Gunung Karangetang kembali mengancam, minta warga Sitaro maspadai awan panas guguran

Sem Muhaling
Kamis, 20 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 20/08/26 (Manado): Warga di sekitar Gunung Karangetang, Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, kembali diminta meningkatkan kewaspadaan. Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang mengingatkan potensi awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, Yudia P Tatipang, menyampaikan peringatan tersebut di Manado, Selasa. Ia menjelaskan, material vulkanik terus menumpuk di sekitar puncak kawah.

Material tersebut berpotensi runtuh dan memicu awan panas guguran. Karena itu, warga yang beraktivitas di lereng gunung perlu memperhatikan perkembangan aktivitas vulkanik.

Lava pijar masih terlihat di kawah utara

Yudia mengatakan potensi awan panas guguran tetap perlu mendapat perhatian serius. Terlebih lagi, luncuran lava pijar masih terlihat di puncak kawah utara atau kawah dua.

“Awan panas guguran bisa terjadi akibat material vulkanik terus menumpuk di puncak kawah yang kemudian runtuh,” kata Yudia seperti dilansir dari Antara News.

Menurut dia, runtuhan material vulkanik dapat terjadi sewaktu-waktu. Kondisi tersebut membuat warga perlu meningkatkan kesiapsiagaan saat beraktivitas di kawasan lereng.

Ia secara khusus mengingatkan warga yang melakukan kegiatan pertanian di lereng Gunung Karangetang. Mereka perlu berhati-hati dan mematuhi radius bahaya yang berlaku.

Aktivitas vulkanik masih berlangsung

Berdasarkan hasil pengamatan pada 17 Agustus 2026, asap kawah dua terlihat putih tipis. Tekanan asap berada pada kategori lemah hingga sedang dengan tinggi sekitar 25 meter.

Petugas juga mengamati sinar api dengan tinggi sekitar 10 hingga 25 meter. Selain itu, suara gemuruh terdengar dari lemah hingga agak kuat.

Kepulan asap putih keabu-abuan juga terlihat tipis hingga agak tebal. Kepulan tersebut bergerak condong ke arah utara-timur laut sejauh sekitar 25 hingga 100 meter.

Pengamatan juga mencatat guguran lava pijar menuju Kali Sumpihi. Jarak luncur material tersebut mencapai sekitar 100 hingga 700 meter.

Vegetasi terbakar di sekitar Kali Kinali-Hiung

Aktivitas vulkanik juga memunculkan dampak pada vegetasi di sekitar lereng Gunung Karangetang. Pada pukul 11.00 WITA, petugas menerima hasil pengamatan dari Kampung Pehe.

Dari lokasi tersebut, terlihat vegetasi antara Kali Kinali dan Hiung terbakar. Kondisi itu menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan masyarakat sekitar.

Karena itu, warga tidak boleh mengabaikan perkembangan aktivitas gunung api. Terlebih lagi, lava pijar masih meluncur dari kawasan kawah utara.

Gunung Karangetang sendiri masih berstatus Level II atau Waspada. Status tersebut menuntut masyarakat dan pengunjung menaati rekomendasi keselamatan yang berlaku.

Radius bahaya mencapai 2,5 kilometer

Dalam status Level II, masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawasan bahaya. Mereka juga tidak diperbolehkan melakukan pendakian atau aktivitas di dalam zona tersebut.

Radius bahaya mencapai 1,5 kilometer dari puncak kawah dua atau kawah utara. Ketentuan serupa berlaku untuk kawasan puncak kawah utama atau kawah selatan.

Selain itu, terdapat perluasan sektoral sejauh 2,5 kilometer dari kawah utara. Perluasan tersebut mencakup arah utara-barat dan barat daya.

Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang meminta masyarakat mematuhi seluruh rekomendasi tersebut. Langkah itu penting untuk mengurangi risiko apabila terjadi guguran material secara tiba-tiba.

Meminta warga tidak lengah

Karakteristik Gunung Karangetang membuat guguran material perlu mendapat perhatian khusus. Material lava yang menumpuk dapat runtuh ketika kondisinya tidak lagi stabil.

Ancaman tersebut terutama perlu diantisipasi masyarakat yang bekerja atau beraktivitas di lereng gunung. Warga juga perlu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik.

Kabupaten Kepulauan Sitaro berada di wilayah kepulauan dengan Gunung Karangetang sebagai salah satu gunung api aktif. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau kondisi gunung tersebut.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga menjadi bagian dari koordinasi penanganan kebencanaan di wilayah tersebut. Informasi resmi mengenai aktivitas gunung api perlu menjadi rujukan masyarakat.

Pemantauan gunung api dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di bawah Badan Geologi. Lembaga tersebut memiliki tugas memantau aktivitas gunung api dan memberikan rekomendasi mitigasi. (Geologi ESDM)

Dengan kondisi tersebut, masyarakat sekitar Gunung Karangetang perlu tetap waspada. Warga juga perlu menghindari zona bahaya dan mengikuti arahan petugas di lapangan. (P-*Ant/sm)  

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025