
Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek PLTS 100GWp di Jembrana, Bali, Agustus 2026. Untuk mendukung proyek raksasa tersebut, pemanfaatan teknologi analitik kecerdasan buatan (agentic AI) kini menjadi kunci krusial untuk memperkuat keandalan jaringan listrik nasional. (Courtesy: TikTok/AI)PRIORITAS, 24/9/26 (Jakarta): Pemanfaatan teknologi analitik kecerdasan buatan (agentic AI) kini menjadi kunci krusial untuk memperkuat keandalan jaringan listrik nasional. Teknologi ini dirancang untuk mendukung integrasi energi terbarukan yang diproyeksikan berkembang pesat di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

“Ambisi energi Indonesia patut didukung teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan Indonesia,” ujar CEO Kayak Analytics, Gilbert Espinosa, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (24/9/26).
Ia menjelaskan, digitalisasi dan analisis data tingkat tinggi pada sistem kelistrikan mendesak untuk segera diterapkan. Langkah ini bertujuan mendukung proyek besar pemerintah, khususnya program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026 lalu.
Menurut Gilbert, pengembangan energi terbarukan skala besar menuntut pemantauan ketat terhadap kinerja pembangkit surya, kondisi penyimpanan baterai, serta kesehatan seluruh aset jaringan. Hal ini penting agar risiko gangguan pasokan daya dapat diantisipasi secara presisi.

Dilansir dari Antara, disebutkan bahwa penerapan teknologi analitik terpadu mampu menyatukan data operasional dari berbagai sumber ke dalam satu platform pemantauan.
Gilbert menguraikan, data operasional yang dimaksud meliputi gardu induk, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan sistem penyimpanan energi baterai (BESS).
Melalui pendekatan agentic AI, katanya, sistem dapat menyelidiki perilaku abnormal secara otomatis, menghimpun data rekayasa teknis, serta menyusun rekomendasi tindakan bagi operator sebelum terjadi kerusakan aset.
Selain itu, kombinasi data operasional terkini dan historis mempermudah pemeliharaan prediktif pada infrastruktur vital seperti gardu induk dan transformator utama.
Di sisi lain, Gilbert menekankan bahwa penerapan teknologi modern ini harus tetap berlandaskan pada prinsip kolaborasi teknis dan penegakan kedaulatan data nasional.
Pengolahan data operasional secara mandiri oleh tenaga ahli dalam negeri menjadi kunci utama dalam membangun kapabilitas infrastruktur vital kelistrikan jangka panjang.
Oleh karena itu, ujarnya, seluruh tata kelola data operasional dan akses sistem AI wajib ditempatkan pada infrastruktur terdistribusi di dalam negeri.
Implementasi ini juga harus didampingi oleh program alih pengetahuan (transfer of knowledge) secara berkelanjutan bagi tenaga ahli lokal demi menjaga ketahanan energi nasional. (P-Ant/ht)

