PRIORITAS, 27/08/26 (Manado): Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) meminta warga di tiga kampung di Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, meningkatkan kewaspadaan. Imbauan itu menyusul guguran lava yang masih terjadi di Gunung Karangetang, Pulau Siau.
Ketua Pos PGA Karangetang Yudia P Tatipang mengatakan guguran lava masih terjadi dari puncak kawah utara. Material tersebut bergerak melalui Kali Sumpihi menuju arah barat dan selatan.
“Guguran lava masih terjadi dari puncak kawah utara Gunung Karangetang,” kata Yudia di Manado, Kamis.
Menurut Yudia, tiga kampung yang perlu meningkatkan kewaspadaan ialah Kampung Kinali, Kampung Hiung, dan Kampung Kiawang. Ketiga kampung tersebut berada di Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Sitaro.
Guguran lava mengarah ke Kali Sumpihi
Yudia menjelaskan, guguran lava tersebut mengarah melalui Kali Sumpihi. Namun, material guguran sejauh ini belum menjangkau permukiman penduduk. Meski demikian, warga yang tinggal di lereng gunung tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Begitu pula dengan para pekebun yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.
“Kami terus menganjurkan agar warga mematuhi radius bahaya yang direkomendasikan,” ujar Yudia.
Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan perkembangan aktivitas Gunung Karangetang. Warga juga perlu mengikuti informasi resmi dari Pos PGA terkait perubahan kondisi gunung.
Lava meluncur hingga 1.000 meter
Berdasarkan data pengamatan pada 26 Agustus 2026, guguran lava teramati dari puncak kawah utara. Guguran tersebut meluncur sekitar 700 hingga 1.000 meter. Material lava bergerak ke arah barat dan selatan dari puncak kawah. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan warga di sekitar jalur guguran perlu tetap waspada.
Pada periode pengamatan yang sama, petugas juga mengamati embusan asap dari kawah utara dan kawah selatan. Asap berwarna putih keabuan dengan intensitas sedang hingga tebal. Kepulan asap tersebut mencapai ketinggian sekitar 200 hingga 400 meter. Arah asap condong ke timur laut dan terdengar suara gemuruh dengan intensitas lemah hingga kuat.
Kegempaan masih terekam, status tetap Level II
Aktivitas kegempaan Gunung Karangetang juga masih terekam dalam periode pengamatan tersebut. Petugas mencatat 106 kali gempa embusan dan 30 kali gempa tremor nonharmonik. Selain itu, petugas mencatat sembilan kali tremor harmonik. Petugas juga merekam tiga kali gempa vulkanik dalam dan lima kali gempa tektonik jauh.
Saat ini, Gunung Karangetang masih berstatus Waspada atau Level II. Karena itu, masyarakat dan pengunjung perlu mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak boleh mendekati kawasan bahaya. Mereka juga tidak boleh melakukan pendakian atau aktivitas di dalam zona prakiraan bahaya.
Zona tersebut mencakup radius 1,5 kilometer dari puncak kawah dua atau kawah utara. Larangan juga berlaku untuk kawasan radius 1,5 kilometer dari kawah utama atau kawah selatan. Selain itu, terdapat perluasan zona secara sektoral sejauh 2,5 kilometer. Perluasan tersebut mengarah ke utara-barat dan barat daya dari kawah utara.
Dengan kondisi tersebut, warga di Kampung Kinali, Kampung Hiung, dan Kampung Kiawang diminta tetap waspada. Warga juga perlu mematuhi radius bahaya yang telah direkomendasikan Pos PGA. (P-*Ant/sm)








