Petani di Minahasa sedang mengupas kelapa untuk diproses menjadi kopra.(bmrppalma mapanget)PRIORITAS, 23/1/26 (Manado): Para pedagang pengepul diduga sengaja memainkan harga pembelian kelapa biji dan kopra di Sulawesi Utara. Dalam sebulan terakhir ini, harga komoditi perkebunan itu anjlok jauh lebih dari 50 persen.
Sejumlah warga di kabupaten Minahasa yang mayoritas petani kelapa, mengeluh anjloknya harga kelapa yang terjadi sejak bulan lalu.
“Desember harga kelapa masih sekitar Rp5 ribu per kilogram atau per butir. Tapi harga sekarang anjlok sekitar Rp3 ribu per kilogram,” keluh petani kelapa di Desa Kamangta Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa, Yohanes Tenda, seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Jumat (23/1/2026)
Hal yang sama terjadi juga pada harga kelapa asap atau kopra, yang anjlok dari Rp.22 ribu per kilogram menjadi Rp16 ribu per kilogram.
“Harga kopra pada awal Desember masih bagus sekitar Rp22 ribu per kilogram. Tapi pertengahan Desember sampai akhir Januari ini harga anjlok hanya Rp16 ribu per kilogram,” keluh petani kelapa lain, Wahyudi Tamuntuan.
Kondisi ini membuat petani kelapa di Sulawesi Utara semakin sulit, karena biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual yang diterima di tingkat petani.
Di beberapa daerah di Sulawesi Utara, harga kopra bahkan jatuh jauh dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, sementara kebutuhan hidup dan biaya pengolahan lahan kebun termasuk ongkos panen terus meningkat, seperti dirilis media ManadoPost.
“Sudah satu bulan ini sejak 16 Desember 2025 sampai 22 Januari 2026 ini, harga kopra dan harga kelapa butir anjlok,” keluh Yohanes.
Para petani kelapa umumnya mengeluh, karena selama ini pemerintah terkesan tidak ada perhatian terhadap nasib mereka.
“Sudah hampir satu bulan harga turun terus. Kalau begini, kami nyaris tidak dapat untung,” keluh Tamuntuan, yang sudah sekitar 40 tahun jadi petani kelapa.
Perlu intervensi pemerintah
Para petani menduga penurunan harga ini, disebabkan adanya permainan harga pedagang dan pengepul.
Selain itu kemungkinan dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari melemahnya permintaan, termasuk belum adanya kebijakan penyangga harga dari pemerintah.
Petani menilai posisi tawar-menawar mereka sangat lemah, karena tidak memiliki akses langsung ke pasar atau industri pengolahan.
“Kami tidak punya pilihan selain menjual ke pengepul. Mau simpan, tapi butuh uang untuk makan dan biaya sekolah anak,” keluh petani lainnya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan menurunnya minat petani merawat kebun kelapa, meskipun komoditas kelapa merupakan salahsatu andalan ekonomi masyarakat Sulawesi Utara sejak dulu.
Jika dibiarkan berlarut-larut, anjloknya harga kelapa dan kopra dikhawatirkan berdampak pada kesejahteraan petani dan perekonomian daerah.
Para petani berharap pemerintah daerah maupun pusat, dapat segera turun tangan untuk malakukan intervensi harga, penguatan koperasi petani, maupun skema penyerapan hasil panen, agar harga kelapa dan kopra kembali stabil.
“Jangan tunggu petani berhenti panen baru pemerintah bergerak,” keluh petani Yohanes dan Wahyudi. (P-Jeffry W)