Warga korban rezim Iran dan pejabat Israel kecewa gencatan senjata Trump

Jeffry Wuisan
Kamis, 9 April 2026
6 menit membaca

PRIORITAS, 9/4/26 (Teheran): Para warga korban penindasan rezim di Iran dan para pejabat di Israel sangat kecewa terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang memberlakukan gencatan senjata selama dua pekan dalam perang menyerang Iran.


Mereka menilai penghentian serangan militer AS dan Israel tersebut, memupus harapan rakyat Iran untuk bisa hidup baru, karena rezim yang kejam masih bertahan.

“Gencatan senjata memicu kemarahan dan memupus harapan yang rapuh di kalangan warga Iran”, demikian dilaporkan media Iran International, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis (9/4/2026).

Banyak warga Iran yang mengirimkan pesan kecewa ke media Iran International, menggambarkan perasaan ditinggalkan Presiden Donald Trump.


Gencatan senjata selama dua minggu itu diumumkan setelah pertempuran selama berminggu-minggu,  yang dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Pesan-pesan dari seluruh Iran menunjukkan jeda dalam pertempuran untuk merobohkan rezim Iran, telah memicu reaksi menyakitkan.

Banyak warga iran menggambarkan gencatan senjata itu, sebagai kesempatan yang terlewatkan untuk perubahan politik di negara mereka.

“Kami meminta bantuan Anda untuk membebaskan Iran, tetapi Anda tidak hanya gagal membebaskannya, Anda malah menyerahkan kepada kami negara yang jauh lebih buruk dan menginjak-injak darah 45.000 martir,” tulis seorang warga Iran dalam pesan yang ditujukan kepada Trump.

Warga merujuk puluhan ribu pengunjuk rasa tewas selama aksi protes nasional di Iran pada 8 dan 9 Januari 2026 lalu.

Rezim Iran saat ini membantai mereka secara sadis. Bahkan sampai kini masih ada para pengunjukrasa yang ditangkap rezim Iran dan digantung hingga tewas.

Yang lain mengungkapkan keputusasaan yang mendalam tentang masa depan negara Iran.

“Ketika saya mendengar berita gencatan senjata, rasanya seperti dunia runtuh di atas kepala saya,” kata seorang warga Teheran.

“Kami sudah menderita dan sekarang kami akan menjadi lebih menderita. Kami sudah tidak punya harapan lagi,” bunyi pesan lainnya.

 

Berharap strategi baru Trump

Beberapa warga sebaliknya masih mendesak kesabaran, dengan menyatakan gencatan senjata tersebut bisa jadi bagian dari strategi baru dan lebih luas dari Presiden AS, Donald Trump.

“Trump tahu apa yang dia lakukan. Jika dia berniat menerima syarat-syarat tersebut, dia tidak akan ikut campur dalam perang sama sekali. Mungkin akan ada lebih banyak kejutan di hari-hari mendatang,” tulis seorang warga.

Pesan lainnya menyerukan kepada warga Iran untuk tidak kehilangan harapan.

“Jangan terlalu putus asa. Perubahan rezim itu mungkin. Gencatan senjata ini bisa jadi kejutan lain. Kalian berhak merasa lelah, tetapi kalian harus tetap sabar,” tulis seorang warga Kerman dalam sebuah pesan yang ditujukan kepada sesama warga Iran.

Sejumlah warga Iran memperingatkan adanya gencatan senjata tersebut, dapat memungkinkan pihak berwenang Iran untuk mengintensifkan represi domestik.

“Dengan gencatan senjata ini, mesin pembunuh akan diaktifkan lebih cepat dan lebih banyak anak muda akan berisiko (terbunuh),” bunyi salah satu pesan tersebut.

Iran telah melakukan eksekusi (pembununan massal)  terhadap warganya selama perang, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis,  pihak berwenang Iran dapat menggunakan periode gencatan senjata untuk memperketat kontrol.

Yang lain merenungkan ketidakpastian seputar gencatan senjata yang rapuh tersebut.

“Saya merasa seperti pasien yang dokternya di tengah operasi, berkata mari kita tunggu sebentar dan lihat apakah akan sembuh sendiri,” tulis seorang warga Iran.

 

Warga curiga

Banyak warga Iran mengaku sangat mendukung AS maupun Israel mengabaikan gencatan senjata,  untuk menghancurkan infrastruktur di Iran demi merobohkan rezim Iran yang berkuasa saat ini.

“Keberadaan Republik Islam berarti masa depan generasi berikutnya hilang. Tolong langgar gencatan senjata dan hapus Republik Islam. Jangan lupa Anda (Trump) sendiri yang bilang bantuan sedang dalam perjalanan dan Anda akan mengubah rezim. Sekarang Anda meninggalkan kami sendirian dengan rezim yang kejam”, kata seorang warga.

“Pagi ini, rakyat Iran sekali lagi mati. Kami tidak bertahan sejauh ini agar Anda melakukan gencatan senjata, Pak Trump. Bukankah Anda bisa melanjutkannya sampai akhir?. Seharusnya Anda tidak memulainya dari awal. Sekarang kami menjadi yang paling sengsara”, keluh seorang warga Teheran.

Warga Iran lain justru curiga Presiden Trump hanya seperti mendulang di air keruh untuk mendapatkan keuntungan bagi AS.

“Pak Trump, sebenarnya Anda tidak membantu rakyat, malah memanfaatkan protes dan darah rakyat Iran”, kata warga tersebut.

Mereka juga mengecam tiga negara yang meramu proses gencatan senjata, ternyata justru hanya menguntungkan rezim Iran.

“Setelah kebebasan, kami tidak akan pernah melupakan apa yang dilakukan tiga negara Pakistan, Mesir, dan Turki. Gencatan senjata apa itu!. Di zaman ini, tidak ada orang atau pemerintah asing yang peduli pada kami, semua hanya mengejar kepentingan mereka sendiri”, tuding seorang warga iran.

Menurut warga Iran, Presiden Trump dan Amerika Serikat baru sedikit mencapai tujuan mereka, lalu mundur.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu juga dinilai hanya mengikuti keputusan AS.

Depresi menyelimuti rakyat Iran dan mereka tidak tahu bagaimana harus pergi bekerja lagi. “Ketakutan dan stres. Trump jangan tinggalkan kami sendirian”, pinta warga.

 

Trump disebut pengecut

Tidak hanya warga Iran yang kecewa adanya keputusan gencatan senjata Trump tersebut, para pejabat Israel bahkan menyebut langkah Presiden AS itu adalah tindakan pengecut.

“Trump benar-benar pengecut dengan menerima kesepakatan itu”, kata Ketua Komite Keamanan Nasional Knesset dan anggota partai sayap kanan Otzma Yehudit, MK Zvika Fogel.

Sejumlah pejabat tinggi Israel, seperti dilaporkan media Jerusalem Post, juga sangat kecewa Israel tidak diberitahu tentang rencana gencatan senjata AS-Iran hingga tahap akhir.

Menurut media AS, Wall Street Journal,  keterlibatan Israel hanya sebatas panggilan telepon yang dilakukan Presiden AS Donald Trump kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu,  sesaat sebelum gencatan senjata diumumkan.

Para pejabat Israel merasa tidak senang karena mereka tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan gencatan senjata dengan Iran.

Para mediator yang terlibat dalam gencatan senjata mengatakan para pejabat Israel tidak senang dengan isi perjanjian tersebut, termasuk laporan Lebanon akan dimasukkan dalam kesepakatan itu.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang membantu menegosiasikan gencatan senjata AS-Iran, awalnya mengumumkan Lebanon akan dimasukkan dalam kesepakatan tersebut pada Rabu pagi.

Namun Netanyahu maupun Trump membantah klaim tersebut. Trump menegaskan Lebanon tidak dimasukkan dalam poin gencatan senjata dengan iran, karena milisi Hizbollah.

Para pejabat Israel mengecam kesepakatan itu sebagai kegagalan upaya perang terhadap Iran yang sudah berlangsung sebulan lebih.

Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid,  mengecam kesepakatan itu sebagai bencana politik.

Ia menegaskan PM Israel, Netanyahu, gagal secara politik, gagal secara strategis, dan tidak memenuhi satu pun tujuan yang dia tetapkan sendiri.

“Israel bahkan tidak dilibatkan dalam diskusi ketika keputusan dibuat mengenai keamanan nasional kita,” keluh Lapid.

PM Israel tidak menanggapi kecaman lawan politiknya itu. Netanyahu dalam pernyataan terbarunya hanya mengatakan Israel siap kembali berperang dengan Iran kapan saja jika diperlukan.

“Negara Israel telah mencapai prestasi luar biasa – prestasi yang sampai baru-baru ini tampak sepenuhnya imajiner. Iran lebih lemah dari sebelumnya. Israel lebih kuat dari sebelumnya. Itulah intinya dari kampanye hingga saat ini. Kami siap untuk kembali berperang kapan saja jika diperlukan, jari kami siap menembak”, kata Netanyahu.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan