
Area eksplorasi minyak. (‘Courtessy’ CNBC Indonesia/Pexels)PRIORITAS, 26/4/26 (Jakarta): Agaknya semakin terbukti, selain petaka, perang juga membawa keuntungan kepada para pihak yang memanfaatkannya. Dan informasi terkini, perang Iran ternyata membuat banyak negara mengalihkan pembelian minyak dari negara lain ke Amerika Serikat (AS). Dari Teluk Meksiko hingga pantai Timur Amerika Serikat (AS), muatan minyak mentah dan bahan bakar bergerak panjang menuju timur. Arusnya deras, volumenya memecahkan rekor dan termotivasi urgensi. Semua ini membuat AS untung besar.

Akan tetapi, berdasarkan riset CNBC Indonesia, yang dikutip Beritaprioritas.com, Minggu (26/4/26), tambahan pasokan dari AS itu masih terlalu kecil untuk menutup kehilangan barel dari Timur Tengah setelah perang melawan Iran dan lumpuhnya jalur Selat Hormuz saat ini.
Sebagaimana laporan Kpler yang dikutip Reuters, memperkirakan ekspor minyak mentah Amerika mencapai 5,44 juta barel per hari pada April 2026 dan diperkirakan naik lagi menjadi 5,48 juta barel per hari pada Mei 2026 nanti.
Tegasnya, ini menjadi dua bulan terkuat dalam sejarah ekspor minyak AS. Sebagai pembanding, Januari berada di 3,94 juta barrel per hari dan Februari 3,86 juta barel per hari, sebelum konflik memanas pada akhir Februari 2026 lalu.

Ubah perdagangan global
Dilaporkan, akibat kenaikan itu, mengubah perdagangan global. Asia, kawasan yang paling terpukul akibat gangguan Selat Hormuz, menyerap porsi besar tambahan minyak Amerika ini.
Diperkirakan, ekspor minyak mentah AS ke Asia mencapai 2,27 juta barel per hari pada April dan melonjak ke 3,29 juta barel per hari pada Mei. Angka Mei hampir tiga kali lipat dibanding Januari sebesar 1,11 juta barel per harinya.
Asia sangat kehilangan
Adapun dalam praktiknya, pasar tetap kekurangan napas. Sebab kehilangan pasokan dari Timur Tengah jauh lebih besar daripada tambahan yang datang dari Amerika tersebut.
Diketahui, total ekspor minyak via laut menuju Asia diperkirakan hanya 14,8 juta barel per hari pada April 2026. Sebulan sebelumnya masih 18,63 juta barel per hari. Pada Februari sempat 24,87 juta barel per hari dan Januari 24,24 juta barel per harinya.
Ini berarti, Asia memang kehilangan sekitar 10 juta barel per hari dibanding level sebelum perang. Kekosongan sebesar itu tak bisa lama ditambal dari cadangan komersial. Kilang dapat mengandalkan stok sementara waktu, tetapi persediaan selalu memiliki batas. Ketika tangki mulai menipis, harga akan berbicara lebih keras daripada pidato politik semata.
Ekspor olahan AS
Ternyata masalah serupa terjadi pada bahan bakar jadi. Ekspor produk olahan AS diperkirakan naik menjadi 3,59 juta barel per hari pada April 2026, dengan 386 ribu barel per hari mengalir ke Asia. Pada Januari total ekspor produk AS hanya 2,83 juta barel per hari dan yang menuju Asia cuma 132 ribu barel per hari. Ada tambahan sekitar 254 ribu barel per hari ke Asia. Bagi importir yang haus diesel, bensin, dan jet fuel, ini membantu. Bagi neraca kawasan, ini masih terlalu tipis sekali.
Di pihak lain, ekspor bahan bakar yang biasanya menyeberang Selat Hormuz menuju Asia runtuh drastis. Januari masih mencapai 1,58 juta barel per hari. Pada April diperkirakan tinggal 11 ribu barel per hari. Itu seperti pipa raksasa yang mendadak mengecil menjadi sedotan.
Menguntungkan produsen energi AS
Lanjut, ledakan ekspor Amerika tentu menguntungkan produsen energi di sana. Harga yang tinggi dan permintaan global yang mendesak menciptakan pasar premium. Namun konsumen domestik AS ikut menghadapi tekanan karena pembeli luar negeri kini berebut pasokan yang sama. Ketika barel bisa dijual ke Asia dengan harga lebih menarik, pasar domestik tak lagi menjadi prioritas alami.
Selain itu, ada pula pertanyaan soal daya tahan. Sebagian volume ekspor diduga terbantu pelepasan cadangan strategis.
Sebelumnya Washington mengumumkan 172 juta barel minyak akan tersedia lewat skema pinjaman dari Maret hingga Juli. Perusahaan yang mengambil minyak wajib mengembalikan volume tersebut plus tambahan barel sebagai bunga di kemudian hari. Ini memberi ruang napas jangka pendek, bukan sumber pasokan permanen.
Bilamana ekspor AS mulai melunak pada Juli sementara Hormuz masih tertutup bagi banyak kapal, tekanan ke Asia dapat naik ke level baru. Saat itu pasar tak lagi sekadar mencari barel murah. Pasar akan mencari barel apa pun yang tersedia. Demikian CNBC Indonesia Research. (P-*r/jr)

