
Qianzy Celline Larenggam sang duta pariwisata dunia dari kota Bitung. (Foto koleksi keluarga)DI balik senyum ceria seorang anak berusia sembilan tahun, tersimpan mimpi besar yang kini telah menjadi kenyataan. Qianzy Celline Laenggam, siswi kelas 4 Manado Independent School (MIS), berhasil menorehkan sejarah sebagai putri cilik pertama asal Kota Bitung yang mewakili Indonesia dalam ajang internasional Grand Final World Junior Tourism Ambassador 2026 di Vietnam.

Raihan prestasinya bukan sekadar kemenangan. Qianzy membawa pulang gelar bergengsi Winner Face of Tourism – World Junior Tourism Ambassador 2026, sebuah pencapaian yang menempatkannya di antara anak-anak terbaik dunia sebagai duta pariwisata muda.
Lebih membanggakan lagi, pada babak akhir kompetisi, Qianzy menjadi Two Last Standing bersama wakil Filipina, sebuah momen yang menegangkan sekaligus mengharukan sebelum akhirnya namanya diumumkan sebagai salah satu pemenang utama.
Kesuksesan putri kedua dari pasangan Jemmy Than Larenggam dan Olivia Ruitan ini, tidak datang dalam semalam. Kompetisi di Vietnam menjadi perjalanan ketiganya di dunia pageant. Setiap langkah yang perjalanannya selalu menunjukkan peningkatan hingga akhirnya mengantarkannya ke panggung internasional.
Perjalanan itu bermula dari tingkat daerah ketika Qianzy mewakili Kota Bitung dalam ajang pemilihan duta wisata anak di Sulawesi Utara. Penampilannya yang percaya diri membawanya melangkah ke tingkat nasional sebagai wakil Provinsi Sulawesi Utara.
Di tingkat nasional, Qianzy kembali menunjukkan kualitasnya. Dari sana, ia mendapat kepercayaan mengenakan Merah Putih dan mewakili Indonesia dalam World Junior Tourism Ambassador 2026 di Vietnam.
Bagi Qianzy, setiap kompetisi bukan sekadar mengejar mahkota, tetapi kesempatan belajar, mengenal budaya baru, membangun persahabatan lintas negara, sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada dunia.


Qianzy Celline Larenggam. (Koleksi keluarga)
Kompetisi internasional ini berlangsung di dua kota besar Vietnam, yakni Ho Chi Minh City dan Da Lat City, dengan malam grand final berlangsung megah di Da Lat Opera House, Da Lat City.
Sebanyak 34 finalis dari 10 negara mengikuti ajang tersebut. Indonesia sendiri mengirimkan dua wakil terbaik untuk bersaing dengan peserta dari berbagai belahan dunia.
Selama beberapa hari karantina, para peserta menjalani berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pelatihan, pengenalan budaya, promosi pariwisata, hingga penampilan bakat dan kemampuan berbicara di depan publik.
Di tengah persaingan yang ketat, Qianzy tampil percaya diri dengan membawa identitas Indonesia melalui busana, tutur kata, serta kecintaannya terhadap kekayaan budaya Nusantara.
Prestasi Qianzy tidak berhenti pada satu gelar utama. Ia juga berhasil menyabet sejumlah penghargaan bergengsi yang menunjukkan kualitasnya di berbagai aspek kompetisi.
Di antaranya adalah:

Qianzy dengan 5 selempang penghargaan internasional. (Foto koleksi keluarga)
Rangkaian penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa Qianzy tidak hanya unggul dalam penampilan, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, kreativitas, serta kepribadian yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi dewan juri.
Sebagai simbol kemenangan, Qianzy menerima crown (mahkota), sash, dan trofi, yang menjadi saksi keberhasilannya mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia.
Dalam kompetisi internasional seperti World Junior Tourism Ambassador, para peserta tidak hanya dinilai dari kecantikan atau penampilan.
Kemampuan memperkenalkan destinasi wisata, budaya, karakter, kepercayaan diri, komunikasi, serta kepemimpinan menjadi aspek penting penilaian.
Melalui berbagai presentasi dan aktivitas selama kompetisi, Qianzy berhasil menunjukkan bahwa Indonesia memiliki generasi muda yang mampu menjadi wajah pariwisata dunia.
Menyandang gelar Winner Face of Tourism menjadi pengakuan internasional atas kemampuannya mempromosikan keindahan dan keragaman budaya Indonesia kepada masyarakat global.
Di balik pencapaian tersebut terdapat proses panjang yang berjibaku dengan latihan, disiplin, serta dukungan penuh dari keluarga.
Perjalanan menuju Vietnam membutuhkan persiapan yang tidak ringan. Mulai dari latihan public speaking, penguasaan bahasa Inggris, koreografi, etika internasional, hingga pendalaman materi mengenai pariwisata Indonesia dilakukan secara konsisten.
Semua pengorbanan itu akhirnya terbayar ketika nama Indonesia berkumandang di panggung dunia dan Qianzy berdiri mengenakan mahkota kemenangan.

Qianzy pembawa nama harum Indonesia di dunia internasional. (Foto koleksi keluarga)
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan di Vietnam, Qianzy dijadwalkan kembali ke Manado pada **9 Agustus 2026**.
Kepulangannya tentu menjadi momen yang dinantikan keluarga, sekolah, sahabat, serta masyarakat Sulawesi Utara yang mengikuti perjuangannya sejak awal.
Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga sejarah baru bagi Manado dan Sulawesi Utara.
Di usianya yang masih sangat muda, Qianzy Celline Laenggam telah membuktikan bahwa mimpi besar tidak mengenal batas usia. Dari panggung kecil di daerah, melangkah ke tingkat nasional, hingga akhirnya berdiri di panggung dunia sebagai salah satu wajah pariwisata muda terbaik.
Perjalanannya menjadi inspirasi bahwa kerja keras, keberanian, disiplin, dan semangat belajar mampu membawa anak Indonesia bersinar di tingkat internasional.
Bagi Qianzy, mahkota yang kini dikenakannya bukanlah akhir perjalanan. Mahkota itu adalah awal dari tanggung jawab baru untuk terus menjadi duta kecil yang memperkenalkan keindahan Indonesia kepada dunia serta menginspirasi lebih banyak anak Indonesia agar berani bermimpi setinggi langit.
Namun, satu hal yang menjadi pertanyaan, apakah pemerintah Indonesia, pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Kota Bitung, Pemerintah Kota Manado ada melihat prestasi bocah perempuan ini? Apakah Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi Sulut, Dinas Pariwisata Kota Bitung dan Manado sudi merangkul sang bocah? ***

Qianzy Celline Larenggam si putri cilik memperkenalkan busana khas kota Bitung sebagai kota Cakalang. (Foto koleksi keluarga)

