PRIORITAS, 25/08/26 (Parigi Moutong): Hujan deras mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Parigi Moutong pada Senin (24/8/2026). Hujan dengan intensitas tinggi kemudian memicu banjir di Kecamatan Kasimbar. Banjir tersebut berdampak terhadap 115 kepala keluarga (KK). Selain rumah warga, air juga merendam fasilitas pendidikan dan fasilitas umum.
Pelaksana Tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong Moh Rivai menyampaikan informasi tersebut. Ia mengatakan banjir terjadi setelah sungai meluap akibat hujan deras.
"Banjir melanda Desa Kasimbar Palapi, Desa Kasimbar, Desa Kasimbar Induk dan Desa Kasimbar Selatan," kata Rivai dihubungi dari Palu, Senin.
Empat desa diterjang banjir
Banjir mulai terjadi sekitar pukul 09.00 WITA. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kecamatan Kasimbar sejak pagi. Curah hujan tinggi membuat debit sungai meningkat. Air kemudian meluap dan masuk ke permukiman warga di sejumlah desa.
Di Desa Kasimbar Palapi, banjir berdampak terhadap 33 KK. Selain itu, air merendam satu masjid, satu sekolah dasar, lapangan sepak bola, dan jalan desa.
Sementara itu, sekitar 40 KK di Desa Kasimbar turut terdampak. Banjir juga menggenangi masjid dan bangunan sekolah di wilayah tersebut.
Puluhan rumah dan sekolah terdampak
Dampak serupa terjadi di Desa Kasimbar Selatan. Sekitar 40 KK mengalami dampak banjir di wilayah tersebut. Air merendam satu sekolah di desa itu, namun, hingga laporan tersebut diterima, tidak ada warga yang memilih mengungsi.
Dengan demikian, total warga terdampak mencapai 115 KK. Warga masih bertahan di rumah masing-masing meski genangan belum sepenuhnya surut.
"Sejauh ini tidak ada warga mengungsi," ujar Rivai.
Empat hektare kebun warga terendam
Selain permukiman dan fasilitas umum, banjir juga berdampak terhadap lahan pertanian. Sekitar empat hektare kebun warga di Desa Kasimbar Palapi ikut terdampak.
Kondisi tersebut menambah dampak ekonomi akibat banjir. Warga tidak hanya menghadapi gangguan aktivitas sehari-hari. Mereka juga berpotensi mengalami kerugian dari sektor perkebunan. Karena itu, pemerintah perlu segera memastikan kondisi lahan dan tanaman setelah banjir surut.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Parigi Moutong masih melakukan kaji cepat di lapangan untuk mengumpulkan data mengenai dampak banjir dan kebutuhan warga.
Tim Reaksi Cepat masih mendata
Rivai mengatakan petugas masih melakukan asesmen di sejumlah lokasi terdampak. Data lapangan menjadi dasar pemerintah menentukan langkah penanganan berikutnya. Selain itu, pemerintah melakukan koordinasi lintas sektor. Langkah tersebut bertujuan mempercepat penanganan banjir secara terpadu.
Pemerintah juga menyiapkan langkah normalisasi sungai. Upaya itu menjadi salah satu prioritas untuk mengurangi risiko luapan air kembali.
"Tim Reaksi Cepat BPBD Parigi Moutong masih melakukan asesmen atau kaji cepat di lapangan," kata Rivai.
Pemerintah siapkan normalisasi Sungai
Menurut Rivai, pemerintah segera melakukan normalisasi sungai di lokasi terdampak. Pemerintah juga menyiapkan bantuan logistik untuk warga yang terkena dampak banjir. Untuk menangani persoalan tersebut, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu.
Koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai menjadi penting karena lembaga tersebut menangani pengelolaan sumber daya air. Wilayah kerja BWS Sulawesi III juga mencakup Kabupaten Parigi Moutong.
Pemerintah berharap penanganan tersebut dapat mengurangi genangan. Selain itu, normalisasi sungai dapat membantu meningkatkan kapasitas alur air.
Warga masih bertahan di rumah
Kondisi terakhir menunjukkan banjir masih menggenangi sejumlah permukiman warga. Meski demikian, warga terdampak memilih tetap tinggal di rumah masing-masing.
Hingga laporan terakhir, tidak ada warga yang mengungsi. Petugas tetap memantau kondisi lapangan untuk mengantisipasi perubahan situasi. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait. Langkah tersebut penting untuk memastikan kebutuhan warga segera terpenuhi.
Banjir di Kecamatan Kasimbar kembali menunjukkan pentingnya pengelolaan aliran sungai. Apalagi, hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan debit sungai dalam waktu singkat. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat mitigasi banjir di wilayah rawan. Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama.
BWS Sulawesi III Palu sebelumnya juga melakukan berbagai langkah mitigasi banjir di wilayah kerjanya. Upaya tersebut mencakup pemantauan sungai, penanganan sedimentasi, serta penguatan infrastruktur pengendali banjir. (P-*Ant/sm)








