Delapan dekade peristiwa Merah Putih: GPPMP perkuat warisan perjuangan, siapkan monumen dan film ‘Berkibarlah Benderaku’

Johanes Christiaan
Kamis, 12 Februari 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 12/1/2026 (Jakarta): Delapan dekade setelah Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946, denyut semangat perjuangan itu terus dijaga oleh Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih (GPPMP). Dalam momentum peringatan ke-80, Ketua Umum DPP GPPMP Dr Jeffrey Rawis, SE, MA, menyampaikan refleksi perjalanan panjang organisasi sekaligus resolusi besar untuk masa depan.

Jeffrey mengingatkan kembali bahwa GPPMP didirikan oleh keluarga para pelaku sejarah pada 17 Juli 1986 dan telah diakui pemerintah melalui Surat Keterdaftaran Ormas Nasional pada 31 Januari 1987. Dari semula bernama Generasi Penerus Pejuang Merah Putih, organisasi ini kemudian berevolusi menjadi Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih pada Munas 2021.

Perubahan itu, kata Jeffrey, tidak mengubah mandat dasarnya: menjaga dan menggelorakan Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai (JSN) perjuangan 14 Februari 1946. “JSN yang kami jaga adalah kesinambungan dari Sumpah Pemuda, Pancasila, Proklamasi, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Sang Merah Putih,” ujarnya.

Tradisi ziarah, dan ‘valentine for heroes’

Setiap 14 Februari, GPPMP rutin menggelar Apel & Ziarah Merah Putih di TMP Kalibata, TMP Kairagi Manado, dan berbagai makam pelaku sejarah di daerah. Tradisi ini dilengkapi dengan aksi ‘Valentine for Heroes’, sebuah penghormatan simbolik bagi para pejuang yang telah gugur.

Tahun ini, sebagai rangkaian peringatan 80 tahun, GPPMP menyelenggarakan Diskusi Digital menghadirkan Mayjen Rano Tilaar (Gubernur Akmil) dan sejarawan Dr Benni Matindas. Diskusi dipandu Jeirry Sumampouw dari Sam Ratulangi Institute (SRIN).

GPPMP juga menggelar Lomba Esai untuk siswa SMA/SMK di Sulawesi Utara bekerja sama dengan SRIN dan Dinas Pendidikan, serta mempersiapkan penerbitan buku/e-book “80 Pejuang Merah Putih asal Sulawesi Utara.”

“Upaya ini kami dedikasikan agar nilai perjuangan tetap diteruskan oleh generasi muda, terutama Gen Z,” kata Jeffrey, dan menambahkan, iven ini diinisiasi DPD GPPMP Sulut, didukung Sam Ratulangi Institute (SRIN).

Audiensi dengan presiden dan perluasan gerakan

Pada peringatan ke-80 ini, GPPMP juga merencanakan agenda khusus: audiensi dengan Presiden RI Prabowo Subianto, bersama keluarga pelaku sejarah, DPP GPPMP, Dewan Penasehat, dan Gubernur Sulawesi Utara.

Rangkaian kegiatan tahun ini sebagian besar dikoordinasikan oleh Minarni Panggabean, Ketua Depinas Gapempi, organisasi ‘in-body’ GPPMP yang menjadi ‘host’ perayaan. Selain Gapempi, GPPMP juga mengembangkan badan internal lainnya seperti GPMPI, Garda Merah Putih, Kogamtih, KMPM, dan SRIN. Dalam waktu dekat akan menyusul Gerakan Buruh Merah Putih dan Barisan Rohaniwan Merah Putih.

Hingga kini, GPPMP telah memiliki 26 DPD dari Papua hingga Aceh serta lima perwakilan luar negeri di Australia, Eropa, dan Amerika Serikat. “Ini menunjukkan bahwa semangat Merah Putih hidup tidak hanya di tanah kelahiran sejarahnya, tetapi juga di mancanegara,” tutur Jeffrey.

Di luar agenda peringatan tahunan, GPPMP konsisten mendorong penguatan kebudayaan dan sejarah melalui berbagai program. Di antaranya penyelenggaraan Lomba Musik Kolintang Nasional Piala Presiden (tiga kali gelaran), ‘GPPMP Award’ untuk para tokoh pro-Merah Putih, serta pengusulan tokoh Sulawesi Utara sebagai Pahlawan Nasional.

Beberapa nama yang telah diusulkan antara lain BW Lapian, AA Maramis, dan LN Palar. Sementara yang tengah berproses adalah Daan Mogot, CH CH Taulu, dan SD Wuisan.

Lima agenda besar GPPMP

Memasuki fase baru setelah 80 tahun, GPPMP memantapkan lima agenda prioritas nasional:

Pertama, Pembangunan Monumen Merah Putih & Diorama Perjuangan 14 Februari 1946 di Manado. Lahan telah pernah dibicarakan dengan Pemkot Manado sejak era Wali Kota Vicky Lumentut, dengan desain disanggupi oleh Unsrat.

Kedua, usulan pengajuan Perda (kepada DPRD Sulur) mengenai pengadaan Kurikulum Muatan Lokal Sejarah Peristiwa Merah Putih untuk SMP dan SMA/SMK di Sulawesi Utara.

Ketiga, usulan pengajuan Perda (ke DPRD Sulut) tentang Penetapan Pengibaran Merah Putih setiap 14 Februari, sebagaimana tradisi masa Gubernur HV Worang dan GH Mantik. Dan atas usul DPP GPPMP, akhirnya Gubernur Sulut sekarang,  Yulius Selvanus telah mengeluarkan imbauan terkait hal ini.

Keempat, upaya pendirian Institut Teknologi 14 Februari 1946 (ITF) sebagai pusat pendidikan unggulan di Sulawesi Utara.

Kelima, rencana produksi film layar lebar berjudul “Berkibarlah Benderaku”, mengangkat kisah perjuangan 14 Februari 1946.

Jeffrey menegaskan, resolusi ini adalah komitmen GPPMP untuk memastikan nilai perjuangan tetap relevan lintas zaman. “Salam Pergerakan: Merah Putih, Tetap Jaya!” (P-bwl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025