Oleh: Abdul Faizal (Jurnalis LKBN Antara)
PRIORITAS, 9/10/26 (Jakarta): Menonton "Empat Musim Pertiwi" – judul internasional: "Four Seasons in Java" – karya karya terbaru sutradara Kamila Andini, mungkin akan menerbitkan nuansa akrab dengan para pemain gim horor "Silent Hill: Homecoming".
Bukan semata-mata karena keduanya menghadirkan lanskap pegunungan berkabut dengan atmosfer mencekam, melainkan karena penonton diajak menelusuri misterinya lewat kilas balik, merangkai petunjuk, dan perlahan menyadari kebenaran yang terjadi sesungguhnya di masa lalu melalui penalaran sendiri.
Lewat kolaborasi bersama sinematografer Batara Goempar, Kamila membangun pengalaman sinematik yang menyerupai gim horor tersebut.
Film berdurasi 137 menit yang diproduseri Ifa Isfansyah di bawah bendera Fourcolours Films (Forka) ini sejak menit awal langsung mengajak penonton mengikuti jejak Pertiwi (Putri Marino).
Ia kembali ke kampung halamannya di lereng Pegunungan Bromo, Jawa Timur, usai menjalani hukuman 20 tahun penjara akibat membunuh seorang pria demi membela diri dari kekerasan seksual.
Disambut tatapan asing
Kepulangan itu jauh dari kata damai. Pertiwi justru disambut tatapan asing dan permusuhan dingin dari warga desa. Di tengah kepungan penolakan tersebut, kehadiran Bisma (Arya Saloka) —sosok dari masa lalu yang menyimpan penyesalan— serta Niken (Hana Malasan) menjadi sedikit dari segelintir warga yang masih memberinya ruang penerimaan.
Desa yang mestinya menjadi tempat pulang kini menjelma ruang pengasingan bagi Pertiwi. Kesunyian pegunungan, hempasan udara dingin, serta kabut pekat yang mengepung kawasan Bromo tak sekadar membangun atmosfer, tetapi menjadi representasi isolasi psikologis yang memutusnya dari dunia luar.
Di sinilah resonansi visual film ini bekerja. Bagi penikmat “Silent Hill”, lanskap terasing dan berselimut kabut tebal semacam ini jelas menerbitkan sensasi familier, sebuah ruang di mana lingkungan menjadi perpanjangan dari trauma dan pengalaman batin sang karakter.
Walau berdiri sebagai karya orisinal tanpa ikatan adaptasi resmi, “Empat Musim Pertiwi” berhasil merajut atmosfer yang bertaut alami dengan dunia gim horor tersebut. Relevansi itu kian menebal saat alur cerita bergerak mengikuti jejak kilas balik.
Perangkat elektronik yang tadinya rusak mendadak menyala pada larut malam, memancarkan gambar dan memperdengarkan suara-suara dari masa lalu. Benda mati yang semestinya tak lagi berfungsi justru bertindak sebagai medium penjelmaan hal-hal yang tak terjelaskan.
UFO di desa
Pada titik inilah Kamila mulai menggeser filmnya dari drama psikologis yang membumi menuju wilayah surealisme yang ganjil. Salah satu keputusan naratif paling berani adalah saat ia menyusupkan misteri objek terbang tak dikenal (UFO) ke dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat desa.
Pergeseran dari isu kekerasan seksual dan trauma batin menuju ranah fiksi ilmiah semacam ini berpotensi memicu kejanggalan bagi penonton umum. Mereka yang mengejar ekspektasi drama realistis mungkin bakal mempertanyakan relevansi fenomena asing tersebut dengan inti konflik.
Namun, bagi penikmat “Silent Hill: Homecoming”, persilangan genre ini justru masuk dalam ruang logika yang familier. Gim “Silent Hill” sendiri kerap menghadirkan UFO pada easter egg atau secret ending sebagai muara puncak dari trauma karakter utamanya.
Benang merah serupa terajut lewat perbenturan Pertiwi dengan sang ayah (Iswadi Pratama) —satu dari empat figur berpengaruh di desa. Bersama tiga tokoh patriarkal lainnya— Fajar (Totos Rasiti), Jonet (Nagra Pakusadewo), dan Pak Sapto (mendiang Donny Damara). Mereka merepresentasikan simpul kekuasaan pria yang mengontrol seluruh struktur sosial masyarakat setempat.
Saat Pertiwi enggan berdamai apalagi memaafkan masa lalu, realitas di sekelilingnya mulai retak dan kehilangan bentuk. Penolakan tersebut menjadi kunci untuk menyelami luka trauma yang tak pernah pulih, terlebih tatkala ia mendapati ada gadis lain di desa yang mengalami nasib mengerikan serupa.
Pada akhirnya, “Empat Musim Pertiwi” menguji cara penonton menakar kebenaran, tanpa menyajikan jawaban serba instan, melainkan menuntut kita untuk terus menimbang tiap kemungkinan.
Hampir setiap peristiwa mistis dalam film ini menyimpan unsur dualitas. Piring terbang, misalnya, berjalin erat dengan karakter Mak Ira yang diperankan Christine Hakim.
Hiburan dan teka-teki mengasyikkan
Dalam penjelasan Kamila Andini, tatkala Mak Ira bercerita pernah melihat piring terbang, warga berbondong-bondong mendatangi dan menanyainya. Namun, antusiasme warga tak lantas mencerminkan kepercayaan. Cerita itu sekadar diposisikan sebagai hiburan dan teka-teki yang mengasyikkan untuk dipergunjingkan.
Detail tersebut memperluas makna kehadiran unsur fiksi ilmiah dalam cerita. Persoalannya bukan sekadar apakah objek terbang itu nyata, melainkan bagaimana masyarakat memperlakukan kesaksian yang tak sanggup mereka cerna. Hal serupa berlaku pada isu sihir atau teluh, sesuatu bisa saja memikat perhatian tanpa harus dipercayai secara mutlak.
Pada akhirnya, cara penonton memaknai tiap kejadian ganjil di layar amat bergantung pada bagaimana mereka menafsirkan pengalaman sang penyintas. Transisi antaradegan yang meloncat mungkin memicu pertanyaan: apakah eksperimen visual Kamila ini berhasil dan terasa alami?
Kendati demikian, keberanian untuk mendobrak batas konvensi itulah yang membuat film ini begitu menarik didiskusikan.
Keberanian eksperimentasi ini pulalah yang mengantarkan “Four Seasons in Java” melenggang di sirkuit festival internasional.
Film ini bersinar di Tokyo Gap Financing Market dengan meraih penghargaan utama Tokyo Project Award, lalu menggelar world premiere dalam program Centrepiece di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026.
Perjalanannya berlanjut ke program A Window on Asian Cinema di Busan International Film Festival (BIFF) 2026, sebelum akhirnya resmi menyapa publik bioskop tanah air mulai 8 Oktober 2026.
Perwakilan resmi Indonesia ke Piala Oscar 2027
Puncaknya, Komite Seleksi Oscar Indonesia memilih film ini sebagai perwakilan resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-99 (Oscar 2027).
Jejak apresiasi festival dan mandat Oscar memang tak serta-merta menjamin tiap eksperimen estetikanya bakal disukai semua orang. Namun, “Four Seasons in Java” berdiri kokoh sebagai monumen pembuktian Kamila Andini dalam menyuarakan kritik sosial feminisme yang tajam terhadap kekerasan berbasis gender.
Dibingkai oleh sinematografi memikat dari Batara Goempar, film ini menyajikan pengalaman menonton yang puitis; menegaskan bahwa rasa sepi, kemarahan, dan trauma terdalam manusia memiliki frekuensi visual yang sama, baik di puncak ketinggian Bromo maupun di kedalaman benak kita masing-masing. (P-Antara/rwt)





