13 warga Australia ditangkap terlibat perdagangan seks anak di Filipina

Jeffry Wuisan
Minggu, 28 Desember 2025
3 menit membaca

PRIORITAS, 28/12/25 (Sydney): Sebanyak 13 warga Australia telah ditangkap dan didakwa atas keterlibatan dalam perdagangan seks anak di Filipina.


Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com hari Minggu (28/12/25), sebanyak 92 anak dengan usia termuda 6 tahun berhasil diselamatkan dalam operasi bersama polisi Australia dan Filipina itu.

Australian Federal Police (AFP) atau Kepolisian Federal Australia bekerja sama dengan rekan-rekan mereka di Filipina, telah melakukan 35 operasi untuk menyelidiki eksploitasi seksual anak secara daring.

Operasi penangkapan tersebut sebagai bagian dari investigasi terkoordinasi Pusat Kejahatan Internet terhadap Anak Filipina (Philippine Internet Crimes Against Children Center/PICACC).


Selain Kepolisian Filipina, juga melibatkan kolaborasi dengan lembaga penegak hukum dari Australia, Inggris, dan Belanda.

Sejak didirikan pada Februari 2019, PICACC telah melakukan 324 operasi, menghasilkan penyelamatan 865 korban dan penuntutan terhadap 187 individu.

Selain 13 warga Australia, sebanyak 18 orang yang diduga sebagai fasilitator di Filipina juga ikut ditangkap dan didakwa.

Dari 13 warga Australia yang ditangkap, termasuk seorang pria berusia 74 tahun dari Australia Barat yang dijatuhi hukuman 23 tahun penjara,  karena melakukan pelecehan seksual terhadap 15 anak di luar negeri selama sembilan tahun.

Selain dia, juga ada seorang pria berusia 52 tahun dari Victoria, yang menjalani hukuman 10 tahun 10 bulan penjara atas 27 dakwaan.

Polisi Filipina dan Polisi Federal Australia membebaskan puluhan anak yang jadi korban kejahatan seksual warga Australia di Filipina.(@noticernews)

Sangat mengerikan

Sersan Detektif AFP Leesa Alexander yang bertugas di Manila seperti laporan media 9News,  mengatakan sangat “mengerikan” betapa banyaknya warga Australia yang membantu mendorong permintaan akan pelecehan anak di Filipina.

“Pelecehan anak adalah hal yang menjijikkan dan dapat meninggalkan beban seumur hidup bagi para korban,” katanya.

Para pelaku kejahatan asal Australia diduga membayar materi pelecehan anak dari fasilitator di Filipina, yang memeras anak-anak sebagai cara untuk mendapatkan uang.

Pihak berwenang meyakini warga Australia adalah pelanggar utama, karena kesamaan zona waktu antara kedua negara, penerbangan langsung dari sebagian besar ibu kota, dan populasi berbahasa Inggris yang besar di Filipina.

Filipina juga memiliki infrastruktur internet yang sangat baik, sehingga para pelaku pidana seksual terhadap anak mudah mengekpolitasi mereka ke dunia maya.

Komandan AFP bidang Eksploitasi Manusia, Helen Schneider, mengatakan setiap tindakan daring dapat dilacak.

“Izinkan saya memperjelas, meskipun pelanggaran itu mungkin tidak terjadi di Australia, kami tetap akan menemukan Anda,” katanya.

AFP merujuk masalah ini ke Pusat Kejahatan Internet Terhadap Anak Filipina (PICACC), yang merupakan respons global terhadap pelecehan anak daring dengan bantuan dari otoritas di Australia, Inggris Raya, dan Belanda.

Kasus-kasus tersebut kemudian dialokasikan ke Kepolisian Nasional Filipina atau Biro Investigasi Nasional Filipina.

Investigasi AFP menyebabkan 77 orang di antaranya didakwa dan 315 korban diselamatkan.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan