
Saat ini beras Bulog melimpah.(Dok/kompas.com)PRIORITAS, 10/1/26 (Jakarta): Bulog optimistis Indonesia memiliki ruang untuk ekspor beras seiring penguatan stok cadangan beras pemerintah (CBP) di dalam negeri. Demikian informasi yang diterima Beritaprioritas.com, Sabtu (10/1/26)

Menurut Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, stok beras Bulog secara nasional berada pada level tinggi, yakni mencapai 3.351.900 ton, data per 8 Januari 2026.
“Kesiapan stok ini untuk menghadapi, pertama, adalah Imlek dalam waktu dekat. Kemudian menghadapi Ramadan, kemudian menghadapi Lebaran,” kata Rizal dalam konferensi pers di kantor pusat BNPB, Jakarta, Jumat (9/1/26) seperti dilansir dari CNBC Indonesia.
Dikatakan Rizal, stok tersebut masih akan bertambah signifikan pada tahun ini lantaran ada potensi hasil panen yang tinggi. Di mana Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan Bulog menyerap 4 juta ton setara beras pada tahun 2026.

“Insyaallah dengan stok ini akan terus bertambah, karena potensi hasil panen dari Kementerian Pertanian, kami Bulog ditargetkan di tahun 2026 ini targetnya serapannya adalah 4 juta ton,” terangnya.
Adanya tambahan penyerapan tersebut, total stok Bulog diproyeksikan mendekati 7 juta ton.
“Jadi kalau nambah 4 juta ton, ditambah 3 juta ton (carry over dari tahun 2025) ya hampir 7 juta ton lebih nanti stok kami,” katanya lagi.
Namun demikian, ia menegaskan prioritas utama pemerintah tetap pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Namun, peluang ekspor tetap terbuka jika stok mencukupi.
“Dengan 7 juta ton tersebut Insyaallah kita akan maksimalkan untuk dalam negeri dulu. Kemudian kalau memang nanti ada potensi ekspor, kami (mungkin akan mengirim) ke Timor Leste, atau mungkin Papua Nugini, atau bahkan ke Malaysia. Kita akan melaksanakan ekspor sesuai dengan arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) maupun Bapak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) yang juga selaku kepala Bapanas (Badan Pangan Nasional),” urainya.
Dalamhal kesiapan ekspor, Rizal menegaskan Bulog siap secara operasional.
“Kami siap dalam arti tinggal kami melihat potensi dari negara mana yang akan diekspor tersebut. Nah potensi ini kami menunggu dari informasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) karena yang bisa berkomunikasi dengan negara antar negara adalah Kementerian Perdagangan dalam hal ini,” katanya. (P-*r/am)

