Dampak obesitas terhadap kesehatan manusia

Armin Mandika
Selasa, 29 September 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 29/9/26 (Jakarta): Dampak obesitas tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung, tetapi juga sistem kelistrikan jantung dan risiko gangguan irama seperti fibrilasi atrium.


Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA mengatakan bahwa dampak obesitas tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, memengaruhi sistem kelistrikan jantung, dan meningkatkan risiko gangguan irama seperti fibrilasi atrium.

“Obesitas tidak lagi sekadar persoalan kelebihan berat badan. Pemahaman medis mengenai obesitas telah berkembang, dari sekadar faktor risiko menjadi penyakit kronis yang dapat berkontribusi terhadap gangguan pada jantung dan pembuluh darah,” jelas dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA kata Bobby dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Menurut Bobby berbagai faktor yang menyertai obesitas, termasuk inflamasi kronis, dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular dan berkontribusi terhadap aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.


Jika penumpukan plak terjadi pada pembuluh darah koroner, aliran darah ke otot jantung akan berkurang sehingga berisiko menjadi penyakit jantung koroner, sehingga penanganan obesitas sejak dini menjadi bagian penting dalam pengelolaan risiko penyakit kardiovaskular.

Menurut dokter lulusan Universitas Andalas itu memaparkan temuan studi SELECT yang melibatkan lebih dari 17 ribu orang dengan berat badan berlebih atau obesitas, memiliki penyakit kardiovaskular, dan tanpa diabetes.

Untuk populasi tersebut, terapi berbasis GLP-1 RA ditemukan menurunkan risiko relatif kejadian kardiovaskular mayor (MACE) sebesar 20 persen dibandingkan dengan plasebo.

Sementara itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia lulusan Universitas Indonesia dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), mengatakan obesitas juga dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium.

Dikatakan Rizky, risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh perubahan struktural dan metabolik, proses inflamasi, serta faktor yang berkaitan dengan tidur.

“Obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium melalui berbagai mekanisme. Penurunan berat badan yang dicapai dan dipertahankan secara berkelanjutan dapat membantu mengurangi frekuensi dan/atau durasi episode fibrilasi atrium, sekaligus memperbaiki faktor risiko kardiovaskular lainnya,” jelasnya.(P-*/am)

 

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan