
Seorang petugas hukum Iran mempersiapkan tali untuk mengeksekusi mati para terpidana yang umumnya pelaku narkoba. Tahun 2025, Iran sudah eksekusi 356 orang .(@rt_com)PRIORITAS, 2/1/26 (Riyadh): Pihak berwenang Arab Saudi mengeksekusi mati 356 orang pada tahun 2025. Ini menjadi rekor baru terbanyak untuk jumlah narapidana, yang dihukum mati di kerajaan tersebut dalam satu tahun.

Para analis sebagian besar mengaitkan lonjakan eksekusi itu dengan “perang melawan narkoba”, yang dilancarkan Riyadh dalam beberapa tahun terakhir.
Banyak dari mereka yang pertama kali ditangkap baru sekarang dieksekusi, setelah melalui proses hukum dan vonis.
Seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Jumat (2/1/2026), data resmi yang dirilis pemerintah Arab Saudi menyebutkan sebanyak 243 orang dieksekusi, dalam kasus terkait narkoba pada tahun 2025 itu.

Angka dari tahun 2025 menandai tahun kedua berturut-turut Arab Saudi mencetak rekor baru untuk eksekusi, setelah pihak berwenang mengeksekusi 338 orang pada tahun 2024, lapor media NDTV mengutip AFP.
Arab Saudi melanjutkan eksekusi untuk para pelanggar narkoba pada akhir tahun 2022, setelah menangguhkan penggunaan hukuman mati dalam kasus narkotika selama sekitar tiga tahun.
Pasar narkoba
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Arab Saudi merupakan salah satu sasaran pasar terbesar untuk narkoba jenis captagon.
Captagon adalah stimulan ilegal yang diselundupkan bertahun-tahun dari Suriah di bawah pemimpin presiden, Bashar al-Assad. Assad digulingkan dari kekuasaan pada Desember 2024.
Sejak melancarkan perang melawan narkoba, Arab Saudi telah meningkatkan pos pemeriksaan polisi di jalan raya dan di perbatasan, di mana jutaan pil telah disita dan puluhan penyelundup ditangkap.
Kerajaan Teluk tersebut telah menghadapi kritik berkelanjutan atas penggunaan hukuman mati, yang dikecam kelompok hak asasi manusia sebagai tindakan berlebihan.
Hukuman eksekusi mati juga sangat kontras dengan upaya Arab Saudi untuk menampilkan citra modern kepada dunia.
Para aktivis Hak Asasi Manusia mengatakan dukungan berkelanjutan Riyadh terhadap hukuman mati, merusak citra masyarakat yang lebih terbuka dan toleran.
Citra itu merupakan inti dari agenda reformasi Visi 2030 pemimpin de facto, Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Arab Saudi juga tengah berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur pariwisata dan acara olahraga besar seperti Piala Dunia sepak bola 2034, sebagai upaya untuk mendiversifikasi ekonominya yang selama ini bergantung pada minyak.
Namun, pihak berwenang di kerajaan tersebut berpendapat bahwa hukuman mati diperlukan untuk menjaga ketertiban umum dan hanya digunakan setelah semua upaya banding telah dilakukan.
Amnesty International mulai mendokumentasikan eksekusi di Arab Saudi pada tahun 1990. Data yang berasal dari sebelum waktu itu sebagian besar tidak jelas.(P-Jeffry W)

