PRIORITAS, 10/8/26 (Buntok, Kalteng): Pemerintah Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) terus memacu langkah strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Tak hanya fokus mengamankan keterjangkauan harga bahan pokok bagi masyarakat, Pemkab Barsel melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Disdagkop dan UKM) Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah juga sukses mendorong produk kerajinan lokal melebarkan sayap hingga ke pasar internasional.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Barsel, Harmito, saat ditemui Beritaprioritas.com di ruang kerjanya di Buntok, Senin (10/8/26).
Gebrakan pasar murah
Lebih lanjut Harminto menjelaskan, menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, pihak dinas memastikan stok bahan pokok dalam kondisi aman. Guna mengantisipasi lonjakan harga, terutama komoditas beras yang menjadi penyumbang inflasi terbesar.
Pemkab Barsel menjalin kerja sama langsung dengan Perum Bulog melalui program pasar penyeimbang. ”Setiap hari tim kami turun ke lapangan untuk memantau pergerakan harga. Melalui kolaborasi bersama Bulog, kami menyalurkan bahan pokok berkualitas langsung ke tengah masyarakat dengan harga di bawah pasaran,” ujar Harmito.
Melalui program tersebut, lanjut dia, masyarakat dapat menikmati komoditas pangan dengan harga terjangkau. Dalam pantauan, Minyakita diijual seharga Rp15.500 per liter (sesuai HET), jauh lebih murah dibanding harga pasar yang sempat menembus Rp22.000–Rp23.000.
Beras SPHP, diberikan subsidi harga menjadi Rp60.000 per 5 kg (harga pasar Rp64.000–Rp65.000). Beras Premium (Punu Kawan), ditebus dengan harga Rp80.000 per 5 kg.
Penyaluran langsung menggunakan armada operasional ini menyasar desa-desa seperti Pamangka, Kalahien, hingga Pararapak, yang disambut antusias oleh warga lokal.
Kerajinan anyaman Barsel dilirik Eropa
Harminto juga menjelaskan, sektor UMKM Barito Selatan juga menunjukkan taji yang tak kalah mengagumkan. Dari total lebih dari 11.000 UMKM yang terdaftar, produk kerajinan berbahan dasar alam seperti eceng gondok, purun, rotan, dan bamban kini menjadi komoditas unggulan bertaraf internasional.
Kepala dinas ini membeberkan bahwa kerapihan dan detail pengerjaan pengrajin lokal menjadi daya tarik utama. Bahkan, produk tas dan aneka anyaman asal Barsel sukses diekspor ke mancanegara.
”Produk kerajinan kita memiliki kualitas pengerjaan yang detail dan rapi. Pada rentang 2024–2025 lalu, karya pengrajin Barsel bahkan berhasil menembus pasar Eropa, salah satunya diekspor ke Bulgaria,” ungkap Harmito bangga.
Tak hanya itu, Pemkab Barsel saat ini tengah mendampingi proses legalitas Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bersama Kementerian Hukum dan HAM.
Langkah ini bertujuan melegalkan hak cipta produk kerajinan khas berbahan bamban dari kawasan Jenamas agar memiliki perlindungan hukum dan nilai jual yang semakin tinggi.
Rencana revitalisasi pasar
Menyinggung penataan infrastruktur niaga di tengah kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026, Harmito menegaskan bahwa pelayanan publik dan program penguatan ekonomi masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Sementara untuk perbaikan fisik pasar rakyat yang membutuhkan penganggaran besar, pihak dinas telah menyusun perencanaan matang untuk direalisasikan pada anggaran murni tahun 2027.
”Di tengah efisiensi, kita mengatur anggaran pada prioritas yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Untuk revitalisasi pasar rakyat sudah kita persiapkan matang-matang agar bisa berjalan optimal di tahun 2027 mendatang,” tutupnya. (P-Ahmad Arbani)