Lompat ke konten
Minggu, 18 Oktober 2026
Breaking
IPTEK

Antarktika mengalami penambahan massa sebesar 690 miliar ton

Armin Mandika2 menit baca
Bagikan
antartika
Pemandangan paparan es totten di Antartika Timur.(Antara)

PRIORITAS, 22/8/26 (Qingdao): Sebagaimana data dari satelit yang memantau perubahan gravitasi bumi menunjukkan bahwa lapisan es Antarktika mengalami penambahan massa sekitar 695 miliar ton selama periode Juli 2021 hingga April 2023.

Adapun kerkembangan ini merupakan penambahan massa terbesar sejak pencatatan satelit dimulai pada 2003. Demikian diungkapkan dalam sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari China, Amerika Serikat, Jepang, Belgia dan Hongaria.

Hasil studi yang telah diterbitkan secara daring di jurnal Nature pada Rabu (19/8/26) tersebut, fenomena itu sempat menghentikan sementara tren penyusutan jangka panjang yang rata-rata mencapai sekitar 140,5 miliar ton per tahun antara 2003 hingga 2024.

"Hilangnya massa lapisan es Antarktika menjadi penyumbang utama kenaikan permukaan laut global dalam beberapa dekade terakhir, meningkatkan risiko banjir rob dan memperparah kerusakan akibat gelombang badai bagi masyarakat pesisir di seluruh dunia," kata Wang Yunhe, penulis utama studi tersebut yang juga peneliti di Institut Oseanologi, Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS).

"Hanya saja para ilmuwan tidak mengetahui alasan lapisan es tersebut memperoleh begitu banyak massa selama kurun waktu dua hingga tiga tahun," urai Wang.

Queen Mary Land

Adapun studi ini menemukan sekitar 68 persen dari peningkatan massa itu terkonsentrasi di wilayah Queen Mary Land-Wilkes Land di Antarktika Timur.

Diduga penyebab langsungnya adalah hujan salju lebat terus-menerus di wilayah tersebut. Namun, pemicu iklim yang mendasarinya berasal dari jarak ribuan kilometer jauhnya.

Selanjutnya para peneliti menelusuri asal-usul hujan salju yang tidak biasa itu hingga ke pemanasan terus-menerus di kolam hangat tropis, sebuah wilayah perairan hangat sangat luas, membentang melintasi Samudra Pasifik bagian barat dan Samudra Hindia bagian timur yang mengandung sebagian air laut terhangat di bumi.

Sejak tahun 2021 hingga 2023, pemanasan memicu gelombang berskala besar di atmosfer yang merambat sejauh ribuan kilometer menuju Antarktika.

Pola angin

Kemudian di sana, gelombang tersebut mengubah pola angin dan mengarahkan udara lembap dari wilayah lintang menengah Samudra Hindia menuju Queen Mary Land-Wilkes Land.

Sebagai dampaknya berupa hujan salju lebat terus-menerus, yang menambah massa es secara signifikan pada lapisan es tersebut.

"Namun, perlambatan sementara ini tidak membalikkan tren penyusutan jangka panjang pada massa lapisan es Antarktika, dan Antarktika Barat tetap menjadi wilayah utama yang terus mengalami penyusutan massa," ungkapnya.

"Memahami bagaimana massa es Antarktika berubah membantu para ilmuwan memproyeksikan kenaikan permukaan laut secara lebih baik. Proyeksi yang lebih andal dapat membantu masyarakat pesisir mempersiapkan diri dalam menghadapi banjir yang semakin sering terjadi dan dampak kerusakan yang lebih parah akibat gelombang badai pada rumah, jalan, dan infrastruktur lainnya," sambungnya.

"Perencanaan tersebut perlu memperhitungkan kenaikan permukaan laut jangka panjang maupun fluktuasi iklim alami jangka pendek," kunci Wang.(P-am)

 

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami