Dokter ungkap tiga langkah sederhana cegah risiko obesitas

Khalied Malvino
Sabtu, 15 Agustus 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 15/8/26 (Jakarta): Masyarakat diminta tak menunggu penyakit penyerta muncul untuk mulai menangani obesitas. Dokter gizi mendorong warga mengenali perubahan tubuh, memantau berat badan dan lingkar perut, lalu segera mengambil langkah penanganan.


Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Erwin Christianto mengatakan kenaikan berat badan perlu mendapat perhatian sejak awal. Menurut dia, kondisi tubuh tanpa keluhan tidak otomatis menunjukkan seseorang bebas dari risiko kesehatan.

Peringatan tersebut Erwin sampaikan saat peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta, Jumat.

“Yang penting adalah jangan menunggu sakit dulu. Jangan berat badan bertambah terus, terus kolesterol naik, kolesterolnya dijadikan bahan obrolan. ‘Gue nggak kerasa apa-apa’. Itu akan menyebabkan nanti menjadi terlambat penanganannya,” ungkap Erwin, seperti dilansir dari Antara, Sabtu (15/8/26).


Erwin kemudian mengenalkan tiga tahapan sederhana untuk mengenali risiko obesitas. Ia merangkumnya dalam istilah AMATI, UKUR, dan BERTINDAK.

Tahap pertama berfokus pada perubahan fisik. Masyarakat dapat mulai memperhatikan perubahan ukuran tubuh melalui pakaian sehari-hari.

Ukuran baju pada bagian perut atau lengan dapat menjadi salah satu tanda perubahan tubuh. Erwin meminta masyarakat tidak mengabaikan kondisi tersebut.

“Kalau Anda tiba-tiba pakai baju, kok lengannya jadi sempit ya? Perutnya kok jadi sempit? Di kancing baju kok jadi sempit? Nah, itu harus hati-hati,” ujarnya.

Setelah mengenali perubahan fisik, masyarakat masuk pada tahap UKUR. Pemantauan berat badan dan lingkar perut secara berkala dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai perubahan kondisi tubuh.

Erwin menyebut lingkar perut 90 sentimeter untuk laki-laki serta 80 sentimeter untuk perempuan sebagai batas kewaspadaan terhadap obesitas sentral.

Angka tersebut juga masuk dalam petunjuk teknis Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan. Temuan obesitas sentral dapat menjadi dasar pemeriksaan lebih lanjut terhadap risiko penyakit serta komplikasi terkait obesitas.

Tahap terakhir berupa tindakan. Masyarakat perlu mulai memperbaiki pola hidup, mencari informasi kesehatan dari sumber tepercaya, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila membutuhkan pendampingan.

Erwin juga mengarahkan masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis. Program tersebut memungkinkan warga memeriksa sejumlah indikator kesehatan, termasuk tekanan darah dan gula darah.

Pada 2026, pemerintah juga mengarahkan Cek Kesehatan Gratis tidak berhenti pada pemeriksaan awal. Hasil skrining dapat menjadi dasar tindak lanjut bagi peserta dengan temuan masalah kesehatan.

Erwin menegaskan masyarakat perlu mengambil langkah setelah mengetahui kondisi tubuh melalui pemeriksaan.

“Setelah itu semua, maka Anda harus bertindak,” kata Erwin.

Ia kembali mengingatkan masyarakat untuk memulai penanganan sedini mungkin. Obesitas tidak perlu menunggu kemunculan diabetes atau gangguan metabolik sebelum mendapat perhatian. (P-*/Khalied M)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan