Setiap tahun menurun, SDA Jakarta Selatan imbau warga batasi penggunaan air tanah

Zamir Ambia
Minggu, 26 April 2026
Jakarta NEWS 0 279
2 menit membaca

PRIORITAS, 26/4/26 (Jakarta): Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan meminta warga mengurangi pemakaian air tanah seiring penurunan muka tanah di Jakarta dari tahun ke tahun.


“Setiap tahun tinggi muka air (TMA) tanah terus menurun. Karena itu, kami mengimbau agar penggunaan air tanah bisa dikurangi,” kata Kepala Seksi Pemeliharaan Sudin SDA Jakarta Selatan, Junjung Paulus saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (26/4/26).

Junjung menilai penurunan muka air tanah menjadi persoalan serius sehingga berbagai upaya penanganan masih terus dilakukan Suku Dinas SDA Jakarta Selatan.

Ia menyebut pemanfaatan jaringan air perpipaan dapat menjadi solusi jangka panjang guna mengurangi eksploitasi air tanah berlebihan.


Pemerintah juga menargetkan pengelolaan air yang lebih berkelanjutan dengan harapan mencapai kondisi tanpa penurunan air tanah, seperti penerapan sistem di Singapura.

Selain itu, Suku Dinas SDA Jakarta Selatan berupaya memaksimalkan pengelolaan sembilan waduk di wilayah tersebut.

Saat musim kemarau, air yang ditampung akan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk penyiraman tanaman.

“Selama ini saat musim hujan, air langsung dialirkan ke sungai agar waduk bisa menampung air baru. Namun ke depan, saat kemarau, air akan kami manfaatkan untuk kebutuhan lain,” tuturnya.

Gunakan air secara bijak

Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara hemat dan bijak, khususnya pada musim kemarau.

Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkapkan penurunan muka tanah atau land subsidence menjadi salah satu penyebab utama yang memperburuk banjir di Jakarta.

Hasil analisis citra satelit memperlihatkan sejumlah kawasan di Jakarta mengalami penurunan muka tanah lebih dari 10 sentimeter setiap tahun.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional, Budi Heru Santosa, menjelaskan penurunan muka tanah dipengaruhi dua faktor utama, yakni karakter alami tanah aluvial Jakarta yang mudah mengalami pemadatan serta aktivitas manusia, terutama eksploitasi air tanah berlebihan. (P-*r/Zamir Ambia)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan