Bamsoet tegaskan Pancasila jadi strategi hadapi tekanan geopolitik global di Universitas Pertahanan

Zamir Ambia
Rabu, 1 April 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 1/4/26 (Jakarta): Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai memanasnya geopolitik global menguji relevansi Pancasila sebagai ideologi dan arah politik luar negeri Indonesia. Dunia kini menuju tatanan multipolar dengan konflik, perang ekonomi, serta perebutan sumber daya yang berdampak pada kenaikan harga energi dan ketidakpastian ekonomi nasional.

“Pancasila harus ditempatkan sebagai kompas strategis bangsa dalam menghadapi tekanan geopolitik global. Kita tidak bisa lagi memandangnya sekadar sebagai nilai normatif, tetapi sebagai dasar pengambilan keputusan yang konkret dalam politik luar negeri dan kebijakan nasional,” ujar Bamsoet saat memberikan kuliah Pascasarjana Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan (Unhan), secara daring, di Jakarta, Rabu (1/4/26).

Ketua DPR RI ke-20 sekaligus Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI itu menyebut eskalasi konflik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berdampak langsung pada stabilitas energi dunia. Indonesia yang masih mengimpor sekitar 25 persen minyak dan 30 persen LPG dari kawasan tersebut menjadi rentan terhadap fluktuasi harga. Lonjakan harga minyak bahkan berisiko mendorong defisit anggaran melampaui batas aman tiga persen jika tidak diimbangi kebijakan fiskal yang adaptif.

“Dalam situasi seperti ini, prinsip bebas aktif harus ditafsirkan ulang secara lebih berani. Indonesia tidak boleh terjebak dalam netralitas pasif, tetapi harus aktif membangun posisi strategis yang berpihak pada kepentingan nasional,” ucap Bamsoet.

Kerentanan harga global dan komoditas

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan KADIN Indonesia itu menyatakan tekanan geopolitik turut dipicu fragmentasi ekonomi global, seperti perlambatan pertumbuhan, proteksionisme, dan pergeseran ke tatanan multipolar. Meski ekonomi Indonesia tumbuh sekitar lima persen, ketergantungan pada komoditas dan fluktuasi harga global masih menjadi kerentanan utama.

“Ketahanan ekonomi nasional tidak bisa dilepaskan dari dinamika global. Karena itu, implementasi Pancasila, khususnya sila keadilan sosial, harus diwujudkan melalui penguatan kemandirian ekonomi, hilirisasi industri, dan penguasaan teknologi strategis,” imbuh Bamsoet.

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025