WHO mencatat lebih dari satu miliar anak muda berisiko alami gangguan kesehatan pendengaran akibat penggunaan earbuds berlebihan. (Courtesy of iStockphoto)PRIORITAS, 7/11/25 (Jakarta): Earbuds kini menjadi teman wajib bagi banyak anak muda saat mendengarkan musik, belajar daring, hingga bekerja. Perangkat kecil ini memang praktis, namun penggunaannya tanpa jeda bisa berdampak serius bagi kesehatan pendengaran.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022 mencatat lebih dari satu miliar remaja berpotensi mengalami gangguan pendengaran. Risiko meningkat bila mereka mendengarkan audio dalam volume tinggi dan durasi panjang melalui perangkat pribadi seperti earbuds.
Peneliti dari University of Michigan pada 2021 menemukan posisi earbuds yang menempel langsung pada telinga membuat suara berada sangat dekat dengan saraf pendengaran. Tekanan suara yang tinggi ini dapat memengaruhi koklea serta sel rambut di dalam telinga.
Banyak anak muda mengenakan earbuds saat perjalanan, bekerja, hingga menjelang tidur. Kebiasaan ini membuat telinga terus terpapar suara dan tidak sempat beristirahat, meski tubuh sudah lelah.
Temuan dari National Acoustic Laboratories Australia tahun 2020 menunjukkan paparan suara keras secara berulang bisa menurunkan sensitivitas telinga secara perlahan. Masalah pendengaran sering muncul tanpa gejala pada awalnya, sehingga sulit terdeteksi.
Para ahli menyarankan batas aman volume di bawah 60 persen serta jeda penggunaan minimal 10 menit setiap satu jam. Mengganti earbuds dengan speaker sesekali juga membantu telinga untuk beristirahat.
Kesadaran menjaga kesehatan pendengaran sejak usia muda menjadi penting di tengah tren penggunaan perangkat audio pribadi. Kebiasaan sederhana hari ini dapat menentukan kondisi telinga di masa depan. (P-Khalied M)
No Comments