar selama tahun keuangan 2023, karena banyaknya mahasiswa asing yang kembali setelah pandemi.
Asisten Menteri Pendidikan Internasional, Julian Hill, mengatakan langkah-langkah yang diperkenalkan selama setahun terakhir membantu mengekang pertumbuhan berlebihan dalam migrasi pelajar. “Angka-angka itu tumbuh tak terkendali,” ujarnya.
Pemerintah Australia telah mengambil keputusan sulit selama 12 bulan terakhir, yang tidak selalu disukai sektor ini, untuk menurunkan angka-angka tersebut dan membawanya ke kondisi yang lebih berkelanjutan.
Bersamaan dengan pembatasan tersebut, pemerintah juga telah memperketat peraturan visa dan menaikkan biaya pendaftaran bagi mahasiswa asing lebih dari dua kali lipat pada tahun 2024.
Tutup celah hukum
Perubahan-perubahan ini merupakan bagian dari rencana untuk menutup celah hukum, yang memungkinkan mahasiswa tetap tinggal di Australia tanpa batas waktu, dengan memperpanjang masa tinggal berulang kali.
Berdasarkan kebijakan baru, sekitar dua pertiga tempat mahasiswa akan diberikan kepada sektor universitas dan sepertiga sisanya untuk program pelatihan kejuruan.
Universitas negeri yang ingin memperluas alokasi mereka, harus dapat menyediakan perumahan yang aman dan terjamin bagi mahasiswa domestik dan internasional, serta merekrut lebih banyak pelamar dari Asia Tenggara.
“Penting bagi kekuatan lunak Australia di masa depan bahwa kita terus membawa yang terbaik dan tercerdas dari tetangga kita (Asia Tenggara), untuk memiliki sedikit Australia bersama mereka selama sisa hidup mereka,” kata Hill.
Kurangi China
Dorongan untuk mempererat hubungan dengan Asia Tenggara merupakan bagian dari agenda kebijakan luar negeri Perdana Menteri Anthony Albanese, yang lebih luas ditujukan untuk mengurangi ketergantungan negara tersebut pada China, yang masih menjadi sumber utama mahasiswa internasional selain India.
Universities Australia, badan puncak yang mewakili sektor pendidikan tinggi, menyambut baik langkah pemerintah tersebut.
“Universitas telah menyerukan pertumbuhan di sektor yang sangat penting ini, dan pemerintah telah menghormatinya,” kata CEO Luke Sheehy, menyebut revisi batas tersebut sebagai langkah maju yang “masuk akal”.
Pendidikan internasional merupakan salah satu sektor ekspor terbesar Australia, menyumbang lebih dari A$51 miliar ($33,05 miliar) terhadap perekonomian pada tahun 2024.
Negara ini juga terus memiliki salah satu proporsi mahasiswa asing tertinggi dalam sistem pendidikan tingginya secara global.(P-Jeffry W)

