Golkar langgeng di 8 presiden, sejak reformasi selalu masuk papan atas survei

Jeffrey Rawis
Selasa, 11 Agustus 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 11/8/26 (Jakarta): Berdiri di era Bung Karno, organisasi kekaryaan ini eksis bersama Kabinet Karya pimpinan Juanda atas dukungan presiden. Lalu, di awal dekade 1960-an, masih di era Presiden Sukarno, sejumlah organisasi kekaryaan membentuk Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).


Eksistensi Sekber Golkar (gabungan SOKSI, Kosgoro, MKGR, Gakari dll — yang kemudian disebut kelompok induk organisasi/Kino) ini ternyata semakin berkembang di masa Soeharto. Bahkan pak Harto menjafikannya sebagai salah satu basis politik inti (bersama ABRI dan Korpri), sehingga berhasil memenangkan seluruh Pemilu di era Orde Baru, dan sekali di era reformasi (2004). Artinya, dia merupakan partai tertua dan banyak merasakan kejayaan sebagai sang juara, karena kaderisasinya terus berlangsung dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Hingga 2004, Sekber Golkar, lalu Golkar dan bereinkarnasi jadi Partai Golkar (di era reformasi), kekuatan politik berlambang pohon beringin (Sila Ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia) ini telah berakar, tumbuh serta berkembang di medan perpolitikan nasional di era kepemimpinan 8 presiden (Bung Karno, pak Harto, Mister Habibie, Gus Dur, mbak Mega, SBY, Jokowi hingga Prabowo alias 08). Tentu dengan melewati berbagai pergumulan perjuangan, malah sempat terancam dibubarkan lewat ‘rancangan’ Dekrit Presiden Gus Dur.

Tetap eksis berjaya


Secara khusus, di era reformasi, ditandai dengan semakin cairnya ‘mobilitas’ kader partai politik (Parpol), simpatisan Partai Golkar (PG) tetap setia berkontribusi bagi partai kuning ini. PG memang jarang melahirkan kader ideologis seperti PDIP, tapi militansi pendukung Golkar agaknya tak kalah fanatiknya.

Itu sebabnya, Golkar (bersama fungsionarisnya) terus berjaya dan dalam aneka survei politik lembaga mana saja yang memang jadi tren di era redoemasi, partai ini selalu ada di papan atas. Artinya ‘brand’-nya (termaduk para tokohnya) tetap memukau pemilih aneka usia (hingga Gen Z bahkan Alpha). Tetap laris di segala musim.

Golkar ke-3 elektabilitas

Karenanya, terkini, survei Indonesia Political Opinion (IPO), dalam kategori elektabilitas partai politik, Partai Golkar memperoleh 10,4 persen dan berada di posisi ketiga. Golkar berada di bawah Partai Gerindra dengan 17,5 persen dan PDI Perjuangan dengan 12,8 persen.

Lalu, partai politik lainnya yang masuk dalam survei IPO yakni Partai Demokrat 8,1 persen, PKB 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan Partai NasDem 4,4 persen.

Popularitas Ketum PG

Survei itu juga menempatkan Ketua Umum PG, yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di posisi tiga besar dalam dua kategori berbeda. Popularitas serta kinerja menteri.

Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia di posisi tiga besar dalam dua kategori berbeda. Bahlil berada di peringkat ketiga dalam penilaian responden terhadap kinerja menteri Kabinet Merah Putih dengan perolehan 32,0 persen. Sementara itu, Partai Golkar menempati posisi ketiga dalam kategori elektabilitas partai politik dengan 10,4 persen. (Antara/Asprilla Dwi Adha)

 

Ya, Bahlil berada di peringkat ketiga dalam penilaian responden terhadap kinerja menteri Kabinet Merah Putih dengan perolehan 32,0 persen. Sementara itu, Partai Golkar menempati posisi ketiga dalam kategori elektabilitas partai politik dengan 10,4 persen.

Memang, Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, khusus tentang penilaian publik terhadap kinerja menteri memiliki keterkaitan dengan tingkat popularitas masing-masing tokoh.

“Persepsi publik terhadap menteri yang dianggap bekerja dengan baik, ini linier dengan popularitas. Menteri Purbaya menempati posisi teratas, kemudian Seskab Teddy Indra Wijaya pada posisi kedua. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketiga,” kata Dedi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (10/8/26) kemarin.

Ke-3 kinerja menteri

Selanjutnya dalam survei tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menempati posisi pertama dalam penilaian kinerja menteri dengan 42,8 persen. Posisi kedua ditempati Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan 33,5 persen, sedangkan Bahlil berada di posisi ketiga dengan 32,0 persen.

Juga Bahlil juga masuk tiga besar dalam tingkat popularitas. Dia memperoleh 32,8 persen, berada di bawah Purbaya dengan 43,5 persen dan Teddy sebesar 41,0 persen.

Dedi menambahkan, persepsi masyarakat terhadap pemerintah dan para menteri bersifat dinamis. Penilaian publik dapat berubah mengikuti perkembangan sosial politik dan kebijakan pemerintah.

“Jadi, memang kondisi masyarakat saya kira selalu dinamis dalam memberikan penilaian,” ujar Dedi Kurnia Syah.

Adapun survei IPO, menurut Beritasatu.com, dilaksanakan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden. Responden dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling. Survei tersebut memiliki margin of error sekitar 2,9 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Kadi, berdasar hasil survei ini, menunjukkan posisi Ketua Umumnya, Bahlil Lahadalia dan Partai Golkar dalam tiga besar, meski penilaian publik terhadap tokoh politik maupun partai masih dapat berubah seiring perkembangan politik dan kebijakan pemerintah. (P-*/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan