PRIORITAS, 24/8/26 (Palu): Tim akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Tadulako mendampingi petani di Kabupaten Parigi Moutong untuk melakukan pengolahan biji kakao menjadi produk cokelat fermentasi bernilai tambah.
Tim tersebut mendampingi Kelompok Tani Kuda Laut di Desa Gandasari, Kecamatan Sausu. Mereka memberikan pengetahuan dan praktik pengolahan hasil panen kakao secara lebih berkualitas.
Ketua Tim Pengabdi Untad, Rostiati Dg. Rahmatu, mengatakan kegiatan itu bertujuan meningkatkan kualitas biji kakao. Peningkatan tersebut mencakup kualitas kimia, fisik, dan sensori hasil produksi petani.
Selain meningkatkan mutu, program tersebut juga mendorong pertumbuhan ekonomi petani lokal. Karena itu, tim Untad tidak hanya mengajarkan pengolahan primer. Mereka juga memperkenalkan proses pengolahan lanjutan hingga pengemasan produk.
Kakao fermentasi dibidik jadi produk unggulan
Rostiati menjelaskan, proses fermentasi memberikan perubahan penting terhadap karakter biji kakao. Proses tersebut menghasilkan asam, alkohol, serta pembentuk rasa dan aroma khas.
Perubahan tersebut terjadi melalui aktivitas mikroorganisme yang memecah gula, protein, dan polifenol. Dengan proses yang tepat, petani dapat menghasilkan biji kakao dengan mutu lebih baik. Selanjutnya, produk tersebut memiliki peluang lebih besar memasuki pasar bernilai tinggi.
Menurut Rostiati, biji dan tepung kakao memiliki kandungan gizi yang cukup beragam. Produk tersebut mengandung lemak sekitar 50-57 persen, protein, karbohidrat, dan polifenol. Selain itu, kakao juga mengandung alkaloid seperti teobromin dan kafein.
Karena itu, kelompok tani tidak berhenti pada penjualan biji kakao mentah. Mereka mulai diarahkan mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang diversifikasi produk berbasis kakao di daerah.
Petani belajar dari fermentasi hingga pengemasan
Pendampingan Untad berlangsung melalui penyuluhan dan pelatihan praktik. Tahap awal mencakup fermentasi tradisional dan pengeringan biji kakao.
Selanjutnya, petani mempelajari pengolahan sekunder. Tahapan tersebut meliputi penyangraian, pengecilan ukuran, pengayakan, dan pengepresan biji kakao.
Tim juga memperkenalkan proses hilirisasi dan pengemasan. Petani belajar mengolah kakao menjadi berbagai produk pangan berbasis cokelat. Mereka sekaligus mendapatkan pengetahuan mengenai teknik pengemasan produk.
Untuk menunjang proses tersebut, Untad memberikan sejumlah peralatan kepada kelompok tani. Bantuan itu mencakup alat fermentasi, pengering, penyangraian, dan penggiling biji kakao.
Untad ingin petani mampu mengolah secara mandiri
Program pendampingan tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program BIMA Tahun Anggaran 2026. Tim Untad melaksanakan pendampingan hingga petani mampu menggunakan peralatan secara mandiri.
Rostiati menegaskan bahwa tim tidak sekadar menyerahkan bantuan peralatan. Mereka terus mendampingi petani sampai mampu mengoperasikan seluruh peralatan pengolahan. Dengan demikian, kelompok tani dapat melanjutkan proses produksi tanpa bergantung pada pendamping.
Ia menilai produk kakao fermentasi memiliki prospek besar sebagai produk unggulan daerah. Selain memiliki kandungan gizi, produk tersebut berpeluang bersaing di pasar.
Karena itu, pengembangan kakao fermentasi dapat menjadi salah satu strategi meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Petani tidak lagi hanya mengandalkan penjualan komoditas dalam bentuk bahan mentah.
Mahasiswa ikut turun ke lapangan
Melansir Antara News, Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah dosen dan mahasiswa Untad secara langsung. Tim dosen terdiri atas Rostiati Dg. Rahmatu, Amalia Noviyanty, dan Hauris Patti.
Keterlibatan mahasiswa sejalan dengan gagasan Kampus Berdampak. Program tersebut mendorong perguruan tinggi menghubungkan pengalaman akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan lapangan, mahasiswa memperoleh pengalaman menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Sementara itu, petani mendapatkan pendampingan teknis untuk mengembangkan produk berbasis kakao.
Kolaborasi tersebut mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok tani dalam satu kegiatan. Ketiganya memiliki peran penting dalam memperkuat pengembangan komoditas kakao di Sulawesi Tengah.
Dengan sinergi tersebut, olahan cokelat fermentasi dari Kelompok Tani Kuda Laut diharapkan berkembang lebih jauh. Produk itu bahkan ditargetkan menjadi salah satu ikon pangan baru Sulawesi Tengah yang berdaya saing.
Jika pengolahan berjalan konsisten, nilai ekonomi kakao dapat meningkat dari tingkat petani hingga produk akhir. Selanjutnya, peluang pasar yang lebih luas dapat membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat. (P-*Ant/sm)








