Pesawat kargo jet besar Airbus Beluga sukses menggunakan bahan bakar Bioavtur.(airbus)PRIORITAS, 29/1/26 (Jakarta): Buah kelapa dari para petani terbukti menjadi pendorong Indonesia menjadi negara di Asia Tenggara pertama, yang bisa menghasilkan Bioavtur atau Bahan Bakar Minyak (BBM) ramah lingkungan terbanyak dari kelapa, untuk berbagai pesawat jet.
Pemanfaatan kelapa reject atau kelapa afkir untuk diolah menjadi BBM pesawat jet ini, semakin terbuka lebar setelah minyak bumi dari fosil di bumi semakin habis dan sulit didapat.
“Pertamina menjadi first mover di kawasan Asia Tenggara yang produksi Bioavtur (Sustainable Aviation Fuel). Pasalnya saat ini hanya Pertamina yang melakukan commercial production Bioavtur hingga uji terbang di kawasan tersebut”, demikian pernyataan PT.Pertamina dalam akun sosialnya di X, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis (29/1/2026).
Ini membuka peluang besar bagi para petani kelapa di Indonesia karena hasil produksi perkebunan kelapa mereka menjadi lebih berharga.
Terlebih saat ini pemerintah Indonesia melalui Danantara sudah menetapkan Bioavtur sebagai salahsatu proyek strategis mulai Maret tahun 2026 ini.
“Di kilang Cilacap, Jawa Tengah, akan dimulai proyek pengembangan bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau bioavtur. Investasinya mencapai US$ 1,1 miliar”, ujarnya CEO Danantara, Rosan Roeslani.
Research Professor pada Research Center for Cooperative, Corporation, and People’s Economy – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Bedy Sudjarmoko, dalam pemaparan Perkebunan Outlook 2026 baru-baru ini, menegaskan kelapa menjadi salah satu komoditas strategis.
Kelapa, menurut dia, berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui penguatan hilirisasi sektor pertanian dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi.

Pesawat jet komersil Boeing 777 FedEx terbang menggunakan 100 persen Bioavtur atau Biofuel.(boeingairplanes)
Tekan polusi karbon
Kebutuhan kelapa secara internasional akan menjadi sangat tinggi, setelah bahan bakar jenis Sustainable Aviation Fuel (SAF) termasuk bioavtur, mulai diwajibkan di setiap maskapai penerbangan komersil yang menggunakan pesawat jet.
Target dunia dalam beberapa tahun ke depan bioavtur dapat dicampur (blended) dengan bahan bakar jet lain hingga 50 persen, agar polusi karbondiakosida di udara dapat ditekan.
Saat ini sejumlah negara di Eropa dan Amerika semakin tertarik untuk menggunakan bahan bakar pesawat jet dari bahan alami kelapa, untuk menekan tingkat polusi karbondioksida di udara.
Di Amerika Serikat, salahsatu perusahaan pembuat pesawat komersil terbesar di dunia, Boeing, sudah sejak lama melakukan ujicoba penggunaan bioavtur dari kelapa serta bahan alami lainnya.
Boeing 777 FedEx adalah pesawat komersil pertama yang terbang menggunakan 100 persen bahan bakar nabati bioavtur pada April tahun 2018.
Kemudian, pesawat kargo salahsatu terbesar dunia, Airbus Beluga, juga telah menggunakan 35 persen bioavtur dan campuran jet-A sejak Desember 2019.
Total ada 60 unit pesawat Beluga dalam beberapa bulan kemudian sudah menggunakan bioavtur.
Sehingga pihak Airbus mengatakan dalam beberapa minggu terakhir pada tahun itu, mereka telah dapat menekan tingkat polusi karbon dioksida (CO2) hingga 120 ton di udara.
Lembaga Penerbangan Antariksa Amerika Serikat (NASA) malah telah lebih dulu melakukan berbagai ujicoba terhadap sejumlah pesawat jet menggunakan bioavtur pada tahun 2017.
NASA Aero bahkan merilis penggunaan biofuel pada mesin jet mengurangi emisi partikel dalam gas buangnya hingga 70 persen.
Maskapai penerbangan Inggris, British Airways, juga mengumumkan pada November 2021 pesawat jet komersil mereka telah sukses menggunakan campuran 35 persen biofuel.
“Tahukah anda BA001 sebelumnya menjadi penerbangan pertama kami yang berangkat ke AS dan menggunakan campuran 35% bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang terbuat dari minyak goreng bekas”, ungkap pihak British Airways di situs resmi mereka di X.

Kelapa Dalam yang banyak ditanam petani di Sulawesi Utara lebih unggul dibandingkan sawit untuk menjadi produk bahan bakar pesawat jet yang ramah lingkungan.(brmppalma)
Kelapa kalahkan sawit
Media Bloomberg Technoz sebelumnya menyebut inisiatif pengembangan bioavtur berbasis kelapa di Indonesia berasal dari investor Jepang.
Teknologi pembuatan bioavtur berbasis kelapa yang sudah tersedia di Jepang, kini mulai mencari sumber bahan baku selain kelapa sawit dan melihat potensi besar pada kelapa.
Bioavtur dari kelapa adalah bahan bakar penerbangan berkelanjutan, yang dihasilkan melalui pemrosesan minyak kelapa mentah, menjadikannya alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon penerbangan.
Pengembangan ini memanfaatkan kelapa afkir atau non-standar, dengan proyek pabrik percontohan di Banyuasin, Sumatera Selatan, yang didukung investasi Jepang dan teknologi lokal untuk memproduksi CNO sebagai bahan baku bioavtur.
Pabrik ini diproyeksikan memproduksi 100 ton CCO per hari dan mulai beroperasi sekitar April 2027 dengan investasi Rp310 miliar.
Jadi jelas sumber bahan baku bioavtur terutama menggunakan kelapa afkir atau kelapa yang tidak layak jual, untuk diolah menjadi Crude Coconut Oil (CCO/CNO).
Kelapa Dalam petani dianggap lebih ramah lingkungan dan berpotensi lebih unggul dibandingkan kelapa sawit, karena sertifikasi yang sudah tersedia.
Hasil kajian dampak ekonomi dapat meningkatkan pendapatan petani kelapa, mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil, dan membuka lapangan kerja.
Pengembangan ini juga merupakan bagian dari hilirisasi industri kelapa Indonesia hingga 2045, untuk mendiversifikasi produk kelapa ke sektor energi terbarukan.(P-Jeffry W)